
...πππ...
"Kita kan satu keluarga kedei start, masa iya gw gak perduli sama lo, Sa." Ujar Naira yang ikut merangkul Elsa memberikan usapannn pada punggungnya yang bergetar.
"Saya juga tidak keberatan Nona jika di rangkul!" Seru Dega.
"Boleh, resiko tanggung sendiri nanti ya sama ka Pram hehehe!" Naira terkekeh.
"Ihs, saya masih ingin hidup lebih lama lagi Nona." Ujar Dega.
Kini Elsa, Novi dan Naira duduk kembali di kursinya, pikiran mereka melayang layang entah ke mana.
"Bang Deg, mereka itu siapa ya? Kenapa mereka menyerang ku?" Tanya Naira pada Dega.
Dega melayangkan protes pada Naira,"Ya elah Nona, manggilnya yang lengkap napa, Dega, D E G A jadilah Dega."
"Ihs kan unik tau bang, bang Deg!" Ledek Naira.
"Ahahaha tau kaga Nai, bisa juga tuh suara degupan jantung, deg deg deg deg deg deg... iya kan?" Novi terkekeh geli dengan wajah merah karena tertawa.
Dega melirik Novi dari kaca spion mobil dengan mata yang menyipit, pasti Nona ini yang kemarin sudah membuat Haikal di ambang kesal. Dega menarik sudut bibirnya ke atas.
"Tertawa lah jika anda masih punya kesempatan untuk tertawa, Nona!" Seru Dega dengan nada dingin.
"Yeee lo paman, ngiri ya? Kali mau tawa, tawa aja... gak ada yang larang ko!" Ledek Novi.
Naira geleng geleng kepala, "Kemaren bang Haikal lawan bacott lo, sekarang lo mau lawan bang Dega juga? Awas lo terjebat dua hati, baru tau rasa." Oceh Naira yang lantas melihat ke arah jalan.
Novi mengerutkan keningnya, "Apaan itu Nai, terjebak dua hati? Baru denger gw." Ujar Novi.
"Lo pikir sendiri aja, Nov."
Mobil memasuki pelataran parkir, pak Dedi membukakan pintu mobil untuk Naira.
Elsa dan Novi, Dega ke luar dari dalam mobil.
"Ini rumah siapa, Nai?" Tanya Elsa yang tampak takjub melihat rumah besar minimalis membentang di hadapannya.
"Ini namanya kediaman Pramana!" Seru Novi.
"Ayo Sa, masuk!" Naira mengajak Elsa untuk masuk ke dalam.
Kaki Naira melangkah dengan di ikuti pak Dedi dari belakang, Elsa melangkah dengan perlahan memperhatikan setiap sudut ruang yang tampak megah dengan barang barang yang mewah.
"Gw gak lo ajak masuk, Nai?" Tanya Novi yang masih terpaku di tempatnya.
Dega mengejek Novi, "Anda tidak perlu masuk ke dalam Nona, anda cukup langsung ke belakang dan bersihkan kolam kolam renang."
__ADS_1
Novi geram dengan ucapan Dega, ke dua tangannya gemas ingin mencangkram wajah Dega, "Muka Lo yang bakal gw bersihin paman!" Seru Novi dengan tangannya yang gemas di depan wajah Dega.
Naira menoleh ke arah Novi, "Udah ayo masuk, Nov! Lo gak laper apa!" Seru Naira yang berhasil membuat Novi ikut masuk ke dalam rumah.
"Biar saya bawakan Nona tas anda!" Seru pak Dedi.
"Gak usah pak, gak ada ka Pram juga kan?" Naira melarang pak Dedi untuk membawakan tas sekolahnya.
"Baiklah.
"Pak, kita mau langsung makan aja ya, ada kan?" Tanya Naira pada pak Dedi.
"Pasti ada Nona, biar saya suruh koki untuk menyiapkannya." Pak Dedi langsung menuju kitchen.
"Ayo Sa, jangan sungkan... kita besih bersih dulu ya abis itu baru makan." Ujar Naira yang duduk di tepian ranjang.
"Tapi gw gak bawa baju ganti, Nai" Elsa mendudukkan dirinya di samping Naira dengan wajah bingung.
