
...💖💖💖...
Pak Dedi hanya geleng geleng kepala, mudah mudahan cepat terdengar suara tangisan bayi di rumah ini.
Pak Dedi lalu melangkah ke luar setelah tugasnya sudah selesai.
Hari ini Naira benar benar di rumah saja, ingin membawa tubuhnya untuk berjalan pun sulit. Jangan kan untuk berjalan, untuk berdiri tegak dalam waktu yang lama saja, ia tidak sanggup. Pinggang Naira terlalu pegal dan tidak bisa di ajak kompromi.
Selama dua hari Naira bergantung dengan Pram, selama dua hari pula Pram melakukan pekerjaan kantor nya di rumah, pinggang Naira lah yang di jadikan alasan, untuk Pram agar bisa tetap berada di rumah, dengan melakukan pekerjaan nya dari rumah.
Seperti pagi ini, Pram tengah melakukan meeting, dengan beberapa menejar hotel miliknya, yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia secara virtual.
Pram tidak mengizinkan Naira, untuk jauh darinya, jauh dari pengawasan. Naira terus berada di sofa selama Pram melakukan meeting.
"Apa lihat lihat? Lanjut kan saja meeting mu ka!" oceh Naira dengan menatap sinis Pram.
Naira tengah membaca ulang, beberapa universitas yang di rekomendasikan Pram untuk nya melanjutkan pendidikan nya.
Setelah 2 jam lamanya, Pram menghabiskan waktu meeting nya, dengan para menejar hotel miliknya yang tersebar di beberapa kota. Kini Pram melanjutkan meeting nya, dengan beberapa manajer hotel miliknya yang tersebar di beberapa negara.
Tring.
Terdengar suara notifikasi pesan, dari hape Naira yang ada di atas meja.
Pram melirikkan pandangannya saat melihat Naira tengah meraih hapenya, karena Pram juga mendengar suara notifikasi dari hape sang istri.
Naira tampak begitu senang, saat tahu siapa yang mengirinya pesan, wanita yang sudah lama ia rindukan. Siapa lagi kalo bukan Heni, wanita yang melahirkan nya.
"Sayang, apa kabar nak? Apa kau baik baik saja di sana? Ibu sudah rindu dengan mu, nak."
Naira langsung membalas pesan mamahnya itu.
"Alhamdulillah Naira baik mah, Nai juga rindu sama mama dan yang lainnya. Kabar mamah dan yang lain, bagai mana? Kalian baik baik aja kan? Dalam keadaan sehat kan?"
"Mamah dan yang lain baik baik aja, sayang. Bagai mana kabar menantu mamah, nak?" Heni menanyakan kabar Pram.
"Alhamdulillah ka Pram baik, mah." ujar Naira.
"Alhamdulillah kalo begitu ya sayang, jaga ke sehatan kamu ya nak. Untuk acara perpisahan sekolah mu itu, apa semua ke butuhan dan ke perluan mu selama di sana sudah di persiapkan, nak? Ingat, jangan sampai ada yang lupa untuk kau bawa ya, nak!"
Heni mengingatkan Naira, untuk membawa apa saja yang harus ia bawa nanti, saat acara perpisahan sekolahnya itu.
"Iya mah, pasti akan Nai siapkan dan tidak akan ada yang terlupa kan, mah."
__ADS_1
Naira menyimpan kembali hapenya di atas meja, setelah dirinya tidak lagi mendapat pesan balasan dari sang mama.
Pram mempersingkat waktu meeting nya, yang seharusnya dua jam, kini dalam waktu satu jam meeting sudah berakhir.
Membuat senang hati manajernya, karena tidak perlu berlama lama, mendengar Pram yang mengoceh dengan omelan pada bawahan yang itu.
Pram beranjak dari duduknya, menghampiri sang istri, yang masih sibuk mengamati beberapa nama universitas di hadapannya.
"Jadi apa kau sudah putuskan, sayang! Universitas mana yang akan kau pilih, untuk melanjutkan pendidikan mu... hem?" tanya Pram, yang kini mendaratkan bobot tubuhnya di samping Naira.
"Aku pilih universitas yang ini aja ka." Naira menyodorkan salah satu map coklat, yang ada di tangannya pada Pram.
"Bagus juga, lalu jurusan apa yang nantinya akan kau pilih, sayang?" tanya Pram setelah melihat universitas yang di pilih Naira.
"Manajemen dong ka." Ucap Naira dengan menyunggingkan senyum nya.
"Apa alasan mu memilih jurusan itu, sayang?" Pram meletakkan map coklat, yang di berikan Naira padanya tadi ke atas meja.
Pram meraih hape Naira, dengan mulut Pram yang bertanya, "Tadi siapa yang mengirim mu pesan, sayang?" Pram membuka hape Naira, jemarinya pun langsung berseluncur mencari tahu jawaban nya.
