
...πππ...
Mega dan ka Ayu saling bersitatap, "Fiks gw tau jawabannya!" Gumam ka Ayu dengan suara yang pelan.
"Gw juga tau jawabannya!" Gumam Mega dengan suara yang pelan.
"Orangnya lagi di Jepang, ka!"
[ "Owh ya! Kebetulan aku lagi di Jepang, katakan pada ku siapa nama orang itu!" ]
Aku menyeruput ice cappucino ku lalu melanjutkan obralan ku dengan ka Pram.
[ "Cepat katakan pada ku, siapa nama pria itu!" ]
"Namanya Sudiro, keren kan!" Mata ku mengerling pada ka Pram, apa ka Pram masih belum mengerti juga apa ya kalo orang itu ya dia sendiri.
Pram mengerutkan keningnya, [ "Hanya itu saja namanya?" ] Tanya ka Pram dengan mata polosnya.
Aku menganggukkan kepala ku, kalo gw kasih tau ada nama depannya itu mah sama aja kaga ngasih ka Pram peluang buat mikir hahaha.
Tanpa mengalihkan kamera pada layar hapenya, ka Pram bertanya pada pak Dev yang tengah duduk di kursi depan samping pak sopir.
[ "Apa kau mengenal pria yang bernama Sudiro, Dev? Dia memiliki hotel yang tersebar sampai ke luar negeri, wajahnya tampan, tapi aku jauh lebih tampan, dia keren, aku juga jauh lebih keren darinya... kau mengenalnya tidak?" ]
"Ihs, kaka jangan hanya bertanya... tapi ikut mikir napa ka!" Pinta ku.
Aku mendengar suara pak Dev yang meminta di beri waktu berfikir untuk menjawab pertanyaan ka Pram.
[ "Beri saya waktu untuk berfikir pak." ]
[ "Cepat, waktu mu hanya 10 detik untuk menjawabnya, Dev." ]
[ "Biarkan Dev yang berfikir, aku hanya ingin memandang wajah mu." ]
Ka Pram kembali bertanya pada ku.
[ "Bagai mana tadi di sekolah mu?" ]
"Sama kaya biasa lah, ka... belajar, ngerumpi sama Serli dan Novi."
[ "Bocah tengilll itu tidak mendekati mu kan?" ]
"Gak lah, oh iya ka... aku bisa kan mengajak Serli dan Novi untuk menginap di rumah? Biar aku ada temen ngobrol ka saat tidur."
Ka Pram kembali menatap ku lewat layar hapenya.
[ "Baik lah... jangan gunakan kamar kita, gunakan kamar lain, minta pak Dedi untuk menyiapkan kamarnya!" ]
"Oke, makasih kaka."
[ "Waktu mu sudah lebih dari sepuluh detik, Dev!" ]
Telinga ku mendengar suara pak Dev.
[ "Pria itu adalah bapak, Pramana Sudiro." ]
__ADS_1
Ka Pram tampak diam menajamkan tatapan matanya ke arah ku sedangakan aku hanya terkikik melihat ka Pram.
[ "Dasarrrr bocah nakalll, berani bermain main kau ya dengan ku!" ]
"Ahahahha itu kan tadi aku sudah sebutkan ciri ciri nya, kaka nya aja yang bodohhhh gak bisa nebak... tau kan sekarang yang bodohhhh itu aku atau kaka?" Ejek ku.
"Yaaah pak Pram payah nih... gitu aja gak bisa jawab!" Suara ka Ayu terdengar di telinga ka Pram.
Kening ka Pram mengkerut, aku pun memperlihatkan wajah ka Ayu yang tengah duduk di depan meja kasir sedangkan Mega duduk di samping ku.
"Iya nih pak Pram payah, pak Pram kalo kembali ke Indonesia harus bawakan kami oleh oleh ya! Sebagai hadiah kekalahan." Oceh Mega saat kamera ku arahkan pada wajahnya.
[ "Sejak kapan kalian menguping pembicaraan ku dengan Naira?" ]
"Sejak bapak bilang Nai itu bodohhhh." Ujar ka Ayu.
[ "Kau berani mengatakan Nai ku bodohhhh?" ]
"Diiiih yalaaah... kan bapak sendiri yang bilang Nai itu bodohhhh." Ujar ka Ayu.
