
...💖💖💖...
Naira mengerucutkan bibirnya, memutar bola matanya dengan malas, "Ada gitu, orang udah berbuat sesuatu buat istrinya, terus mau pamer gitu ke orang laen. Kalo orang laen itu gak bisa ngelakuin apa yang udah kita lakuin? Itu namanya pamer, ka Pram!" sungut Naira.
Pram mengerutkan keningnya, dan yang pasti di buat tercengang, "Haaa? Jadi menurut mu... aku ini pamer?" Pram mendudukkan dirinya di samping Naira, melakukan apa yang di lakukan Naira, menjuntaikan kakinya ke dalam kolam renang.
"Terus kalo bukan di bilang pamer, mau di bilang apa lagi ka?" Naira mengangkat dagunya kecil.
Pram berkata dengan malas, "Sudah lah, tidak usah di bahas." Pram mengerucutkan bibirnya, namun kakinya yang berada di bawah air, mengelusss kaki mulus Naira dengan usilnya.
Naira membatin meliht kaki Pram yang ada di dalam kolam renang, menyentuh dengan lembut, bergerak mengelusss kakinya dengan ujung jemari kakinya, ga usah bahas, tapi kakinya gak bisa diem!
"Siapa juga yang mau membahas." Naira melirikkan matanya, lalu menoleh ke arah Pram, wah ka Pram lagi kurang obat apa kurang belayain gw? Eh bisa juga abis kejedot tembok ini, jadi rada koslet pikirannya! Gak jelas banget kan! Itu lagi bibir pake manyun, udah orang cakep, mau manyun kaya gimana tetap aja cakep. Beda ya kalo orang jelek, manyun... lah ya kapan tambah ancur itu mah hahaha.
Pram menoleh ke arah Naira, saat wanita itu mentertawakan ocehan nya sendiri dalam hati, membuat Pram terusik dan bertanya dengan ke dua mata mereka yang saling pandang.
Pram memainkan alisnya naik turun, "Sudah puas kau mentertawakan ku, hem?" tanya Pram dengan datar berpura pura tegas, aku sangat ingin mengelitikinya, membuatnya minta ampun pada ku karena menahan geli. Lalu kami tertwa bersama.
"Dih ge'er bener! Siapa juga yang mentertawakan situ? Kurangin dikit apa ka rasa pede mu yang berlebih itu!" saran Naira.
Ting.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Pram yang ada di dalam saku celananya, berbunyi notif dan panggilan pun menyadarkan Pram untuk mengeluarkan nya segera dari dalam sana, untuk menjawab nya.
Pram mengerutkan keningnya, melihat siapa yang menghubungi nya.
__ADS_1
Naira memperhatikan setiap gerakan dan ekspresi wajah Pram, siapa sih yang menelpon? Apa pak Dev, nyuruh balik karena banyak kerjaan yang menumpuk! Atau bang Haikal, karena ada permasalahan, kenapa sulit sekali membaca ekspresi wajah mu, ka! Ini lagi marah kah? Tegang kah? Apa lagi... gak mungkin kalo lagi ngomong sama cewe!
Pram menatap Naira, bertanya tanpa mengeluarkan suara dengan gerakan kepalanya. Naira pun membalasnya dengan hal yang sama, tanpa bersuara dan hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai jawaban jika tidak ada apa apa.
Pram mengfokuskan diri pada seseorang yang menelponnya.
"Ada apa?" tanya Pram dengan datar pada orang yang menghubunginya.
[ "Kaka di mana?" ] tanya Takeshi dengan bersemangat.
"Di risort." jawab Pram singkat.
[ "Apa kaka mau membawa kaka ipar ke bar ku? Aku mengundang kalian ka! Kaka kan sudah lama tidak ke bar. Ajak lah kaka ipar ikut." ]
Dengan tegas, Pram menolak undangan Takeshi, yang meminta Pram untuk mengajak serta Naira ke bar.
Naira yang mendengar Pram menyebut nama Takeshi, langsung mengangguk anggukkan kepala nya, karena pertanyaan nya kini sudah terjawabkan sudah.
[ "Aku tidak mengajari kaka ipar untuk aneh aneh ka! Aku hanya ingin meminta mu untuk membawa kaka ipar ke bar ku." ] ucap Takeshi.
"Untuk apa aku membawanya ke sana? Jangan mengada ada Takeshi!" gerutu Pram.
[ "Aku ingin mengenalkan seseorang pada mu, ka! Kau dan kaka ipar, pasti akan sangat terkejut jika sudah bertemu dengan nya, dengan wanita yang aku maksud." ]
Pram membuang nafasnya dengan kasar, menatap mata bulat indah Naira yang sedang memperhatikan nya, wanita... apa yang ada dalam benak Naira jika aku katakan ini? Apa Nai akan cemburu, jika aku katakan akan bertemu dengan wanita? Apa aku harus membawa nya serta ke bar? Tapi Takeshi lebih mengharapkan kehadiran dirinya dari pada kehadiran ku!"
"Apa aku mengenalnya?" tanya Pram lagi sebelum mengambil keputusan.
__ADS_1
[ "Kaka tidak mengenalnya, tapi akan mengenalnya sebentar lagi. Ajak serta kaka ipar, biar kaka ipar juga bisa mengenalnya. Aku jamin, setelah kalian bertemu dengannya, pasti kalian berdua akan merasa terkejut." ]
Pram mengerutkan keningnya, "Cihhh yakin sekali kau ini! Lihat nanti saja lah! Jika. aku tidak sibuk."
Terdengar suara Takeshi yang terkejut dari sambungan telepon nya.
[ "Apa? Jika tidak sibuk? Kaka! Kau ini, kalian hanya sibuk membuat adonan, mana mungkin kalian sibuk dengan pekerjaan! Aku tahu lo, kalian berdua ke sini hanya untuk berbulan madu! Bukan karena perjalanan bisnis." ]
"Banyak bicara kau!" Pram memutuskan sambungan telepon nya. Menyimpannya kembali ke dalam saku celananya.
"Siapa ka? Kaka serius sekali membahas apa sih dengan Takeshi? Siapa memang yang harus kaka bawa ke sana? Tempat apa memangnya?" cecar Naira dengan berbagai pertanyaan.
"Kau ini sedang bertanya atau sensus penduduk hem?" Pram mendekatkan wajahnya dengan wajah Naira, membenamkan benda kenyal miliknya dengan milik Naira.
Ciuman mereka semakin dalam, Pram merengkuh bahu Naira, melupakan jika mereka sedang berada di tepian kolam renang.
Naira mendorong dada Pram, saat dirinya hampir ke habisan nafas, gila... ka Pram mau bunuh gw secara perlahan apa ya! Gw gak bisa napas ini ka! Sadar woy! Gak lucu kan, istri pengusaha muda mati dengan cara ke habisan nafas karena di cium suaminya.
Byurrrrr.
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤
Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊
__ADS_1