Naira langsung menatap curiga pada Pram. Dengan apa yang ia lakukan.
"Tadi mamah yang mengirim pesan. Kenapa? Kaka gak percaya pada ku?" tanya Naira dengan polosnya.
Pram menarik sudut bibirnya, saat membaca isi chat antara Naira dengan sang ibu. Pram menyimpan kembali hape sang istri di atas meja.
"Alah itu sama aja ka! Gak ada bedanya, pada intinya kaka menaruh curiga pada ku!" Naira menyandar kan tubuhnya pada dada bidang Pram.
Pram tidak menghiraukan perkataan Naira, ia malah mengalihkan perhatiannya pada yang lain, dengan membahas hal lain pada Naira.
"Kapan kau ingin menyiapkan segala sesuatunya, sayang?" tanya Pram.
"Besok aja ka, setelah pulang sekolah."
"Kenapa tidak siapkan sekarang aja, sayang?" tanya Pram dengan tatapan matanya yang genit pada Naira.
"Besok aja ka!"
"Apa itu mu masih sakit, sayang?" Pram mengarahkan pandangannya, pada milik Naira yang ada di bawah sana, lalu menaik turunkan alisnya, "Boleh kah aku melakukan nya lagi?" Tanya Pram, yang kini merindukan sesuatu, yang ada pada diri Naira.
Tatapan tajam langsung di berikan Naira, mulutnya begitu lancar dan jauh dari rasa takut pada Pram, untuk memberikan alasan pada Pram agar tidak menjamahhh nya dulu.
"Enak aja, kaka mau buat aku gak bisa jalan lagi? Ini udah mendingan lo! Gimana kalo udah waktunya berangkat ke puncak, aku malah gak bisa jalan lagi? Bisa gagal dong aku berangkat perpisahan sekolah!" Naira mencubit kesal perut Pram.
__ADS_1
"Awwh, aku hanya bercanda sayang. Tapi kalo kau izinkan pun, aku akan dengan senang hati, untuk menjamahhh mu kembali hehehe."
"Enak aja, gak!" Jawab Naira dengan mantap.
Waktu pun berputar maju, seperti apa yang sudah di katakan Naira. Ia akan mempersiap kan segala sesuatunya, untuk besok pada hari ini setelah pulang sekolah.
Naira hanya mengikuti arahan dari guru, apa saja yang harus di bawa. Berdasarkan catatan yang sudah di berikan kepada masing masing siswa lewat lembaran kertas.
Seperti pakaian untuk 2 malam dan 3 hari, ke perluan mandi, seragam olah raga, seragam putih abu beserta almamaternya, sebuah hadiah untuk tuker kado bersama dengan teman sekelasnya, serta cemilan untuk setiap siswa selama dalam perjalanan.
Di saat Naira tengah sibuk, memasuk kan semuanya ke dalam tas ransel yang cukup besar, Pram mengagetkan nya dengan pulamg lebih awal, tanpa memberi tahu Naira.
"Baju tidur, udah. Handuk juga udah, seragam olah raga udah masuk tas, keperluan mandi udah masuk tas kecil, astaga kadonya aku belum beli." Gumam Naira yang melupakan kado untuk ia bawa besok.
Pram menyeringai, mendapati pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia memasuki kamarnya dengan mengendap endap, seperti seorang pencuri yang wkan beraksi.
Naira meraih hapenya yang ada di atas kasur, menghubungi seseorang untuk dapat mengantar nya ke toko dekat rumah.
"Halo bang, bisa kan anterin aku sekarang juga?" Tanya Naira.
"Ke mana Nona? Tapi sebaiknya Nona minta di antar bos Pram aja." Ujar Haikal yang menolak untuk mengantar Naira.
"Lah giman minta di antar ka lram, kan masih kerja. Belom oulang dari kantor." Ceketuk Naira dengan kedal karena rencananya untuk mrmveli kado akan gagal jika haikal tidak mau mengantarkan nya.
Sementara Pram, kini berdiri di belakang Naira, dengan ke dua tangannya menyilang di depan dada. Mendengar kan apa yang sedang di bicarakan Naira, yang di sinyalir sedang menghubungi Haikal.
Anak pintar, kemarin aku tawarkan diri untuk mengantar. Tapi tidak mau, sekarang malah meminta pria lain, untuk mengantarnya! Di mana aku untuk mu, Naira Putri sayang!
"Hari ini bos Pram pulang lebih awal, Nona. Perkiraan saya, harus nya bos Pram sudah sampai di rumah." terang Haikal, yang membuat Naira memicingkan ke dua matanya.
Ka Pram pulang lebih awak? Harus nya sekarang udah di rumah?
"Oke. Kalo gitu, makasih bang atas informasinya." Naira menutup panggilan teleponnya.
"Biar aku tunggu ka Pram di bawah deh!" ucap Naira pada dirinya sendiri.
Bugh.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