[ "Hanya saya yang boleh mengatakan Nai itu bodohhhh!" ]
Kini layar kamera mengarah pada ku lagi dengan wajah merah padam, mata ku melotot pada ka Pram, "Udah ngomongnya? Wassalam!"
Ku akhiri panggilan video call nya.
Mega dan ka Ayu tertawa puas melihat ku yang tengah marah.
"Kepancing dewek kan tuh!" Seru ka Ayu.
Dreeet dreeet.
Hape ku bergetar kali ini bukan panggilan telepon masuk, ka Pram mengirim chat pada ku.
...Rindu kan aku, jaga mata mu untuk tidak memandang pria lain?...
"Nyebelin!" Gerutu ku saat tau isi chat yang ka Pram kirim.
Kembali aku fokus pada ka Ayu dan Mega.
"Terus kalian jadi bisa gitu ngatain gw bodohhh?" Aku mengerucutkan bibir ku.
"Bukan gw yang ngatain lo bodohhhh Nai, tapi Ayu tuh yang ngatain lo bodohhhh." Ujar Mega.
Kepalan tangan kanan ka Ayu mendarat di kepala Mega.
Pletak.
"Iya tapi sekarang lo juga ikut ikutan ngatain Nai itu bodohhhh oncom!" Seru ka Ayu.
πDi tempat lainπ
Di gedung pencakar langit.
Aji tengah duduk di kursi kebesarannya dengan dua orang pria yang berbadan tegak tengah berdiri di depan meja kerjanya.
__ADS_1
Di atas meja kerja Aji terdapat tas kerja berwarna hitam, beberapa lembar foto yang berserakan di atas meja kerjanya.
"Jadi untuk apa bos memanggil kami?" Tanya pria berkepala plontos.
"Aku ada tugas baru untuk kalian!" Aji melempar selembar foto ke depan meja pria yang berkepala plontos.
Pria itu mengambil foto dan memperlihatkan fotonya pada temannya yang berambut gondrong.
Ke dua pria itu menyeringai.
"Aku mau kalian culik gadis itu!" Perintah Aji dengan tatapan tajam dan suara yang dingin namun tegas.
"Hidup atau mati, bos?" Tanya pria yang berambut gondrong.
"Aku mau kalian membawanya hidup hidup, jangan sampai ada yang lecettt dengan gadis itu!"
"Sepertinya bos suka dengan daun muda!" Seru pria yang berambut gondrong.
"Itu bukan urusan kalian!" Seru Aji, "Tugas kalian adalah melakukan apa yang aku perintahkan!" Ujar Aji lagi.
"Baik, bos!" Seru pria yang berkepala plontos.
"Siap, bos!" Seru pria dengan rambut gondrong.
"Tunggu apa lagi! Cepat lakukan!" Seru Aji dengan suara naik dua oktaf.
"I- iya, bos!" Ke duanya pun meninggalkan ruang kerja Aji, pria yang membayarnya untuk menculik seseorang yang ada di dalam foto yang kini ada di tangan pria yang berkepala plontos.
"Kita lakukan dulu pengintain, setelah itu baru kita culik gadis ini!" Oceh pria yang berkepala pelontos.
"Aku ikut saja lah... ngomong ngomong, bos kita kali ini sepertinya tidak lihat umur ya! Suka dengan yang muda." Seru pria yang berambut gondrong.
Pletak.
Pria berkepala plontos mendaratkan kepalan tangannya ke kepala rekannya yang berambut gondrong.
"Jaga bicara mu! Karena mulut mu yang banyak bicara itu, kau hampir membuat bos marah."
"Iya iya, aku kan tidak sengaja."
πDi Jepangπ
Sampai di hotel Pram dan Dev masuk ke kamar dan langsung mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah 7 jam 29 menit di dalam pesawat, belum lagi menempuh perjalanan mobil untuk sampai di hotel tempat mereka menginap.
Dev mengabari istri dan anaknya jika ia sudah sampai di Jepang.
Sedangkan Pram langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang berasal dari shower.
Di atas kasur, Dev membuka tas kerja yang ia bawa berniat ingin mengeceknya.
Mata Dev membola melihat isi tas yang ia bawa, "Apa apaan ini!"
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π