Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Hidup dan jiwa ku


__ADS_3

...💖💖💖...


Noer mengerutkan keningnya, sialll... dari mana bocah ini tahu jika aku menyukai Pramana. Bahkan aku sudah lama mengejar nya, namun selalu di abaikan oleh Pramana! Masa aku kalah dengan bocah ingusan! Yang benar saja!


Naira tersenyum manis menatap Noer, "Gak usah banyak mikir, tan. Nanti cepet keriputan lo!"


Pram menyunggingkan senyum mendengar ucapan Naira untuk Noer, anak ini, cepat sekali belajarnya!


"Kau! Jangan sembarangan kalo bicara!" kilah Noer.


"Apa waktu mu begitu senggang, sampai harus menemani kami makan siang?" tanya Pram.


"Ihss kau ini, kita sudah lama tidak bertemu... apa begini cara mu bicara dengan ku?"


Seorang pelayan wanita kembali dengan mendorong trolly makanan, menyingkirkan piring kosong yang ada di atas meja, menggantinya dengan mangkuk ice krim untuk Naira dan beberapa hidangan penutup di atas meja.


"Sepertinya ini sangat lezat." gumam Naira dengan tangannya yang meraih sendok ice krim dan memasukkan nya je dalam mulutnya.


"Bagai mana, enakkan rasanya?" tanya Noer saat melihat reaksi Naira yang memejamkan ke dua matanya, menikmati enaknya ice krim yang ada di dalam mulutnya.


Naira mengabaikan pertanyaan Noer, "Coba ini ka!" Naira mengarah kan sendok ice krim ke mulut Pram.


"Bagai mana, Pramana?" kini Noer menatap penuh tanda tanya Pram, dengan mencondongkan tubuhnya ke depan Pram.


"Ehem duduknya biasa aja dong, tan! Gak liat apa ada istrinya lo ini!" sungut Naira yang beranjak dari duduknya menatap datar Noer.


"Suka suka gwe dong bocil!" ucap Noer dengan acuh.


Pram mengerutkan keningnya, melihat Naira yang melangkah ke arahnya dengan membawa mangkuk ice krim di tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan, sayang?"


Naira mendudukkan dirinya di atas pangkuan Pram, menatap Noer yang ada di hadapannya dengan penuh kemenangan.


"Aku mau di pangku ka Pram aja!" ucap Naira dengan manja.


"Tidak masalah!" Pram mengambil alih sendok ice krim dan menyuap kan nya ke mulut Naira.


Pram menyapu sisa ice krim yang ada di sudut bibir Naira dengan jempolnya dan menjilatinya.


Noer yang melihatnya di buat tercengang, "Kau bocah! Bagai mana cara mu menaklukkan hati Pramana? Kenapa Pramana seakan melakukan apa saja untuk mu?" Noer menatap lekat Naira.


"Tante tanya saja sama ka Pram, apa yang sudah aku lakukan pada ka Pram!" satu tangan Naira berada di bahu Pram, dan tangan satunya mengelusss dada bidang Pram.


Noer bertanya dengan serius, "Pram! Kau bayar berapa bocah ini untuk berakting di depan ku?" Noer menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki.


"Aku membayarnya dengan hidup dan jiwa ku." ucap Pram.


"Ihhsss aku serius Pramana!" Noer menatap Naira dengan menyeringai, "Heh bocah, aku bisa membayar mu lebih dari Pramana, asal kau tinggalkan Pramana... dan buat Pramana menjadi milik ku!"


Naira menatap sinis Noer, "Aku tidak yakin, tante bisa memberikan apa yang sudah ka Pram berikan pada ku!"


"Memang apa yang sudah Pramana berikan pada mu? Paling hanya beberapa puluh juta." ucap Noer dengan tatapan yang merendahkan Naira.

__ADS_1


"Puluhan juta itu lebih baik untuk tante beli alat bantu dengar! Kan tadi ka Pram bilang hidup dan jiwanya untuk ku, apa pun yang tante tawar kan untuk ku, tidak ada artinya lagi!" ucap Naira dengan tataoan yang sulit di artikan Noer, "Buka begitu, sayang?" Naira menatap Pram, untuk membenar kan perkataan nya.


"Ihs Paramana! Kau sungguh sungguh membuat ku pusing! Masa aku kalah merebut hati mu dengan bocah ini!" Noer menggaruk kepalanya dengan frustasi.


"Tapi itu lah kenyataannya, tante!" ucap Naira dengan memainkan alisnya naik turun pada Noer.


Noer tampak berfikir, "Baik lah... tapi jika Pramana sudah bosan dengan mu... pasti dia akan mencampakkan mu! Camkan itu perkataan ku!" oceh Noer dengan beranjak dari duduknya, meninggal kan ke duanya.


...🌷🌷🌷...


Kini ke duanya sudah sampai di Kediaman Pramana, dengan di sambut pak Dedi yang membuka kan pintu mobil untuk Tuannya, Pram dan Dev membukakan pintu mobil untuk Naira.


"Selamat datang kembali, Tuan!" ucap Dedi dengan membungkuk hormat, saat Pram ke luar dari dalam mobilnya.


"Selama aku pergi, tidak ada kendala kan?" tanya Pram tanpa menoleh ke arah Dedi.


"Tidak ada, Tuan."


Pram menggenggammm jemari Naira, memasuki kediamannya.


