
...💖💖💖...
Tes.
Bulir bening menerobos mata cantik Naira, tuh kan bener ada wanita lain, ka Pram cinta sama wanita lain!
Siapa bilang gadis tangguh tidak punya air mata apa lagi di usianya yang masih terbilang muda, mana mengerti jika tidak di jelaskan dengan kata kata.
Beda halnya dengan Pram yang notabenenya adalah pria dewasa yang memiliki pemikirain jauh ke depan, setiap ke putusan yang di ambilnya adalah langkah yang sudah ia pikirkan dengan baik baik dengan rencana yang matang pula.
Pram menghapus jejak air mata Naira dengan jempolnya, "Apa yang perlu kau tangisi lagi? Hem?" Kenapa bocah ini malah menangis? Tidak cukup kah jawaban ku bahwa hanya dia wanita yang aku nikahi? Apa salahnya jika ada kekasih ke dua? Toh Naira lah kekasih pertama ku!
Dev dan Haikal sama sama gelrng geleng kepala di buatnya.
Dev membuang nafasnya dengan kasar, hadeeeh pak bos. Pemikiran mu itu memang bagus jika di terapkan dalam urusan bisnis dan pesaing pesaing mu, tapi tidak untuk masalah wanita, aku masih jauh lebih unggul dari mu pak bos.
Haikal menoleh pada Dev, sepertinya bos perlu belajar banyak pada mu, Dev untuk masalah hati wanita, terutama hati Nona yang masih bocah.
Pram menatap tajam ke dua bawahannya, enak saja kalian berani mengomentari ku!
Bugh.
Bugh.
Pram menendangkan kakinya pada kursi belakang yang di duduki Haikal dan Dev.
Haikal dan Dev sama sama meringis, mencoba membayang kan sakitnya kaki yang Pram gunakan untuk menendang belakang kursi.
Haikal membuang pandangannya, ke arah jalan, pasti sakit tuh.
Naira semakin mengerucutkan bibirnya, aiiiih ada yang bakal ke luar nih.
Pram mengerutkan keningnya, dengan bertanya tanya, apa yang di maksud Naira akan ke luar?
Naira menajamkan pandangannya pada area jalan, di saat ia menemukan apa yang ia cari.
"Pak Dev, berhenti sebentar di minimarket!" Seru Naira yang menyuruh Dev untuk menghentikan laju kendaraannya.
"Baik, Nona." Tanpa bamyak bertanya, Dev menjawabnya.
Pram mengerutkan keningnya, "Mau apa kita berhenti di supermarket? Apa ada yang ingin kau beli?" Tanya Pram pada Naira dengan mengangkat dagunya hingga Pram dapat melihat wajah Naira dengan hidungnya yang memerah karena menangis.
"Bukan urusan kaka!" Naira menjawabnya dengan dingin.
Dev menghentikan laju mobilnya dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket.
__ADS_1
Dev dan Haikal turun dari mobil, Dev membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
Di saat Naira ingin turun, Pram mencegahnya, "Biar Dev saja yang membelinya untuk mu! Kau tunggu lah di dalam bersama ku!" Perintah Pram dengan suara yang dingin.
"Ihs gak bisa, harus aku yang turun! Sekalian mau pinjem toilet!" Naira mengatakannya dengan sorot mata yang marah, enak aja mau larang larang yang ada tembus nih!
Pram di buat terkesima, sudah lama Naira tidak membantah perkataannya, tembus? Apanya yang tembus?
Naira ke luar dari dalam mobil.
"Dev!" Pram menyerukan nama Dev dengan menggelegar.
"Baik, pak!" Dev langsung mengikuti langkah Nona Muda nya yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam minimarket.
"Apa yang sebenarnya dia cari? Apa Naira kebelet?" Gumam Pram.
Dev mencari ke beradaan Naira di dalam minimarket, matanya tertuju pada gadis yang kini berjalan ke arahnya setelah berhasil menemukan apa yang dia cari.
Ke dua mata Naira berbinar saat di tangannya sudah mendapatkan pembalut wanita dengan size malam.
Akhirnya dapat ini juga, eh ngapain pak Dev ikut masuk? Apa ada yang ingin pak Dev beli ya?