"Udah di siapin noh bajunya, lo tenang aja Sa kalo di sini mah!" Novi membuka salah satu pintu lemari yang terdapat di kamar itu dan menampilkan banyak pakaian di dalamnya.
Elsa melangkah ke arah lemari itu.
"Wiih gilaaa Nai, ini buat di pake apa buat di jual?" Elsa mengeluarkan satu dress dari dalam lemari itu dan menempelkannya pada tubuhnya.
Pintu di ketuk dari luar.
"Buat di pake, di bawa pulang juga gak apa ko." Naira beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
Ceklek.
Tampak Amarta berdiri di depan pintu kamar dengan pakaian perawatnya.
"Maaf Nona mengganggu waktu anda istirahat, tapi sudah waktunya untuk mengganti gips pada kaki anda!" Seru Amarta.
"Oh ya udah, tunggu dulu ka." Naira memalingkan tubuhnya dan menyerukan nama Novi dan Elsa.
"Novi, Elsa!" Seru Naira memanggil ke duanya.
"Kenapa, Nai?" Tanya Novi.
"Gw tinggal dulu ya! Nanti kalo ada perlu apa apa, panggil pak Dedi aja." Ujar Naira.
"Lo mau ke mana, Nai?" Tanya Elsa yang kini menghampiri Naira.
"Mau ganti gips dulu." Terang Naira.
"Bukannya harus ke rumah sakit terus ketemu dokter ya buat ganti gips?" Tanya Elsa.
__ADS_1
"Hehehe, Sa... Nai mah udah gak pake ke dokter lagi, noh lo liet dah ke depan pintu." Novi menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah pintu yang sedang berdiri ka Amarta lengkap dengan pakaian perawat.
"Perawat sama alat medis udah lengkap di rumah, cuma buat Nona Muda Naira." Terang Novi.
Elsa di buat terperangah, "Serius lo?" Tanya Elsa.
"Dalam mimpi, ya serius lah." Novi menghilang di balik salah satu pintu dengan membawa baju ganti dari dalam lemari.
Tangan Naira menepuk lengan Elsa, "Udah gak usah kaget gitu, lo kalo mau mandi, di pintu yang Novi masukin tadi ya!"
Elsa menganggukkan kepalanya mengerti, pak Pram punya duit sebanyak ini kerja apaan ya? duitnya gak abis abis apa ya?
πDi tempat lainπ
Aji yang sedang memimpin rapat tampak gusar saat orang orang yang di sewanya belum juga memberikan kabar padanya.
Kenapa mereka belum juga memberi ku kabar? Kamana mereka ini!
"Jadi bagaimana menurut anda, pak?" Tanya seorang pria yang tengah berdiri memberikan presentasi.
"Lanjutkan saja!" Jawaban asal pun di berikan Aji.
Sementara peserta rapat lainnya mulai gaduh.
"Bagai mana ini? Saya tidak mau jika tidak ada kemajuan."
"Bagai mana bisa perusahaan tidak mengeluarkan prodak baru?"
"Ah bagai mana ini pemimpinnya!"
Para peserta rapat tidak setuju dengan langkah yang di ambil Aji. Satu persatu dari mereka mengacungkan tangan.
"Maaf, pak... saya tidak bisa melanjutkan kerja sama ini." Setelah mengutarakan isi hatinya, pria itu langsung beranjak meninggalkan ruang rapat.
Seorang wanita cantik beranjak dari kursinya, "Saya juga tidak setuju, saya mundur dan menarik saham dari perusahaan yang bapak pimpin." Wanita itu langsung ke luar menyusul rekannya yang memilih meninggalkan ruang rapar.
Di susul dengan beberapa peserta rapat lainnya, satu persatu dari mereka meninggalkan ruang rapat, Aji terperangah mendapati relasi bisnisnya meninggalkan ruang rapat.
"Bagai mana ini bisa terjadi?" Aji bertanya pada sekretaris pribadi yang berdiri di samping nya.
Aji menggaruk kepalanya frustasi, "Memang ada yang salah dengan keputusan ku?" Tanya Aji lagi.
...πππππ...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π
__ADS_1