Sementara Dev mengeluarkan koper dari dalam bagasi, lalu menyeretnya memasuki kediaman Pramana.


Pram mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga, dengan Naira yang duduk di sisinya. Menyandarkan tubuh Naira pada tubuh Pram.


"Kopernya, Tuan!" Dev meletakkan koper yang ia bawa dekat dengan Pram.


Naira yang melihatnya ingin beranjak, namun langkah nya terhenti, saat Pram tidak membiar kan Naira meninggalkan tempat duduknya.


"Kan bisa besok, lusa, atau beberapa hari ke depan... jangan terburu buru." cicit Pram yang membuat Naira langsung melipat ke dua tangannya di depan dadanya.


"Ada lagi Tuan, yang bisa saya bantu?" tanya Dev.


"Cepat kau hubungi Samuel, aku ingin Naira di periksa saat ini juga." ucap Pram dengan menatap punggung Naira.


"Baik Tuan." Dev langsung mengeluarkan hapenya dari dalam saku celananya.


Pram menarik tangan Naira hingga Naira beranjak dari duduknya, "Mau apa lagi sih ka! Punggung ku udah gak apa apa!" cicit Naira.


"Ikut aku ke kamar! Aku harus mengeceknya lebih dulu!" Pram menggendong Naira dengan tangan kekarnya.


"Apa ada masalah dengan luka Nona, Tuan?" tanya Dedi dengan wajah khawatir.


"Aku harap tidak ada masalah. Kau siapkan lah sup terenak, terlezat dan bergizi untuk Naira. Bawakan ke kamar!" titah Pram dengan melangkah masuk ke dalam lift yang akan membanya ke lantai atas.


"Baik Tuan, akan saya lakukan." ucap Dedi.


"Pak Dedi, aku rasa kita akan kebagian oleh oleh dari Nona." gumam Dev saat Dedi melewati nya.


"Kau masih bisa memikirkan oleh oleh, pak Dev? Apa kau tidak lihat betapa cemasnya Tuan pada kondisi Nona?" gerutu Dedi yang melangkah ke arah dapur.


Dev mendengus kesal.


Haikal dan Dega yang melihat mobil sedan mewah hitam berada di parkiran, langsung masuk ke dalam kediaman Pramana.

__ADS_1


"Pak Dev, aku lihat mobil yang biasa bos pakai, ada di depan. Apa bos dan Nona Muda sudah kembali?" Tanya Haikal.


"Di mana Nona Muda dan bos?" tanya Dega.


"Kalian seperti demit saja, muncul tidak di undang, datang juga tidak di undang." sungut pak Dedi.


"Tuan dan Nona baru saja tiba, sekarang sedang berada di kamar mereka. Sebentar lagi dokter Samuel akan tiba di sini. Mungkin Tuan sedang mempersiapkan Nona."


"Nona baik baik saja kan?" tanya Dega.


"Apa terjadi sesuatu dengan punggung, Nona?" tanya Haikal.


Setelah menyuapkan sup daging, Pram membawa Naira turun ke lantai bawah. Untuk memeriksakan kondisinya.


Pram menggenggammm jemari Naira, saat ke duanya ke luar dari dalam lift, Pram mengerutkan keningnya saat tatapannya mendapati Haikal, Dega, Samuel dan Dev masih berada di kediaman nya.


"Kalian, sedang apa berkumpul di sini?" tanya Pram datar.


"Selamat datang kembali, Nona Muda, bos Pram!" ucap Haikal setelah membungkuk hormat.


"Bagai mana keadaan Nona?" tanya Dega.


"Aku baik baik aja ko, kabar kalian gimana? Baik baik aja kan?" tanya Naira dengan menatap Haikal dan Dega bergantian.


"Tampaknya Nona Muda sudah baik baik saja, bagai mana perjalanan selama di Jepang? Pasti sangat menyenangkan?" ucap Samuel dengan beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Naira dan Pram. Samuel menjabat tangan Pram dan Naira.


"Perjalanan di Jepang sangat menyenangkan. Bahkan tidak akan selesai jika di ceritakan dalam waktu satu jam." ucap Naira dengan bersemangat.


"Aku mengundang mu ke sini bukan untuk bercerita, tapi untuk memeriksakan jahitan yang ada di punggung Naira!" gerutu Pram dengan kesal.


"Baik lah, baik lah, ayo Nona. Kita langsung saja menjalani pemeriksaan! Bahaya jika singa mu ini mengamuk kembali! Kau tau bukan, hanya kau saja yang bisa menjinakkan nya!" Samuel mengarahkan Naira, untuk berjalan ke arah kamar yang di sediakan Pram khusus untuk perawatan medis Naira.


"Aku minta laporan kalian, setelah Naira selesai di periksa Samuel." ucap Pram sebelum mengikuti langkah kaki Naira dan Samuel.


Sebelum menutup pintu ruang medis, Pram meminta Haikal untuk menjemput Novi dan Serli untuk datang ke kediamannya.


"Kau jemput lah Novi dan Serli, dan bawa mereka ke sini!" titah Pram.


"Baik Tuan." ucap Haikal.


Dengan posisi tengkurap, Samuel mulai memeriksakan kondisi punggung Naira.


Samuel mengerutkan keningnya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada jahitannya?" tanya Pram dengan kening yang mengkerut.


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia

__ADS_1


__ADS_2