Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tanpa berkata kasar


__ADS_3

...💖💖💖...


"Astaga, lucu sekali! Manis, imut, cantik lagi!" seru Naira yang tanpa sadar kini beranjak dan melangkah kan maju ke arah pintu.


"Kau tidak salah? Membawa serta putri mu ke rumah sakit?" tanya Pram pada Dev.


"Kan memang saat saya menghubungi Sisil, putri ku dan baby sitter selalu bersama dengan nya." ujar Dev.


"Boleh aku menggendongnya, ka?" Naira meminta izin terlebih dahulu pada wanita yang sedang menggendong balitanya.


Hatinya tergerak ingin menggendong balita mungil yang ada dalam gendongan Sesil.


"Tentu saja, putri ku juga sepertinya menyukai mu!" Sesil menyerahkan putrinya untuk di gendong Naira, tampak balita dua tahun itu menggerak gerakan ke dua tangan nya. Seolah tidak sabar ingin berada dalam gendongan Naira.


"Tuan, cepat lah buat Nona hamil... sepertinya Nona sudah tidak sabar ingin memiliki seorang bayi!" ucap Dev dengan pelan, saat melihat putrinya yang ada dalam gendong Naira tertawa senang.


"Tidak perlu kau katakan, aku sudah melakukan nya, kau lihat saja nanti hasilnya!" aku ingin punya anak kembar, biar Naira tidak ke sepian saat berada di rumah, langsung mengurus dua orang bayi dengan bantuan baby sister, tidak terbayang betapa bahagianya hati ku saat kembali ke rumah, di sambut hangat putra putri mungil ku, buah cinta ku dengan Naira.


Tanpa Pram sadari, Naira terus mengoceh mengajak main Desi, sesekali memperlihatkan wajah menggemaskan Desi pada Pram. Membuat Sesil dan Dev yang melihatnya ikut senang.


"Aku rasa, kau sudah pantas untuk menjadi seorang ibu. Meski usia mu masih muda, tapi jiwa keibuan mu sudah ada." tutur Sesil dengan melangkah menghampiri ranjang rawat suaminya.


"Ah kaka bisa aja, aku suka anak kecil... dulu aku ikut mengasuh adik kecil ku saat di Bandung. Tapi sekarang tubuh adik ku, sudah jauh lebih besar dari ku saat ini." cicit Naira, yang terus mengajak main anaknya Dev dengan Sesil.


"Aku dengar dari Dev, kalian sedang mempersiapkan pesta pernikahan?" ucap Sesil.


"Oh kalo itu semua rencana ka Pram, ka. Bukan begitu ka Pram?" Naira mengerutkan keningnya, menatap Pram yang malah asik senyum senyum sendiri. Tidak menghiraukan pertanyaannya.


"Ka Pram! Kau melamun?" tanya Naira dengan ketus.


Pram menjawab pertanyaan Naira dengan gelagepan, "Ah? Apa? Tadi kau bilang apa, sayang?"


"Tidak jadi!" cicit Naira.


Pram menoleh ke arah Sesil dan Dev, bertanya lewat tatapan mata nya.


"Maaf Tuan, Tuan bisa tanyakan sendiri pada Nona Muda!" ucap Dev.


"Saya juga tidak berani menjawab Tuan, Tuan tanyakan saja pada Nona!" ucap Sesil dengan tangan nya yang mengupas kulit jeruk.


"Jika Nona sudah merasa lelah, lebih baik Desi di berikan pada susternya!" cicit Sesil.


Setelah setengah jam lamanya di rumah sakit, Pram memutuskan kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Dengan Haikal yang kini mengemudi untuknya dan Naira.


Di dalam mobil, terjadi lagi perdebatan kecil antara Naira dan Pram, yang berujung ciuman panas di antara ke duanya. Membuat Haikal harus menyumpal lubang telinganya dengan henset. Haikal juga sudah siap, untuk mengaktif kan fasilitas terbaru dari mobil yang kini sedang di kendarainya.

