
...💖💖💖...
"Harusnya aku yang minta maaf, aku tidak bisa menjaga mu!" Pram tampak terpukul dengan apa yang terjadi dengan Naira.
"Maaf Tuan, lebih baik korban jangan di ajak banyak bicara dulu, ini akan jauh lebih baik untuk kondisi nya!" seru salah satu suster yang ada di dalam mobil, sambil tangannya menutupi luka tusuk pada punggung Naira.
Pram mengangguk patuh.
Pram terus menggenggammm tangan Naira, "Kau dengar itu sayang! Kau jangan banyak bicara, cukup lihat aku, aku akan selalu ada untuk mu, aku akan terus menemani mu, tidak akan ku biarkan kau seorang diri!" oceh Pram dengan jari telunjuk menempel di bibir Naira, meminta Naira untuk tetap diam.
Naira menyunggingkan senyumnya, matanya sesekali terpejam, Naira berusaha membuka ke dua mata nya, agar ia tidak ke hilangan ke sadaran.
Aku tidak apa apa ka, aku senang kaka baik baik aja, aku tidak tahu harus apa... jika ka Pram yang terluka, ini kan tempat asing bagi ku, aku juga tidak akan membiar kan pria asing itu menyakiti kaka, anggap ini pengabdian ku sebagai seorang istri yang tidak akan membiarkan suaminya di sakiti ka. Bulir bening meluncur bebas di ke dua mata Naira.
Pram yang dapat mendengar suara hati Naira, langsung menyeka air mata sang istri, dengan bibir yang merutuki pemikiran konyol sang istri.
Naira dan Pram, sama sama menangis, tidak pernah terbayang kan ke duanya, akan menghadapi situasi yang seperti ini.
"Dasar bocah bodoh. Memang kau pikir, aku selemah itu... bisa langsung ambruk saat tubuh ku tertusuk belatiii? Sekarang lihat diri mu! Kau jadi seperti ini kan! Tubuh mu kecil, sayang. Berbeda dengan tubuh ku yang kekar, belatiii itu paling hanya akan melukai sedikit tubuh ku, hanya sebatas lecettt, dan kau? Jangan ulangi lagi perbuatan konyol mu ini, sayang! Aku tidak akan sanggup jika hal buruk terjadi pada mu! Kau harus selamat! Kau tidak boleh memejam kan mata mu! Lihat aku!" teriak Pram, saat Naira hampir ke hilang ke sadaran.
Naira berkata dengan lemah, "Suuuut, jangan berisik ka, suara mu sangat menggangu. Aku lelah ka, aku ingin tidur!" Naira memejam kan ke dua matanya.
Membuat Pram yang melihatnya langsung histeris dan berteriak, "Nai, bangun Nai! Kau tidak boleh tidur! Lihat aku Nai! Heh supir, cepat bawa mobilnya! Kau tidak lihat istri ku, cepat! Dasar kalian bodoh, bawa mobil saja lelet!" Pram berteriak kesal pada supir.
Suster memeriksakan denyut nadi Naira, "Semakin melemah, bahkan sangat lemah."
__ADS_1
Pram menggaruk kepalanya dengan frustasi, "Ya Tuhan, selamatkan nyawa istri ku! Jangan kau ambil dia dari ku!" ucap Pram lirih.
Mobil sampai di rumah sakit, tubuh Naira langsung di bawa ke ruang IGD, dokter langsung melakukan tindakan pada Naira.
"Biarkan aku masuk! Aku suami nya!" seru Pram yang tertahan di depan pintu, saat suster menghalangi Pram untuk masuk ke ruang tindakan.
"Maaf pak, biarkan dokter yang menangani istri bapak, bapak tunggu saja di luar. Percaya kan ini pada dokter." ucap suster yang langsung menutup pintu IGD.
Pram menyandarkan tubuhnya di dinding ruang IGD, kakinya seakan tidak bertulang, membuatnya lukuh ke lantai dengan duduk bersandar.
"Kau harus selamat sayang! Kau harus berjuang untuk hidup! Kau tidak boleh meninggalkan ku!" seru Pram.
Ceklek.
Seorang pria berjas putih, khas dokter ke luar dari ruang IGD.
"Bagai mana dokter, istri saya baik baik saja kan? Tidak ada yang serius pada tubuhnya kan?" cecar Pram.
Dokter menepukkan tangannya di bahu Pram, "Kami akan melakukan tindakan untuk pasien, bapak tanda tangani ini, biar kami bisa menangai pasien secepatnya."
"Tapi bagai mana dengan lukanya, dok? Tidak parah kan? Apa saya sudah bisa menemuinya?" tanya Pram dengan wajah cemas yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
"Luka pasien tidak terlalu parah, tidak mengenai syaraf, hanya saja korban mengalami ke hilangan banyak darah, sedangkan rumah sakit kami sedang tidak miliki stok darah yang sama dengan korban." terang dokter.
"Kalo begitu, ambil darah saya saja, dok!" ucap Pram.
__ADS_1
Suster pun ke luar dari ruang tindakan, dengan membawa beberapa lembar berkas untuk di isi dan di tanda tangani Pram.
"Silahkan Tuan ikuti suster!" ucap dokter.
Pram pun mengekori suster, setelah mengisi formulir dan beberapa syarat lainnya, darah Pram pun di ambil di ruang tersendiri.
Sore itu juga Naira langsung di operasi. Pram menunggu Naira dengan setia di depan ruang operasi, dengan perasaan yang gelisah dan bibirnya terus komat kamit, berdoa untuk ke selamatan sang istri.
Pram langsung menghubungi salah satu sahabatnya yang ada di Jepang dengan menggunakan hapenya.
"Mr, Takeshi! Apa kau sedang sibuk?" tanya Pram setelah sambungannya tersambung.
[ "Owh Mr. Pramana, kau ini seperti tidak tahu aku saja. Ada apa kau menghubungi ku? Omong omong, apa kau sedang di Jepang?" ] tebak Mr. Takeshi.
"Aku ada di rumah sakit xxxx, aku tidak suka berbasa basi, aku butuh bantuan mu, Mr. Takeshi!" ucap Pram langsung to the poin pada orang yang sedang ia hubungi.
[ "Siapa yang sakit? Apa kau sedang sakit? Katakan saja, apa yang kau butuhkan? Aku pasti akan membantu mu!" ] terang Takeshi.
"Bukan aku yang sakit, tapi istri ku. Aku ingin kau menangkap seorang wanita, nanti akan ku kirim fotonya ke kontak mu. Wanita itu harus dalam ke adaan hidup." terang Pram dengan suaranya yang dingin, tangannya mengepal, tatapannya tajam.
[ "Kau sudah menikah? Bagai mana dengan kaka ipar, apa ia baik baik saja? Untuk wanita itu... kau kirim kan saja fotonya, orang ku pasti akan segera membawanya untuk mu!" ]
"Iya aku sudah menikah, tapi kami belum melakukan resepsi pernikahan. Aku tunggu kabar baik dari mu!" Pram langsung memutus kan sambungan teleponnya.
......................
__ADS_1
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