
...💖💖💖...
"Mati gw!" gumam Haikal kecil namun masih bisa di dengar oleh Pram.
"Haikal!"
"Maaf, bos. Saya pikir Karena sudah ada bos dan saya di sini yang mengawasi Nona. Bos tidak memerlukan lagi pengawal bayangan untuk Nona!" seru Haikal dengan wajah yang tertundak.
Pram membalikkan badannya, mengepalkan tangannya, menatap tajam Haikal.
Bugh.
Kaki Pram melayang pada kaki Haikal.
"Dasarrr bodoh! Mulai sekarang, ke mana pun Naira pergi, harus ada pengawal bayangan yang terus bersamanya! Kau dengar itu, Haikal? Harus yang benar benar bisa di percaya, ke ahliannya dalam bela diri tidak lagi di ragukan." Pram mengarahkan tangannya.
Haikal yang mengerti, langsung menyerahkan kunci mobil pada Pram.
"Untuk sementara, kau awasi Naira. Ke mana pun ia pergi, kau harus bersamanya! Ingat Haikal, nyawa mu menjadi taruhannya!" Ucap Pram dengan tegas.
Pram meninggalkan puncak, dengan mengemudikan mobil seorang diri. Menyerahkan pengawasan Naira pada Haikal.
"Sebenarnya apa yang ingin di lakukan, bos?" Haikal hanya bisa menatap mobil, yang membawa Pram semakin jauh hilang dari pandangannya.
Matahari menyambut pagi, Pram sudah berada di ruang kerjanya. Memainkan pulpen yang ada di tangannya.
Ceklek.
Dev masuk ke dalam ruang kerja Pram, "Saya tidak terlambat kan, Tuan?" tanya Dev setelah membungkuk hormat.
"Bilang pada investor asing itu, jam meeting di majukan." ucap Pram dengan tegas.
Dev membola, tidak habis fikir dengan jalan pikiran Tuannya, sudah datang tiba tiba, merubah jadwal meeting seenaknya. Bukan Pram yang seperti biasanya.
"Apa? Di majukan, Tuan?"
"Apa perkataan ku kurang jelas, Dev?" Pram menatap tajam Dev.
"Tidak Tuan, kalo begitu... biar saya hubungi pihak investor untuk datang lebih awal." Dev mengayun kan langkah kakinya, ke luar dari ruang kerja Pram.
Pram membuang nafasnya dengan kasar. Menghubungi Haikal yang ia tinggalkan di puncak.
"Haikal, minta orang kepercayaan mu yang menyelidiki kasus pria tua, untuk datang menghadap ku, aku beri waktu 1 jam dari sekarang!" titah Pram.
[ "Menghadap bos di kantor atau di markas, bos?" ] tanya Haikal.
"Langsung perintahkan orang mu... ke ruang kerja ku!"
[ "Ada lagi, bos? Apa bos tidak ingin tahu, kegiatan apa yang sedang Nona Muda lakukan sekarang?" ] Haikal menyinggung Pram akan kabar Nona Muda-nya.
"Ehem, apa yang sedang Naira lakukan? Apa sedang melakukan aktivitas nya di luar? Cepat katakan Haikal!"
[ "Nona sedang melakukan permainan olah raga dengan teman satu sekolahnya, game mungkin kalo anak sekarang." ]
"Baik lah, kau awasi terus. Jangan sampai kau kecolongan. Aku tidak ingin apa yang terjadi pada pria tua itu, di alami oleh Naira ku!"
Pram memutuskan sambungan teleponnya, menyimpan hapenya di dalam saku celananya.
__ADS_1
Pram menatap bingkai foto yang ada di atas meja kerjanya, "Kau tahu Nai, aku tersiksa berada jauh dari mu!"
Tok tok tok tok.
"Tuan, boleh saya masuk!" seru Dev.
"Masuk lah, Dev!"
"Pihak investor asing setuju Tuan, jadwal meeting di majukan lebih awal. Sekitar jm 10 pagi, Mr. Zhang Yong dan asistennya akan tiba di kantor." terang Dev.
"Kau siapkan ruang meeting dari sekarang!" seru Pram.
"Sudah Tuan, akan siap dalam 10 menit." terang Dev, "Saya kembali ke ruang kerja saya, Tuan!" Dev undur diri dari ruang kerja Pram.
"Hem! Dev, beritahu scurity... dalam waktu dekat ini akan ada orang yang akan bertemu dengan ku!"
"Baik Tuan." Dev mengayunkan langkah kakinya, ke luar dari ruang kerja Pram, menyampaikan pada bagian keamanan. Apa yang sudah di samapikan Pram padanya tadi.
Sedangkan Pram kembali berkutat, pada laptop yang ada di atas meja kerjanya. Melupakan sejenak dengan perasaannya.
Kurang dari satu jam, seorang pria berbadan besar, sudah berdiri di ruang kerja Pram.
Pram menatap pria itu dengan tajam, "Duduk lah!" titah Pram.
"Baik, bos." pria berbadan besar mendudukan dirinya di kursi yang ada di depan Pram
"Apa saja yang kau dapatkan, dari hasil penyelidikan mu dan anak buah mu?" tanya Pram dengan menautkan ke dua tangannya di atas meja.
"Berdasarkan hasil penyelidikan, Tuan besar mengalami kecelakaan karena mobil yang di tumpanginya terjadi sabotase, bos." ujarnya tanpa ada keraguan.
"Apa kau sudah berhasil, mengungkap siapa saja yang terlibat?"
