Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Fakta lain


__ADS_3

...💖💖💖...


"Iya aku sudah menikah, tapi kami belum melakukan resepsi pernikahan. Aku tunggu kabar baik dari mu!" Pram langsung memutus kan sambungan teleponnya.


Setengah jam sudah berlalu, Pram berjalan mondar mandir, bak teriskaan yang sedang menggosokkk kemeja lusuh, dengan wajah yang tampak cemas.


Tap tap tap.


Suara beberapa pasang sepatu langsung terdengar di indra pendengaran Pram, langkah yang semakin dekat dengan tempat Pram saat ini berpijak.


Pram menoleh ke arah asal suara. Ia tersenyum meski hampir tidak terlihat, nampak di matanya ada rasa haru saat mengetahui siapa yang sedang berjalan ke arahnya. Tiga pria bewajah Jepang, dengan jubah hitam yang melekat pada tubuh ke tiganya. Berjalan menghampiri Pram.


"Hei hei hei, apa aku tidak salah lihat? Apa ini Pramana Sudiro yang aku kenal? Kaka ku yang hebat!" seru seorang pria yang berjalan di tengah.


"Tidak usah datang jika kau ke sini hanya untuk meledek ku!" sungut Pram dengan mengulurkan tangan nya ke depan Mr. Takeshi.


"Aku hanya bercanda ka!" Mr. Takeshi langsung memeluk Pram, tangannya langsung menepuk nepuk punggung Pram, "Kau tenang lah ka, kaka ipar pasti akan baik baik saja!" seru Mr Takeshi.


"Apa kau sudah menjalan kan apa yang aku minta?" Pram menjarak tubuhnya dengan Mr. Takeshi dengan kening yang mengkerut.


"Kau tenang saja lah ka, aku sudah mengerahkan beberapa orang ku, untuk mencari ke beradaan wanita itu!" ucap Mr. Takeshi.


"Eeem ini ka, kau pasti belum makan kan!" ujar Toda, menyerah kan paper bag pada Pram.


"Terima kasih ya! Kalian sampe repot repot membawakan ku makanan!" tangan Pram meraih paper bag itu, ia langsung menduduk kan dirinya di kursi tunggu, yang ada di depan ruang operasi. Paper bag itu juga ia letak kan di samping tubuhnya.


"Ngomong ngomong ka, kenapa kaka bisa berhubungan dengan wanita itu? Itu kan Harumi, pebisnis muda, putri dari keluarga Yong." tanya Mr Takeshi.


"Kau bertanya di waktu yang tidak tepat!" sungut Pram yang terus menatap pintu operasi yang masih tertutup rapat.


"Kaka ipar pasti akan baik baik saja, ka! Ada dokter yang sedang menanganinya." hibur Toda dengan menepuk bahu Pram.


"Tapi aku khawatir, sejak tadi... tidak ada yang ke luar ruang operasi. Aku tidak tahu bagai mana kondisi Naira saat ini." ucap Pram dengan membuang nafas dengan kasar.

__ADS_1


"Kalian dengar itu, wanita yang berhasil membuat ka Pram percaya dengan wanita... kini sedang berada di ruang operasi, sudah terlihat betapa berartinya wanita itu untuk mu ka!" ujar Mr Takeshi.


"Dia berbeda... dengan wanita yang selama ini menjadi penghangattt ranjang ku!" ucap Pram dengan jujur.


"Sejak kapan ka Pram berada di Jepang? Kenapa tidak mengunjungi kami?" tanya Zang, pria berbadan tinggi, namun kurus, dengan rambut panjang.


"Sudah beberapa hari yang lalu, aku memang belum sempat mengunjungi kalian. Rencananya setelah dari Kokusai dori, aku akan mengajak Nai menjumpai kalian." terang Pram dengan ke dua tangan yang bertumpu pada ke dua pahanya, dengan duduk yang condong ke depan.


"Kirain ka Pram sudah lupa dengan kami, setahu ku... ka Pram sering kan berkunjung ke Jepang, tapi tidak pernah lagi mengunjungi kami." ujar Zang dengan sinis.


