
...💖💖💖...
"Kau ..." Samuel terpaku melihat Pram yang saat ini menggendong seorang wanita muda keluar dari walk in closed dengan satu kaki yang di pasang gips, apa dia istrinya Pram? Aku tidak salah lihat? Apa sekasar itu pram memperlakukannya hingga mengorbankan kaki wanitanya?
Pram melewati Samuel begitu saja di saat pria dengan jubah dokter itu masih terpaku dengan keterkejutannya. Terkejut dengan sosok wanita yang masih belia ada dalam gendongan Pram, pria dewasa dengan gadis belia yang benar saja.
Ke dua tangan Naira masih betah melingkar di leher Pram saat melewati pria dengan jubah dokternya.
Aih ternyata di kamar ini masih ada manusia lagi? Aku pikir dari tadi hanya ada aku dan rubah tua ini saja? Aku menoleh ke belakang melihat wajah dokter itu, wajah dokter yang gak kalah tampan sama pak Pram, weeeek tampan? Apa aku mengakui wajah Pram ini tampan? Kini aku menatap wajah pria yang tengah menggendong ku.
"Tidak usah menatap ku seperti itu, aku tahu aku ini tampan." Ujar Pram dengan tingkat ke pe'deannya tanpa menatap ku.
Aku menjatuhkan kepala ku hingga bersandar di lengannya, "Dasar narsis." Gumam ku.
Pak Pram terkikik dengan tingkah ku. Terkadang aku berfikir kau ini konyol Naira! Tapi aku suka dengan kekonyolan mu ini. Terkadang kau itu juga dewasa dalam mengambil sikap. Entah apa lagi yang belum aku ketahui dari diri mu.
Pram mendudukan Naira di atas kasur dengan ke dua kaki Naira yang di luruskan. Lalu ia berdiri di samping Naira tanpa berniet beranjak menjauh dari gadisnya itu.
Pak Pram menatap Samuel yang masih mematung di tempatnya, "Heh...kau! Aku menyuruh mu datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk melamun, dokter Samuel!" Seru pak Pram pada Samuel.
Oooh jadi namanya Samuel! Sifatnya sama gak nih kaya pak Pram yang bersikap kejam dan seenak jidatnya!
Samuel tersadar dari lamunannya, "Cih, tadi saja kau lupa dengan keberadaan ku, dasar bos arogan!" Samuel berjalan ke arah kasur dengan mengeluarkan tetoskop dari saku jubahnya.
Pak Pram berdiri di samping ku dengan merapatkan tubuhnya dengan lengan ku dan orang yang di panggil Samuel ini kini duduk di tepian kasur.
__ADS_1
"Maaf Nona, bisa kau berbaring dulu?" Pinta Samuel pada Naira.
Pram membelalakkan ke dua matanya, "Kau jangan macam macam, Samuel! Aku menyuruh mu untuk memeriksakan kakinya Naira, bukan tubuhnya!" Ujar pak Pram dengan suara yang tertahan.
Samuel menatap wajah polos Naira, Ooooh jadi wanita ini Naira, benar dia istrinya Pram, bearti pak Dedi tidak berkata bohong pada ku tadi saat menghubungi ku dan menyampaikan perintah Pram untuk datang ke rumahnya ini.
Brak.
Pram menggeprak bahu Samuel.
"Heh, dokter mesum...jangan menatap istri ku!" Omel pak Pram yang mendapati Samuel tengah menatap wajah Naira.
"Aiiih aku tidak habis fikir, kau mau saja dengan pria bodoh ini Nona?" Samuel menatap pak Pram, "Ku katakan pada mu ya! Ini suatu prosedur kesehatan pak Pramana Sudiro, aku harus mengecek dulu denyut jantungnya apakah ia baik baik saja atau tidak." Terang Samuel.
Aku menatap dua orang pria dewasa ini dengan tatapan mata memicing tajam, Kenapa aku merasa pak Pram takut aku di sentuh oleh dokter ini? Ini kan hal yang biasa terjadi saat ada pasien, maka dokter akan memeriksakan denyut jantungnya!
"Aaaaaah!" Aku berteriak dengan menutup ke dua telinga.
Pak Pram langsung duduk di belakang ku dan menyentuh ke dua bahu ku, "Ada apa? Apa ada yang sakit? Tanyanya begitu khawatir, "Ini semua karena mu, dasarrr dokter bodoh!" pak Pram memarahi Samuel dengan menunjuknya dengan mata.
"Haaa? Kenapa jadi salah ku? Aku saja belum memeriksakannya, bagaimana aku bisa menyakitinya? Yang benar saja kau, Pram!" Tanya Samuel dengan wajah keheranan.
"Kau ini!" Seru pak Pram.
Sreek.
__ADS_1
Bugh.
Aku menghentakkan kedua kaki ku di atas kasur, kesel bukan main dengan ke dua orang ini.
"Aah." Aku memekik sakit pada kaki kiri ku yang masih di gips.
"Naira! Kaki mu itu masih sakit, jangan bertindak bodoh." Ujar pak Pram.
Astaghfirullah sabar sabar, aku seperti ini juga karena mu pak Pram yang bodohhhh.
Samuel berdiri dan mengecek kaki Naira yang di gips, "Seperti ini akan sangat sulit untuk mu pulih, Nona!"
"Kenapa bisa begitu?" Tanya pak Pram.
"Karena..." Samuel melambaikan tangannya pada pak Pram, Pram pun menghampirinya.
"Katakan yang sebenarnya?" Ujar pak Pram tidak sabaran.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit
__ADS_1