Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Kelinci berbisah


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram menajamkan matanya menatap dokter Embun, apa lagi yang akan wanita ini lakukan?


Byur.


Prang.


Dengan sengaja dokter Embun menumpahkan air dari gelas yang ia pegang lalu menjatuhkan gelasnya hingga pecah di lantai.


"Maaf, maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan nya!" Seru dokter Embun dengan beranjak dari tempat duduknya mengibaskan bagian pahanya yang basahhh kena tumoahan air.


Naira ikut beranjak hendak membantu dokter Embun, tapi Pram menghalanginya.


"Ya ampun dokter apa kau terluka?" Tanya Naira dengan cemas dan beranjak dari tempat duduknya dan ingin berjalan ke arah dokter Embun.


Grap.


Bugh.


Tangan Pram lebih dulu menarikkk pergelangan tangan Naira dan Naira jatuh di pangkuan Pram.


"Kaka issh, apaan ih! Aku tuh mau bantuin dokter Embun, gimana kalo kakinya kena pecahan kaca, kan bahaya!" Naira mengayunkan ke dua kakinya dengan tangannya yang mendorong dada Pram.


Dokter Embun menatap tajam pada Naira, sialannn ini bocah harusnya kan dia lagi mungutin pecahan gelas, biar gw bisa dengan sengaja menginjak tangannya biar luka sekalian! Pram malah menghalangi nya, sialll sualll.


Pram menyeringai dengan tangan yang terulur menyelipkan rambut Naira ke belakang telinganya, tidak akan ku biarkan kau mencelakaiii istri ku! "Tidak perlu kau yang lakukan untuk membantunya hem!"


Dengan gerakan tangan, dua orang maid wanita berjalan menghampiri dokter Embun dengan membawa sapu dan pengki sedangkan maid satunya membawa kain pel.


Ke dua maid membungkuk hormat pada Pram dan Naira, "Biar kami saja Nona Muda, yang melakukan nya." Ujar maid yang membawa kain pel.


Sedangkan maid yang membawa sapu dan pengki plastik langsung menyingkirkan pecahan gelas dari lantai, ia menggeser dirinya saat pekerjaan sudah selesai dengan di lanjutkan oleh maid yang membawa kain pel. Lantai menjadi bersih seperti semula.


"Kau lihat kan! Ada mereka yang melakukan nya!" Pram mengarah kan sendok yang berisi makanan ke depan mulut Naira dengan satu tangannya merengkuh pinggang Naira.

__ADS_1


Dokter Embun mengepalkan tangannya dengan perasaan yang semakin kesal, sialannnnn pake pamer kemesraan lagi di depan gw, tapi itu cuma buat sementara. Setelah ini, lo akan menangis bocah, menangisi nasib lo yang akan menjadi janda di usia muda lo!


Ke dua maid menunduk hormat dan pamit pada Tuan-nya, "Kami permisi Nona Muda, Tuan." Ujarnya dengan sopan.


"Silahkan dokter, di lanjutkan makannya!" Seru pak Dedi yang melihat dokter Embun masih berdiri dengan menatap Pram yang kini sedang menyuapkan Naira makan dari piringnya.


"Eh i- iya pak! Tapi pakain ku, sepertinya aku perlu ke toilet. Bisa kau antarkan aku ke toilet Naira?" Dokter Embun menatap Naira dengan tatapan memohon, kali ini aku harus berhasil.


Naira beranjak dari pangkuan Pram.


Pram berseru dengan manja pada Naira, "Sayaaaang!" Tangan Pram menggenggammm pergelangan tangan Naira.


"Kaaa, cuma sebentar ih!" Naira mengerucutkan bibirnya.


Dokter Embun meraih tasnya, "Ayo Naira antar aku!" Seru dokter Embun yang kini berdiri tidak jauh dari kursi Pram.


kau lihat apa yang akan aku lakukan pada istri kecil mu ini Pram, dia pasti akan percaya pada perkataan ku!


"Kaaaaa!" Naira berseru dengan manja agar Pram mau melepaskan genggamannn tangannya.


Pram menyeringai, aku yakin kau bisa menghadapi wanita ini Nai! Jangan buat aku kecewa!


"Iya suami ku!" Naira berjalan lebih dulu ke arah toilet yang berada di ruang makan.


Di susul dengan dokter Embun yang menyamakan langkah kakinya dengan Naira.