Pram mengerutkan keningnya, menatap hape yang kini berpindah tangan padanya, "Apa ini?"
"Di dalam hape itu, saya sudah menyimpan bukti persekongkolan mereka berdua, bos. Ternyata saya juga menemukan beberapa bukti lain, jika villa Tuan besar, beberapa mobil serta rumah yang saat ini di tempati Tuan besar, sudah berpindah tangan atas nama Agus."
"Apa kau sudah berhasil meringkus nya?" tanya Pram dengan tatapan matanya yang tajam.
"Masih dalam pengintaian, bos. Kami takut masih ada orang lain lagi yang terlibat di dalamnya. Kami masih menunggu pergerakan, kepala pelayan serta Nami untuk bergerak."
"Kembali lah pada tugas, mu! Jika kau menemukan hal yang mencurigakan lainnya, segera beritahu aku! Jika ada yang berani menyentuh pria tua itu lagi, langsung habisiii orang itu, bawa mayatnya ke hadapan ku!" oceh Pram.
"Siap, bos! Pasti akan saya lakukan apa yang bos katakan." pria berbadan besar ke luar dari ruang kerja Pram.
Pram mengepalkan tangannya, melihat bagai mana Agus, menyabotase mobil yang di gunakan Aji.
"Tidak akan ada yang boleh menyentuh keluarga ku! Jangan kan menyentuh, melukai sedikit pun, akan aku habisiii orang itu!" ucap Pram dengan penuh penekanan.
Hingga waktu yang di tunggu pun tiba, pukul sepuluh Pram dan Dev menyambut investor asal Singapura di lobby hotel.
Mereka berempat langsung menuju ruang meeting dengan mengguna kan lift, dengan Pram dan Mr. Zhang Yong yang berada di depan.
Mr. Zhang Yong dan asistennya di sambut baik oleh Pram dan Dev, meeting berlangsung cepat, karena Mr. Zhang Yong tidak meragukan lagi sepak terjangnya Pram dalam dunia perhotelan.
"Saya senang bisa bertemu langsung dengan Tuan Pram, saya pikir untuk bertemu dengan Tuan Pram itu sulit. Tapi ternyata tidak juga ya!" ucap Mr. Zhang Yong setelah meeting nya selesai.
"Apa Tuan Zhang Yong ingin mencicipi es krim andalan hotel ini?" tawar Pram.
__ADS_1
"Jika Tuan Pram yang menemani, saya tidak keberatan." oceh Mr. Zhang Yong.
"Yang pasti akan ada Dev serta asisten Tuan yang ikut serta bersama dengan kami kan?" ledek Pram.
Mr. Zhang Yong berbisik pada Pram, berkata dengan pelan, "Pasti itu, jika Tuan ingin one night dengannya, saya tidak ke beratan."
Pram menjauhkan dirinya dari Mr. Zhang Yong, "Istri saya yang akan keberatan, jika saya berani melakukan hal itu, Mr!" ucap Pram dengan tersenyum tipis.
"Owh maaf, saya fikir Tuan Pram belum menikah! Lagi pula, tidak ada salahnya jika hanya melakukan sekali kan Tuan?" Mr. Zhang Yong menyeringai, tidak mungkin kau menolak wanita yang aku bawa Tuan Pram.
"Sayangnya, anda salah Mr. Zhang, saya tidak akan mengkhianati wanita yang menjadi istri saya, wanita itu harusnya di hargai, bukan untuk di jadikan kemulusannn dalam berbisnis." sindir Pram.
Wajah Mr. Zhang Yong langsung berubah masam, ia melirikkan pandangannya pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, kurang ajarrr Tuan Pram, berani dia mempermalukan saya!
"Maaf Tuan, sepertinya dengan berat hati, saya harus menolak tawaran Tuan, saya masih harus bertemu dengan beberapa pengusaha muda lainnya." kilah Mr. Zhang Yong.
"Baik kalo begitu, semoga sukses dengan pertemuan anda berikutnya Mr. Zhang Yong!" ujar Pram dengan wajar datarnya.
Mr. Zhang Yong dan asisten cantiknya pun meninggalkan meeting. Dengan Dev yang mengantar ke duanya sampai di lobby hotel.
Jam sebelas siang, di teriknya matahari, Pram kembali menuju puncak dengan mengemudikan seorang diri.
Pram menjawab panggilan telepon dari Naira.
[ "Ka Pram sedang apa?" ] tanya Naira yang sedang berada di dalam kamar villa.
"Aku sedang mengemudi. Apa saja yang kau lakukan dari pagi hingga sekarang hem?"
[ "Apa tidak apa, kaka sedang mengemudi sambil berbicara dengan ku di telpon?" ]
"Aku menggunakan earphone, sayang. Apa kau mencemaskan ku?"
[ "Tentu saja cemas, aku menghawatirkan mu... ka Pram, rubahhh mesummm ku." ]
"Apa lagi yang harus kau khawatir kan dari ku, sayang?"
[ "Khawatir jika kaka bermesraan dengan wanita mu itu ka, ada berapa banyak wanita mu itu ka, sebelum bertemu dengan ku?" ]
"Entah lah, aku tidak menghitung nya! Wanita ku sekarang hanya diri mu, sayang!"
Ciiiiit.
Pram menginjak pedal rem secara mendadak.
"Sialll." umpat Pram.
"Nanti kita lanjutkan lagi sayang!" Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Pram langsung ke luar dari dalam mobilnya, melihat apa yang terjadi.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