__ADS_1


"Kaka sudah dengar sendiri kan tadi apa kata dokter Samuel." ucap Naira yang kini bersandar pada Pram di dalam mobil.


"Iya aku tahu." ucap Pram dengan malas.


"Tapi kaka tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, jika memang yang di atas saja sudah memberi kan kepercayaan pada kita untuk memilikinya, pasti akan terjadi." terang Naira dengan mengelusss lengan Pram.


"Aku setuju dengan keputusan mu yang satu ini. Untuk masalah resepsi pernikahan kita, aku harus meminta bantuan Sesil untuk mengurusnya. Kau tidak keberatan kan, sayang?" tanya Pram dengan menarik tubuh Naira dan mendudukkan nya pada pangkuan Pram, mereka berdua saling berhadapan.


"Aku tidak ke beratan kalo masalah itu, tapi apa kita tidak akan merepotkan ka Sesil? Ia pasti kan repot mengurus pak Dev."


Pram menatap Naira penuh selidik, dengan ke dua tangan yang merekat pada pinggang Naira.


"Sebenarnya kau itu perduli pada pesta pernikahan kita atau pada Dev? Kau tidak sedang menyembunyi kan perasaan suka mu pada Dev, kan? Atau kau sangat ingin pesta pernikahan kita ini di undur, hem!" tuduh Pram dengan kadar cemburu yang meninggi.


Naira memainkan jemarinya, mengelusss dan bergerak di atas dada Pram yang bidang, di tambah dengan suaranya yang mendayu dayu untuk membujuk Pram, rubahhh mesummm nya tengah di landa cemburu.


"Kaka jangan mikir ke arah itu! Aku hanya takut ka Sesil di buat pusing dengan rencana pesta pernikahan kita! Apa tidak sebaik nya kita yang mengurusnya untuk pesta pernikahan kita ini? Kan yang mau menikah itu ka Pram dan aku! Salah deh, yang mengadakan acaranya kan aku dan ka Pram! Itu kan jauh lebih indah ka, momen untuk ku dan kaka seumur hidup lo! Kita berdua aja yuk yang mengurusnya!"


"Kenapa tidak bilang, jika kau ingin kita yang mengurusnya?" Pram mulai membalas sentuhan yang Naira berikan padanya, dengan tangan kirinya menahan tengkuk Naira, dan mendaratkan bibirnya di bibir ranum Naira.


Pram melumattt bibir Naira dengan rakusnya, tangan kanannya bergerak liar di dada Naira meremasss gundukan kembarnya, dengan perlahan membuka kancing baju yang menghalangi tangannya, untuk menyentuh secara langsung gundukan kembar yang menjadi candu untuknya.


Pram menyesappp lidah Naira, memilinnn nya, tangan Naira menahan tangan kanan Pram yang hendak membuka kancing bajunya.


Lewat tatapan mata Pram yang tajam, Haikal langsung menekan tombol dan mengaktifkan fasilitas terbaru dari mobil Pram yang satu ini.


Dengan gerakan cepat dan hati hati, Pram membaringkan Naira di atas kursi mobil tanpa melepaskan pagutannn nya.


Naira melirikkan ekor matanya, seketika ia membola, melihat ada pembatas yang membentang ke luar dari kursi depan.


"Tidak akan ada lagi yang bisa menghalangin ku, untuk bisa menyentuh mu, sayang!" ucap Pram dengan menyusuri leher jenjang Naira, memberikan gigitan gigitan kecil dengan meninggalkan tanpa kepemilikan di sana.


"Kaka sudah emmmmhhh mengatur ini semua? Pasti eeemmmhh biayanya sangat mahal!" ucap Naira dengan sesekali mendesahhh.


"Uang tidak menjadi masalah untuk ku! Asal ada kau, yang akan selalu bersama dengan ku! Tempat ku untuk membuang benih dalam rahim mu!" tutur Pram yang kini sudah menyingkap dress yang Naira kenakan.


"Ihhhsss ka Pram! Aaaggghhhh" Naira mengerang nikmat bercampur perih, saat senjata Pram menusukkk masuk ke dalam miliknya yang kini menikmati permainan Pram, saat Pram mengayunkan pinggulnya, membiarkan senjatanya bermain main di dalam sana.