"Terima kasih ya sudah mau menemani ku ke toilet." Ujar dokter Embun dengan senyum yang di paksakan, sabar Embun, lo cuma perlu taburin garam di atasnya, lo bakal liet gimana Naira bakal berubah dan percaya dengan apa yang gw katakan.


"Sama sama dokter."


Di dalam toilet yang cukup besar dokter Embun menaruh tasnya di pinggiran westafel dan mengambil tissue dari gulungannya yang ada di dalam toilet.


"Oh iya Nai, apa yang membuat kalian sampai menikah? Setahu ku Pram itu sulit untuk di dekati, kecuali dengan ku!" Tangan dokter Embun menekan bagian celana bawahnya yang basahhh dengan tissue, sedangakan matanya menatap dengan selidik wajah Naira dari pantulan cermin di depannya.


"Apa ya, sangat singkat. Pandangan pertama mungkin!" Naira tersenyum manis melihat tatapan dokter Embun, apa maksud nya berkata hanya dia yang bisa mendekati ka Pram? Lah itu berjibun model cantik yang deket dengan ka Pram, ada kekasih ke dua lagi, apa dokter Embun tidak melihat di media ya?

__ADS_1


Dokter Embun membola, "Apa? Pandangan pertama? Kau jatuh cinta pada Pram pada pandangan pertama? Apa kau sedang bergurau?" Dasarrr bocah, terlalu polos hingga bisa jatuh cinta semudah itu pada Pram!


"Dokter salah mengira, bukan aku yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan ka Pram, tapi ka Pram yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan ku, lucu kan?" Ujar Naira dengan santainya, menyandar kan punggungnya pada dinding dengan menyilang kan ke dua kakinya, ke dua tangan nya menyilang di depan dada.


Dokter Embun menatap Naira dengan pandangan yang merendahkan, "Kau pasti bergurau, Nai!" Serunya dengan sinis.


Naira mengerdikkan bahunya, "Mana mungkin aku bergurau dok, kalo dokter tidak percaya pada ku... dokter Embun bisa tanyakan langsung sama ka Pram!"


Dokter Embun menatap tajam Naira dengan membalikkan tubuhnya menghadap Naira, sialan ini bocah. Kenapa jadi aku yang merasa cemburu, apa aku masih mencintai Pram? Ingat Embun, kau hanya mencintai harta dan ke bebasan, bukan kekangan yang selama ini kau rasakan saat bersama dengan Pram.


"Apa dokter sudah selesai? Kita bisa kembali ke meja makan!" Tanya Naira yang melihat dokter Embun hanya diam menatapnya.


"Ah iya iya sebentar, aku ingin membenarkan riasan wajah ku dulu!" Kilah dokter Embun yang ingin lebih lama bicara dengan Naira tanpa harus ada Pram di antara ke duanya.


"Dokter Embun sudah cantik, tidak perlu berhias!" Ucap Naira dengan tulus.


Dokter Embun tidak menghiraukan perkataan Naira, ia mengeluarkan lipstik dari dalam tasnya.


"Kau tahu Nai, Pram sangat suka dengan warna lipstik ku yang ini, ini adalah warna favoritnya. Kata Pram saat itu warna ini sangat pas untuk bibir ku!" Dokter Embun memoleskan lipstik pada bibirnya yang tipis dengan warna merah menyala.


Naira tersenyum canggung, "Ka Pram bilang begitu pada dokter?" Itu sih lebih pas warna tante tante, udah kaya bibir yang lagi mau godain cowo, bukan gw banget itu mah.


"Iya, Pram sangat suka dan kau tahu Nai, saat dia melihat ku memakai warna lipstik ini, Pram akan langsung mencium ku!" Dokter Embun menyimpan kembali lipstiknya ke dalam tasnya.


"Oh gitu ya!" Naira memutar bola matanya dengan malas, aku tidak percaya. Tapi sakit juga telinga gw ngedengernya, masa iya sih ka Pram kaya gitu. Terus maksud dokter Embun pake warna lipstik itu apa sekarang? Mau godain ka Pram gitu? Apa mau manasss manasinnn gw pake ngomong kaya gitu? Ihs sorry dah, lewat gw mah dokter.


Sedangkan di luar pak Dedi terus saja menatap ke arah pintu toilet.


"Apa tidak apa Tuan, membiarkan Nona Muda bersama dengan dokter Embun?" Tanya pak Dedi dengan perasaan yang cemas, dengan keningnya yang mengkerut.


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...

__ADS_1


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉


__ADS_2