
...💖💖💖...
Naira tercengang setelah mendengar penjelasan kondisi Ratna saat ini, "Hamil?"
"Tapi kan Ratna belum nikah, tan." Ucap Serli.
Naira menatap wajah keriput yang tengah menutupi mulutnya dengan tangannya, menahan suara tangis nya.
Apa mungkin Ratna hamil sama pria itu ya? Yang pernah gw lihat di mall!
"Ratna memang belum menikah, apa yang Ratna alami ini karena pergaulannya yang bebas, gaya hidupnya yang mewah, bahkan Ratna sampai mengambil jalur mudah, dengan menjadi wanita simpanan seorang pria yang tante sendiri tidak tahu siapa orangnya." Ujar nya.
Serli geleng geleng kepala, "Gw gak nyangka Nai, ternyata selama ini. Ratna meneriaki dirinya sendiri."
Ibunya Ratna mengerutkan keningnya, "Hah? Maksudnya apa, nak?" Tanya ibunya Ratna.
"Selama ini di sekolah, Ratna selalu mengatakan jika Naira, sahabat saya ini. Seorang pecunnn, simpanan pria berduit lah, tapi ternyata malah dia sendiri yang menjadi cewek gak bener." Sarkas Serli dengan menatap rendah Ratna, kalo Novi tau, Novi pasti bakal tepuk tangan buat akting lo yang sempurna Ratna!
"Jangan gitu, Serli!" Naira menggenggeng pergelangan tangan Serli, memintanya untuk diam.
Ibunya Ratna berjalan menghampiri Naira, tangannya terulur memeluk tubuh Naira.
"Tolong ya nak, tolong maafin Ratna, maafin atas segala ke salahan Ratna pada kamu nak. Mungkin ini yang membuat Ratna sulit untuk menemui ajalnya."
Naira mengelusss punggung ibunya Ratna, memberikannya kekuatan untuk wanita paruh baya itu.
"Aku udah maafin Ratna ko, tan. Jauh sebelum tante minta. Saat ini kita cuma bisa do'ain Ratna, biar Ratna bisa cepat melewati masa kritisnya tan. Tante yang tabah ya!" Seru Naira.
Pram duduk di luar, di kursi stainless yang terdapat di luar ruang rawat Ratna.
Novi yang baru saja kembali dari toilet pun melihatnya.
"Pak Pram gak ikut masuk ke dalam?" Tanya Novi dengan mendudukan dirinya di kursi stainless yang ada di sebrangnya.
"Kau sendiri, kenapa tidak masuk ke dalam?" Tanya Pram dingin dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.
"Ihs gw kan udh bilang pak, males kalo berurusan dengan itu bocah! Udah gak mau lagi gw berurusan dengan itu anak!" Kilah Novi.
Dreeet dreeet dreeet.
__ADS_1
Hape Pram yang ada di dalam saku celananya bergetar.
Pram menjawab panggilan teleponnya, mengabaikan ke beradaan Novi yang terus menatapnya curiga. Selama Pram menjawab panggilan teleponnya.
[ "Kami berhasil bos, menemukan pria itu dan sekarang pria itu ada di markas." ] Ucap Dega dari sebrang sana.
"Kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan?" Ucap Pram dingin dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, namun tangannya mengepalll menunjukkan seberapa besar marahnya Pram.
[ "Baik bos, emm tapi bos... apa bos ingin kami yang melakukan eksekusi terhadapnya? Atau bos yang akan melakukannya sendiri?" ]
Pram mengerutkan keningnya, seolah dirinya tengah berfikir. Akan ke putusan apa yang akan selanjut nya ia ambil.
Aku ingin tahu apa alasannya menyekap Naira dulu, apa yang membuatnya terus membentak Naira hingga berakhir dengan trauma pada Naira.
"Biar aku saja, kalian hanya perlu mengulur waktu, dengan sedikit memberikan kejutan padanya." Ucap Pram dengan menyeringai yang justru membuat Novi bergidik ngeri melihatnya.