"Loh pak Dev ada yang di cari juga?" Tanya Naira dengan menyembunyikan apa yang ia cari di belakang tubuhnya.
"Pak Pram meminta saya untuk mengikut, Nona."
"Ini aja ka? Minumannya sekalian beli 2 gratis 1 ka, atau bisa dapat coklat jika belanja minimum 50 ribu rupiah." Ujar kasir minimarket dengan ramah.
"Ini aja dulu ka, bisa kan sekalian numpang ke toilet ka?" Tanya Naira.
"Bisa ka, ada di sana ya ka toiletnya." Kasir menunjuk ke arah di mana toilet berada.
Naira berjalan ke arah toilet dengan di ikuti pak Dev yang mengekorinya.
Naira berbalik arah, "Pak, bisa gak jangan ikutin lagi! Tunggu aja udah di sini! Saya mau ke sana, noh tau kan!" Naira menunjuk toilet yang sudah ada di depan matanya.
"Iya Nona." Saya kan hanya mengikuti perintah, aiiih coba Tuan saja yang ke sini!
Naira masuk ke dalam toilet.
Ceklek.
Setelah beberapa saat ia ke luar dari toilet dengan perasaan yang lebih lega.
Minimarket yang ia masuki mendadak ramai.
__ADS_1
Ada apaan itu ramai ramai? Gak mungkin ada maling kan?
Naira melangkah ke arah keramaian, matanya semakin membola saat keramaian yang di dominasi oleh kaum perempuan dan beberapa pria tengah mengerubungi pria yang sangat ia kenal.
"Apa apaan ini! Gak bisa di biarin enak aja maen pegang sono pegang sini, awas ya kalian!" Seru Naira dengan geram.
Kakinya melangkah dengan pasti, tangannya yang kecil namun kuat menarik satu persatu para wanita yang tengah mengerubungi Pram, ada yang mencubit pipi, lengan, dada, punggung Pram, ada juga yang membelai wajah Pram, ada yang mengambil fotonya bersama dengan Pram.
Naira menerobos kerumunan para wanita tangannya menggenggang lengan dengan ke dua mata yang menatap jengkel Pram.
"Kenapa gak ngelawan sih!" Sungut Naira.
"Kau gila, mereka wanita dan ibu ibu. Itu sama saja aku menyakiti mu!" Seru Pram.
Naira mengerut kan keningnya, sejak kapan ka Pram punya hati?
"Sejak aku mencintai mu, menginginkan mu menjadi ibu dari anak anak ku!" Seru Pram dengan tatapan yang lebut.
"Alaaah dubrak bae dah ka!" Naira dan Pram berlari bersama ke luar dari kerumunan para wanita yang ada di dalam minimarket.
Pram dan Naira langsung masuk ke dalam mobil.
"Cepat jalankan mobilnya, Dev! Kau mau mati hah!" Sungut Pram dengan punggung yang menyandar pada sandaran kursi.
Mobil melaju meninggalkan pelataran parkir minimarket.
"Itu kenapa jadi gitu ka?" Tanya Naira dengan tatapan mata yang tajam pada Pram.
"Kau yang jelaskan, Dev!" Nafas Pram masih terengah engah, tangannya teruler membuka jas yang tengah ia kenakan, menggulung tangan kemejanya.
"Aiiiih itu kenapa ka?" Naira menatap lengan Pram, mengamati wajah tampan suaminya yang kini ada bekas cubitan di pipinya yang mulus.
"Tuan Muda ingin menunggu Nona ke luar dari toilet dan menyuruh saya kembali ke mobil. Tapi sepertinya rencana Tuan kali ini tidak berjalan dengan baik." Ujar Dev dengan tangannya yang fokus pada stir kemudi dan matanya fokus pada jalan.
Naira mendekatkan dirinya pada pram, menyentuh luka cubitan pada lengan dan wajah Pram, "Apa kita gak mampir ke apitek dulu ja? Beli obat gitu!" Seru Naira.
"Tidak, tidak. Kotak obat ada di ruang kerja ku, kita obati saja di sana, kau sudah baikan?" Tanya Pram pada Naira dengan tangannya yang membawa Naira menyandar pada lengannya.
Kening Naira mengkerut, "Emang nya aku kenapa? Gak sakit kok di tanya baikan?"
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