Pram menikmati wajah Naira, yang tampak frustasi menikmati permainan yang Pram lakukan padanya, Naira menggelenjinggg saat merasakan ada semburan larva hangat yang ke luar di dalam sana.


"Ayo, terus ke luarkan suara mu, sayang! Aku suka itu!" kau benar benar membakar hasrat ku Naira!


"Eeehhhhh kaaaa, uuuuuuhhh eemmmhhh sudah!" racau Naira dengan menggigit bibirnya, menahan suaranya yang terdengar seksiii dan menggoda di telinga Pram.


"Belum sayang! Ayo ke luakan milik mu!" ucap Pram saat merasakan senjatanya kini di basahi dengan cairan hangat milik Naira.

__ADS_1


Pram mencondongkan tubuhnya, menyesappp si kembar secara berangantian, dengan lihainya lidahnya memainkan puncak kembarnya, menyesappp, memilinnn, menggigit dan sesekali menariknya, membuat Naira membusung untuk mengimbangi Pram.


Jika aku sudah memiliki bayi, aku juga akan berpuasa untuk menyentuh dan menikmati mu, belum kau ada di dunia, aku sudah memikirkan kalian, calon dady yang hebat kan aku ini! Kalian pasti akan merasa bangga, memiliki dady seperti ku!


Sudah beberapa kali Haikal memutari area hotel, namun belum ada tanda tanda Pram akan menyudahi permainannya.


"Mau berapa kali lagi aku harus memutari hotel ini? Tuan, cepat lah selesaikan urusan surga dunia anda!" gumam Haikal dengan melirikkan matanya pada kaca spion mobil, berharap ada tanda tanda pembatas itu akan kembali seperti sedia kala.


🌷🌷🌷


Ke esokan harinya, Pram memenuhi permintaan Naira, untuk bertemu dengan wedding organizer yang sudah di tunjuk Dev.


Ke dua belah pihak, sepakat untuk bertemu di restoran yang ada di Hotel pelangi milik Pram.


Sebagai gantinya, Naira akan menjadi sekretaris pribadi untuk Pram, selama Dev dalam masa penyembuhan.


Dalam ruang meeting Pram tampak bersikap manis, tanpa berkata kasar, tidak ada tindakan kejam meski anak buahnya sudah melakukan ke salahan, Pram hanya memberikan teguran dan potong gaji, sebagai pelajaran sekaligus sangsi. Agar bawahannya tidak mengulangi ke salahannya kembali.


"Meeting kali ini saya akhiri!" ucap Pram dengan tegas.


Semua kepala devisi yang hadir menunduk hormat pada Pram dan Naira.


Dimas mengelusss dada, membuang nafas dengan lega setelah ia ke luar dari ruang meeting bersama dengan kepala devisi lainnya.


"Beruntung sekali kau, Dimas... jika saja yang berada dengan pak Pram adalah pak Dev, sudah habis kau di tendang dari hotel ini!" ucap Rita, kepala devisi lain.


"Iya itu benar, bersyukur ya kita selama ada bu Naira yang mendampingi pak Pram." ucap Ratih.


"Aku dengar, bu Naira menjadi sekretaris pak Pram hanya selama pak Dev sakit saja!" ucap Dimas.


"Intinya kita masih beruntung dan harus bersyukur, pak Dev sakit... hilang lah sudah bos kita yang kejammm dan bengis itu!" ucap Rita.


"Ayo ka, mereka pasti sudah menunggu kita di restoran." Naira beranjak bersama dengan Pram, ke luar dari ruang meeting dengan bergandengan tangan.


Sepasang mata elang Pram menatap tajam, pada ke tiga kepala devisi yang ke dapatan masih berdiri di depan ruang meeting.


"Kalian sedang apa di sini? Bukannya kembali ke ruang kerja masing masing, malah kalian asik bergosip di sini!" suara bariton Pram terdengar dari belakang ke tiganya.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia 😉

__ADS_1


__ADS_2