"Zang! Jaga bicara mu!" sela Mr. Takeshi dengan lirikan matanya yang tajam.


Pram mengibaskan tangannya, "Biarkan Zang bicara, aku suka dengan ke jujurannya!"


Toda menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mencari ke beradaan seseorang, "Oh iya ka, di mana Haikal, Dega dan Dev? Tidak mungkin kan, jika kaka datang ke Jepang hanya berdua saja dengan kaka ipar!"


"Pada ke nyataannya, aku memang datang ke Jepang hanya berdua dengannya!" Pram merogoh hape nya saat hapenya bergetar.


Dreeet dreeet dreeet.


"Ada apa Haikal?" tanya Pram, setelah menjawab panggilan teleponnya.


[ "Orang ku sudah berhasil meringkus, dalang di balik percobaan penculikan pada Nona Muda, bos!" ]


Pram langsung mengerut kan keningnya, "Siapa pelakunya? Apa kau sudah berhasil meringkusnya?"


[ "Tentu saja sudah berhasil meringkusnya bos, dia sudah di aman kan di markas. Apa bos yakin... ingin saya mengatakan siapa dalangnya?" ] terdengar suara Haikal yang tampak ragu, untuk mengatakan yang sebenar nya pada Pram.


Pram memijat batang hidungnya, berkata dengan penuh penekanan, "Kau mau katakan atau aku akan menghabisiii mu, Haikal! Katakan sekarang juga! Siapa dalangnya!"


Ucapan Pram, membuat Mr. Takeshi, Zang dan Toda menatap ke arah Pram dengan tatapan yang penuh selidik dan rasa ingin tahu.


[ "Daren, bos. Dalangnya adalah Daren." ]

__ADS_1


"Apa kau yakin? Apa orang mu tidak salah dalam melakukan penyelidikan?" tanya Pram yang tampak tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


[ "Awalnya saya juga tidak yakin bos, tapi setelah bos dan Nona terbang ke Jepang, Saya menemu kan fakta lain di dalam kamar Tuan Daren yang ada di kediaman Pramana." ]


"Haikal, mungkin aku dan Naira akan lebih lama berada di Jepang. Urusan di Indonesia, aku percaya kan pada kalian berdua. Ingat, kau harus bekerja sama dengan Dev!"


Yang menjawab bukan lagi Haikal, melainkan Dega, yang ternyata langsung merebut hape Haikal.


[ "Apa waktu seminggu kurang bos, untuk membuat adonan?" ] suara ledekan yang terlontar dari mulut lemes Dega.


"Sialannn kau bocah! Kau gila, mana mungkin aku membuat adonan di saat kondisi Naira tidak memungkinkan!" sungut Pram dengan kesal.


[ "Maaf bos, aku hanya asal bicara. Tapi bos, ada apa bos dengan Nona Muda?" ] tanya Dega.


"Aku tidak bisa mengatakan ini pada mu sekarang! Kalian do'akan saja agar kondisi Naira bisa seperti sedia kala. Ia bisa segera melewati operasinya dengan tanpa halangan." ucap Pram dengan menggaruk kepalanya dengan frustasi.


[ "Apa bos? Nona Muda di operasi? Apa kondisinya sangat parah, bos? Harus sampai di operasi." ] ucap Dega, yang langsung menanyakan keingin tahuan nya pada bosnya.


Toda memberi isyarat pada Pram, untuk mengizinkan nya berbicara dengan Dega di telpon.


"Ada yang ingin bicara dengan mu!" ucap Pram pada Dega, sebelum ia menyodorkan hape miliknya pada Toda.


[ "Siapa yang ingin bicara dengan saya, bos?" ] tanya Dega, namun tidak mendapat jawaban dari Pram.


Pram menyerahkan hapenya pada Toda. Toda langsung menjauh dari Pram dan yang lainnya. Berbicara dengan Dega.


"Hai bro, ke mana saja kau?" tanya Toda setelah berada cukup jauh dari yang lain.


[ "Aku? Selalu ada di Indonesia, kau saja yang sudah lama tidak terbang ke Indonesia!" ] sungut Dega.


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2