Novi membatin, astaga pak Pram... kalo lagi menyeringai gitu, udah kaya manusia bercula iblisss, seremmm bener.
Pram menatap tajam saat mendengar suara batin Novi.
"Mampusss gw, pura pura gak liet dah!" Novi memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Apa yang kau dengar?" Suara Pram yang berat mengagetkan Novi.
Novi menatap sekilas wajah Pram, dengan tangannya yang meremasss roknya sendiri, "Denger apa? Kaga denger apa apa!" Kilah Novi.
Ceklek.
Pram dan Novi menatap ke arah pintu ruang rawat yang terbuka.
Pram beranjak dan melingkarkan satu tangannya di pinggang Naira dengan posesifnya.
"Apa yang terjadi di dalam? Apa Ratna menyakiti mu?" Tanya Pram dengan mengangkat dagu Naira, hingga matanya yang tajam dapat menatap sepasang mata indah yang di miliki Naira.
Naira melingkarkan ke dua tangannya pada Pram, "Mana bisa orang yang lagi kritis nyakitin orang yang lagi sadar, ka Pram mah ngada ngada aja!" Gerutu Naira.
"Lantas apa yang membuat mu sedih?" Tanya Pram dengan lembut.
Serli menghembuskan nafasnya dengan kasarrr, "Beruntungnya nasib lo Nai, beda sama Ratna yang dung. Tapi gak ada yang mau tanggung jawab. Ya sekarang begini ujungnya." Celetuk Serli yang kini di hampir oleh Novi.
__ADS_1
"Maksud lo apaan si, Ser?" Tanya Novi yang tidak tahu maksud omongan Serli.
"Nanti saja ceritanya, sekarang kita kembali ke mobil. Biar aku antar kalian pulang." Oceh Pram datar dengan menggenggem jemari Naira.
Di dalam perjalanan menuju rumah Serli, Serli pun mencerita kan apa yang terjadi pada Ratna. Bukannya mengiba, Novi malah bertepuk tangan.
Prok prok prok.
"Sukurin tuh, akhirnya tuh anak kena batunya juga kan!" Sungut Novi dengan polosnya.
"Novi! Jangan gitu lah, kita tuh harusnya do'ain Ratna. Lo gak liet aja tadi ibunya Ratna kaya gimana. Di tambah lagi kondisi Ratna yang bener benar memperihatinkan. Pasti lo juga bakal kasian ngeliet apa yang menimpa Ratna." Ujar Naira dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Ah lo Nai, gak habis fikir gw sama lo. Masih aja baik ama itu Ratna. Kalo inget kelakuan nya sama lo, uuuuh udah pengen gw unyeng unyeng itu kepalanya, kesel gw!" Sungut Novi dengan wajahnya yang gemas menunjukkan kepalan tangannya.
"Dasar bar bar lo! Mana ada cowo yang mau sama lo, kalo ngeliet kelakuan lo yang kaya gini, Novi!" Ledek Serli.
"Dih lo gak tau aja, biar kelakuan gw bar bar, tapi gw bisa dong memikat hati pria dewasa, hahaha." Kekeh Novi, gak tau aja lo Ser, gw udah jadian sama paman Haikal.
Pram menyeringai, dengan matanya yang mendelik pada Novi lewat kaca spion mobil.
"Pantas saja, kinerja Haikal beberapa hari inu jadi menurun, rupanya karena perhatiannya sedang terpecah oleh mu?"
"Wah jangan gitu dong, pak! Masa gara gara paman Haikal dekat dengan gw, kinerjanya jadi menurun." Celetuk Novi yang tidak terima dengan perkataan Pram.
"Waaah kalo lo jadian sama paman Haikal, bisa kali kita dapet teraktiran." Sindir Serli dengan menepuk bahu Naira, meminta Naira untuk sependapat dengan nya.
"Iya tuh, bener apa kata Serli." Ujar Naira dengan menoleh ke arah Novi.
Kruk kruk kruk.
"Perut siapa tuh bunyi?" Tanya Naira dengan menatap Pram dan yang lainnya bergantian.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