
...🌷🌷🌷...
Maaf ya ada perubahan dalam tulisan di bab ini 😊😊
Ting.
Pintu lift terbuka dengan sendirinya.
Pram dan Dev berjalan dengan langkah lebar melewati ruang yang luas yang nanti nya akan di jadikan lobby utama hotel dengan beberapa resepsionis yang akan berjaga di balik meja panjang untuk memudah kan para pengunjung hotel di tambah lagi dengan keberadaan porter yang akan mengantar dan membawakan tas pengunjung yang akan menginap / menyewa kamar hotel.
Di dalam mobil.
Pram menempelkan ponselnya ke telinga, "Datang ke Hotel Start, sebelum aku tiba di sana, kau harus lebih dulu berada di sana."
Dev hanya berdecak mendengar ucapan bos nya yang berbicara dengan seseorang di telpon.
Pasti dia lagi. batin Dev.
"Kita ke hotel start, sekarang." perintah Pram sambil menyimpan kembali ponsel nya ke saku jas nya.
"Baik, tuan."
Selama dalam perjalanan menuju hoter start, mobil tampak sunyi, Dev fokus pada jalan sedang kan Pram melanjutkan pekerjaannya melalui laptop yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Sampai di parkiran hotel, Dev langsung membuka kan pintu untuk Pram.
"Kau langsung lah pulang, malam ini aku akan menginap di sini." ujar Pram.
"Besok saya jemput anda di sini, pak?"
"Iya lah di sini, kau mau menyuruh ku naik taksi untuk sampai di kantor?"
"Tidak, pak.. hanya sekedar bertanya." Pram langsung pergi meninggalkan Dev.
Dev kembali masuk ke dalam mobil.
Di balik kemudi Dev ngedumel, Dasar bos sinting, habis membuat orang cacat, sekarang tanpa rasa bersalah akan menghabiskan malam dengan jalanggg itu. Tapi aku heran juga sih, bos sudah tahu dia itu jalanggg kenapa di pertahankan... Kapan kau akan berubah bos, aku harap kau segera menemukan wanita baik baik yang akan membawa mu ke jalan yang benar pak.
Dev membawa mobil Pram melaju meninggalkan hotel start, kembali ke rumah berkumpul dengan anak dan istri nya.
__ADS_1
Saat Pram akan melewati meja resepsionis.
Reina salah satu pegawai yang bertugas di meja resepsionis menghampiri Pram.
"Pak, Pram."
Pram menghentikan langkahnya, "Ada apa?" Pram mengerutkan kening, berani sekali Reina menghentikan langkah ku, awas saja jika tidak ada yang penting, ku potong gaji nya! batin Pram.
"Nona Karin sudah menunggu anda di atas." ujar nya dengan menatap lekat wajah tampan bos dinginnya, astaga pak Pram keren banget kalo di liet dari deket kaya gini.
"Ada lagi yang ingin kau sampai kan?"
"Tidak ada, pak." ujarnya dengan menyisipkan anak rambut ke telinganya.
Pram menyuruh Reina melangkah mendekat dengan jari telunjuk kanannya, saat Reina sudah melangkah kan kakinya, "Kerja yang benar, jika tidak ingin aku potong gaji mu 50 persen!"
Pram melengos meninggal kan Reina, sedang kan Reina menganga tidak percaya mendengar apa yang di kata kan bos dingin nya.
Dasarrr bos gila, gw kira mau ngomong apa, ternyata cuma nyuruh gw buat kerja yang bener pake ngancem potong gaji 50 persen lagi, sialll banget ini gw.. niet hati pengen di lirik malah terancam potong gaji. Reina membatin menatap punggu Pram yang semakin menjauh dari jangkauan nya.
Reina menarik nafas dalam lalu membuangnya. Melangkah kembali ke meja resepsionis tempat ia bertugass.
"Gak apa, tadi pak Pram cuma bilang rambut gw wangi." ucap Reina asal, cari aman dari pada Debi menjadikan nya bahan candaan, pikiran Reina yang selalu negatif dengan Debi.
"Oooh." Debi hanya ber oh ria, tidak ambil pusing.
Dengan yakin Pram membuka pintu kamar hotel yang di yakininya tidak terkunci.
Klek.
Pintu kamar hotel terbuka.
Pram menghampiri Karin yang sedang duduk di sofa dengan beberapa botol bir, 2 gelas kosong dan beberapa cemilan di atas meja.
"Kenapa kau lama sekali, Pram?" Karin berdiri saat Pram sudah berada di dekatnya, membantu Pram membuka jas yang ia kenakan lalu melemparkannya ke segala arah.
"Tidak lama, hanya telat beberapa menit!" Pram menyandar kan punggung nya ke sofa dengan merentangkan ke dua tangan nya.
"Kau pasti lelah kan!" Karin membuka tutup botol bir lalu menuang kan isi nya ke dalam gelas.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu? sudah pasti aku lelah, honey." Pram meminum bir dari gelas yang di sodorkan Karin pada nya.
Karin berdiri, kedua tangannya menyentuh pundak Pram, memberikan pria itu pijatan, "Kalo gitu, biar kan aku memiijat diri mu." ucap Karin dengan suara yang mendayu dayu.
"Tau saja tugas mu!" Pram memejam kan ke dua matanya merasakan sensasi jemari Karin yang memijat kedua pundak nya.
"Tau dong, oh ya Pram... kapan kau akan melamar ku?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? apa masih kurang dengan apa yang kau terima selama ini?" Pram berdiri melangkah kan kaki nya ke meja yang ada di dekat pintu.
Prak.
Pram melempar map coklat di atas meja.
"Maaf Pram, bukan maksud ku."
"Buka dan pahami kembali isi nya!" Pram masuk ke dalam kamar mandi mengguyur tubuh nya dengan air shower.
Cekrek.
Karin memeluk tubuh Pram yang berbalut handuk menutupi pinggang sampai batas lutut, "Aku tidak akan menanyakan nya lagi, Pram." ucap Karin.
Pram melerai pelukan Karin, menggendong nya memasuki kamar lalu membaringkan nya di atas tempat tidur.
"Kau sudah tidak marah lagi pada ku?" tanya Karin.
Pram menyodorkan sebutir pil pada Karin, ia juga mengenakan pengaman pada adik kecil nya.
Karin sadar dengan posisi nya yang membutuhkan Pram untuk bisa bertahan di dunia model nya, ia pun meminum pil itu dan melayani Pram.
Terjadi lah malam yang panas untuk ke dua nya di tengah AC yang menyala seakan tidak menyurutkan api semangat yang ada pada Pram untuk menyentuh Karin.
Bersambung....
...💖💖💖💖💖...
Yuk dukung karya author, like dan komen 😊
No julid 😀
__ADS_1