
...💖💖💖...
"Jadiiii?" Naira menatap Pram dan ayahnya secara bergantian.
Kruuk kruk kruk.
Hal yang tidak di duga pun terjadi.
"Eh, perut siapa itu yang udah lapar?" Naira melirikkan matanya pada perut Pram dan ayahnya.
"Enak saja! Itu suara bukan berasal dari perut ku!" sungut Pram dengan mengayunkan kakinya, meninggal kan gazebo.
Heni dan Dito menggandeng lengan Atmaja, kiri dan kanan. Mengikuti langkah Pram dan Naira dari belakang.
"Gak usah malu pah! Hanya kita ini ko yang dengar, gak ada orang luar yang mendengarnya!" ledek Dito.
"Anak kecil gak usah banyak omong! Diam bisa tidak sih!" sungut Atmaja.
Plak.
Heni menggeprak lengan suaminya dengan berseru, "Papah juga diam, nanti di dalam... jangan memancing ke marahan menantu kita! Inget itu oah perkataan mamah!" sungut Heni.
"Iya itu pah, bener banget apa yang di bilang mamah." Dito membenar kan perkataan Heni.
"Kalian ini, kenapa jadi memihak pria kejammm itu? Kalo bukan karena pria itu, Naira tidak mungkin menikah di usia yang masih sangat muda!" dumel Atmaja.
Haikal yang berjalan di belakang ke tiganya, dapat mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan ke tiganya. Sepertinya pak Atmaja masih menaruh dendam pada bos Pram! Bisa menjadi penghalang ini untuk ke harmonisan Nona Muda dan bos.
"Ehem ehem, harusnya kau bersyukur masih bisa melihat matahari terbit dan terbenam, kalo bukan ke murahan hati bos untuk memperistri putri mu. Jika itu tidak terjadi, mungkin saat ini hanya tinggal nama mu saja yang ada!" Haikal berkata dengan penuh penekanan, melewati ke tiganya.
"Papah sih!" sungut Dito.
"Sssttt kalo Tuan Pram mendengar, bisa kacau." ucap Heni dengan suara yang pelan.
Atmaja geleng geleng kepala, kenapa jadi aku yang terus di salahkan, di sini kan aku yang menjadi korban! Dasar Pramana Sudiro, pria tidak tahu diri!
Dita dan Heni tampak kagum, saat menginjakkan kakinya di dalam rumah, rumah yang tampak berkelas. Dengan perabotan yang harganya tidak kaleng kaleng.
Dalam diam, Atmaja juga mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut ruang yang ia lewati, saat akan menuju ruang makan.
Apa rumah ini di bangun khusus untuk Naira? Karena setahu ku, dulunya ini kan hanya sebuah lahan kosong. Bangunan ini juga belum lama berdiri, tidak ku sangka ternyata pemiliknya adalah Pramana, pria yang sangat aku benci.
__ADS_1
"Silahkan duduk!" Pram mempersilah tamunya untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Sedangkan Naira sudah duduk di sisi kanan Pram.
"Dito, sini!" seru Naira pada adik satu satunya, memintanya duduk di sebelahnya.
Dito mendudukan dirinya dengan bergumam, "Waaah Tuan Pram, makanan sebanyak ini... untuk di makan kita semua Tuan? Pasti tidak akan habis ini."
"Jika tidak habis, kau bawa pulang juga boleh." terang Pram dengan menyunggingkan senyum meski sedik.
Heni dan Atmaja duduk di sisi kiri Pram.
"Ayo silahkan di makan! Nikmati hidangannya, semoga cocok dengan lidah kalian." ujar Pram.
Atmaja menatap sinis Pram, sombong sekali, masakan seperti ini sudah pasti cocok dengan lidah kami, kau saja yang jangan jangan tidak pernah menyentuh makanan ini!
Pram tampak sesekali menyuap kan makanan ke dalam mulut Naira, begitu pun dengan Naira yang melakukan hal sebaliknya.
Dalam diam Heni memperhatikan tingkah Naira, semoga ke romantisan yang mereka perlihat kan, bukan hanya saat ini, tapi di setiap saat juga mereka memang seperti ini. Tampak akur, bahagia dan kompak.
