Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Mengganggu


__ADS_3

...💖💖💖...


"Bagi bapak ini hanya lah sebuah hape, tapi tidak bagi ku!" Ucap ku dengan penuh emosi, "Benda ini pemberian dari orang yang paling aku sayangi, wajar jika aku menganggap ini penting dalam hidup ku, aku benci kamu pak Pramana Sudiro, rubah tua! Gak punya hati." Aku membentaknya lalu berjalan menjauh darinya.


Nyali mu besar juga Naira, membentak seorang Pramana Sudiro dan kau juga sudah lancang dengan mengatakan ada orang lain yang kau sayangi, tidak ada yang boleh di sayangi Naira selain diri ku! Pram mengepalkan ke dua tangannya dengan aura dingin yang menyelimuti.


"Berhenti, Naira!" Bentak Pram.


Aku tetap berjalan menjauh dari nya dengan menyeret kaki kiri ku, dengan tangan ku menyeka bulir bening yang terus menerobos ke luar dari pelupuk mata ku, kamu harus kuat Naira, jangan cengeng kamu Nai. Aku berusaha menyemangati diri ku sendiri.


"Kenapa itu pintu rasanya jauh banget dari pandangan, kapan aku sampai di pintu?" Gumam ku.


"Naira!"


"Naira! Aku bilang berhenti!!!" Seru pak Pram dengan suara yang tinggi, hingga membuat ku kaget tapi maju terus Naira, pintu sudah ada di depan mata.


Senyum terpatri di bibir ku saat aku akan meraih gagang pintu.


Krek.


Hap.


Tubuh ku terasa melayang dan aaaah sialllll. Seenak jidatnya saja pak Pram memanggul tubuh ku di pundak kirinya, di kata aku ini karung beras apa? Pada hal kan tadi hanya tinggal selangkah lagi bisa lolos dari rubah tua ini.


Aku meronta ronta dengan memukul punggungnya dengan kedua tangan ku yang terkepal, "Pak, turunkan aku, hei pak Pramana Sudiro apa anda tuli? Anda tidak punya telinga? Anda rubah tua tidak punya hati! Pak turunkan aku pak!" Bibir mungil ku mengumpat tanpa henti memintanya untuk di turunkan dan mati dah gw, jangan bilang dia mao jatohin gw ke tempat tidur bisa ancur ini masa depan si eneng kacang.


"Aku tidak akan melepaskan mu, Naira! Siapa suruh kau itu tidak menurut pada ku!" Ujar pak Pram dingin.

__ADS_1


Bruk.


Tubuh ku di hempasankannya di atas kasur dengan kasar, gila, Pramana Sudiro gak punya hati, rubah tua gak tau diri, gak inget apa dia kalo kaki gw masih sakit!


"Awh." Pekik ku.


"Pak Pram mau apa?" Suara ku bergetar saat tubuh atletisnya mengunci tubuh ku dengan ke dua tangannya yang besar menahan lengan ku, mau bergerak pun sulit.


Pak Pram mendekatkan wajahnya ke wajah ku dan aku langsung memejamkan satu mata ku mengintip apa yang akan rubah tua ini lakukan pada ku.


Wajahnya begitu imut, hingga aku ingin segera melahapnya. Pram menarik sudut bibirnya menatap tingkah konyol Naira.


Pak Pram berbisik di telinga ku dan berkata dengan lembut, "Apa aku tidak salah dengar? Kau bilang aku mau apa? Hem!" Hembusan nafasnya begitu terasa di kulit ku membiat ku merasakan sensasi aneh.


Anak ini, baru seperti ini saja tubuhnya sudah merespon dengan baik.


"Memangnya kenapa jika saya berbuat macam macam dengan mu, hem!" Ujar pak Pram dengan menatap lekat mata hitam ku.


"Saya bisa laporkan bapak ke kantor polisi, atas tuduhan pelecehan." Ucap ku dengan menatap tajam ke dua mata pak Pramana Sudiro kali in


Pram berdecih, "Cih, apa aku tidak salah dengan? Kamu lupa jika kita sudah menikah, hem?"


Benar juga, aku kan sudah sah jadi istrinya, kalo di laporin ke polisi juga gak ada pasal yang bisa menjerat suami yang ingin mencumbu istrinya sendiri kan? Eh...tadi aku bilang apa? Mencumbu? Aku langsung menggelengkan kepala ku.


Anak ini pasti otaknya sudah membayangkannya! pak Pram menarik sudut bibirnya melihat tingkah Naira.


"Apa kau sudah ingat dengan status mu sekarang, hem?" Pramana mencengkeram pipi Naira dengan tangan kanannya dengan suara yang dingin membuat siapa saja yang mendengarnya ngeri.

__ADS_1


Kenapa sekarang dia jadi begini? Apa pak Pram punya kepribadian yang ganda?


"Jawab saya, Naira!"Bentak Pram.


"Bisa tidak sih, kalo bicara itu gak usah pake urat? Saya ini gak tuli kaya ba-!"


"Meemmm."


Pram membungkam bibir ku yang tengah mengoceh dengan rakusnya, menuntutnya menjadi ciuman yang panass menyesappp bibir bawah ku lalu menyelusup masuk ke dalam mulut ku, lidah pak Pram menari nari di dalamnya, mengabsen setiap deretan gigi yang berbaris dengan rapih lalu membelit lidah ku dan merubahnya menjadi pagutan.


Hiks, lagi lagi pak Pram mencuri ciuman ku, entah ini sudah yang ke berapa kalinya, bibir ku benar benar udah gak perawannn, bibir ku ternoda oleh mu pak Pramana Sudiro.


Tangan kirinya menyelusup masuk ke balik baju yang tengah aku kenakan.


Tubuh ku bergetar saat sentuhan hangat yang berasal dari tangannya menyentuh perut ku yang mulus.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk.


"Ah, sialll... berani sekali orang itu mengganggu ke senangan ku!" Pram melepaskan pagutannya dan mengumpat berjalan ke arah pintu.


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2