"Mama, ayo tambah lagi makannya!" Naira menggenggammm jemari Heni yang ada di atas meja.
Atmaja yang memang tidak suka melihat Pram, berbuat ulah melihat perlakuan Pram pada Naira.
"Cih, berpura pura baik, romantis, pada hal di belakang kami, mana tau. Mungkin saja putri ku mengalami ke kerasannn dalam rumah tangga!"
Pram menyeringai, ingin rasanya saat ini juga ku lenyapkan pria tua ini!
Pram membuang nafasnya dengan kasar. Bersikap setenang mungkin menanggapi ocehan Atmaja,
"Jangan berkata seperti itu papah mertua, ucapan orang tua itu adalah do'a untuk putrinya. Apa kau ingin, putri tersayang mu mendapat perlakuan ke kerasan dalam rumah tangga?" sindir Pram.
Naira terbatuk batuk saat mendengar Pram mengatakannya, "Uhuk uhuk uhuk."
"Minum dulu sayang!" Pram mengambil gelas dan meminum kan nya perlahan pada Naira, dengan tangan satunya yang mengelusss punggung Naira dengan perhatian.
Naira menatap tajam Pram, dasarrr rubahhh mesummm, gak inget apa dia juga kan pernah kasar sama gw, pake nanggepin perkataan papah lagi!
Pram mengerutkan keningnya, memperhatikan wajah Naira yang tampak biasa saja, menyimpan gelas yang ada di tangannya di atas meja, eh apa mungkin... aku pernah melakukan kekerasan pada Nai? Kenapa aku tidak ingat.
Mereka melanjutkan makan siang tanpa ada yang saling bicara lagi, hanya ada ke heningan apa lagi setelah Heni menginjak kaki Atmaja yang berada di bawah meja.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pindah ngobrol di ruang keluarga! Apa papah mertua tidak ke beratan?" Pram beranjak dengan menggenggammm pergelangan tangan Naira, seakan dirinya takut Naira di bawa oleh orang tuanya.
"Aku pikir, setelah ini kau akan mengusir kami untuk pergi... Tuan Pramana Sudiro!" ucap Atmaja dengan ketus, yang ikut beranjak dari duduknya.
"Papah! Jangan mancing mancing deh!" Heni mengelusss lengan suaminya.
"Jika papah mertua menginginkan nya, bisa saja aku lakukan itu pada mu, papah mertua!" Pram kembali menyeringi.
"Apa sih ka! Gak usah di tanggepin, papah cuma lagi ngebual." Naira menarik Pram untuk melangkah ke ruang keluarga, seperti apa yang di katakan Pram.
Obrolan di lanjutkan di ruang keluarga, masih dengan Atmaja dengan tampangnya yang tidak bersahabat.
Sedangkan Naira menyandarkan tubuhnya pada lengan Pram, dengan jemari yang saling mengaittt. Naira dapat merasakan ke marahan yang di pendam Pram, saat ada perkataan papahnya yang menyinggung Pram.
Berbeda dengan Atmaja, Dito dan Heni dapat melihat ke bahagiaan terpancar nyata, di mata Naira saat melihat interaksi ke duanya.
"Apa kau akan tetap di sini, selama liburan putri ku? Apa kau tidak punya pekerjaan di luar selain mengikuti putri ku?" sentak Atmaja yang jengah melihat sikap Pram pada Naira.
"Rupanya papah mertua ku ini cukup perhatian ya! Kau tenang saja papah mertua, putri mu ini tidak akan aku biarkan ke laparan, harta ku tidak akan habis untuk tujuh ke turunan sekali pun!" ucap Pram dengan santainya.
"Halah, sombong sekali kau!" sungut Atmaja.
Dreeet dreeet dreeet.
Haikal menjawab telponnya, lalu mengatakannya pada Pram dengan membungkukkan tubuhnya, dan berkata pelan pada Pram.
"Maaf bos, apa yang bos minta... sudah saya lakukan. Lokasi akan kosong dalam waktu 5 menit dari sekarang." ujar Haikal.
Atmaja membatin, lokasi apa yang di kosongkan dalam waktu 5 menit? Apa yang sedang di rencanakan Pramana Sudiro ini?
"Kau siapkan mobil!" titah Pram pada Haikal.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1