
...💖💖💖...
Pram memukul udara dengan tangan kanan yang terkepal, "Ah sialll." Pram menaiki anak tangga dengan berlari, kenapa aku tidak mencarinya dulu di kamar, bodoh bodoh, awas kau gadis pembuat onar, ku habisi kau saat ini juga!
"Hah, Nona Naira ini, wanita pertama yang bisa membuat Tuan Pram sampai seperti itu!" Dedi menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Pram.
Brak.
Pram membuka pintu dengan kasar.
"Copot lu!" Dengan spontan bibir ku ini berkicau.
Pram melihat ku yang mengenakan seragam sekolah tengah kenyiapkan pakaian kerja untuk di kenakannya di atas kasur.
Pram berjalan dengan cepat, deru nafasnya memburu, matanya menatap ku tajam.
Pram mencengkram lengan kanan ku saat ia sudah berdiri di depan ku, "Kemana saja kau, heh!" Serunya dengan nada tinggi dan mata yang melotot hendak lompat ke luar.
"Awh, sakit, pak!" Aku meringis pakaian pak Pram yang ada di tangan ku pun terlepas.
"Ku tanya! Dari mana saja kau heh! Dasarrr gadis pembuat onar!" Pram membentak di depan wajah ku.
Mata ku menatap tajam pak Pram, di matanya tidak ada lagi kelembutan untuk ku, yang ada hanya kemarahan.
Oh dia bilang aku gadis pembuat onar? Akan aku tunjukan seperti apa gadis pembuat onar yang rubah tua ini maksud!
Ku tepis tangannya yang mencengkram lengan ku dengan kasar.
Dengan tangan kanan ku, berkali kali ku dorong dirinya hingga punggungnya membentur dinding dan tersudut "Bapak bilang apa? Aku biyang onar? Biyang onar yang seperti apa yang bapak maksud? Ayo jawab pak!" Tanya ku dengan suara yang tidak kalah tinggi darinya.
Hap.
Pak Pram mencekal tangan kanan ku dengan tangan kanannya.
"Kau berani pada ku, Naira!" Seru Pram dengan emosi.
__ADS_1
"Iya aku berani!"
"Kau!" Pram hendak melayangkan tangan kirinya ke udara.
"Mau pukul? Ayo pukul! Bapak mau pukul di mana? Di sini? Atau di sini?" Ku tantang pak Pram dengan mendongakkan wajah ku ke arahnya, mengarahkannya pada pipi kiri dan pipi kanan ku bergantian.
Pram mengerang, tangan kirinya memukul udara.
Bugh.
"Akh."
Dengan tangannya ia mendorong tubuh ku hingga terjerembab di atas tempat tidur.
"Mau apa kau Pramana Sudiro!" Seru ku saat pak Pram langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh ku, ia mengungkung tubuh ku yang kecil dengan tubuhnya yang atletis.
Tangan kanannya mencengkram pipi ku, "Ku tanya kau sekali lagi, dari mana saja kau Naira Putri Wiguna!"
Mati lah aku, apa yang mau rubah tua ini lakukan pada ku! "Aku tidak dari mana mana pak Pram!"
Pram melepaskan cengkramannya dan mengamati baju yang aku kenakan, "Mau kemana kau dengan baju ini?" Tanya Pram.
Pak Pram menatap ku tajam, berani bocah ini mengatai ku bodoh!
"Owh, jadi kau mao bilang jika kau itu ingin ke sekolah?" Ejek Pram, "Siapa yang mengizinkan mu?" Tanyanya lagi.
"Apa aku tidak berhak untuk ke sekolah? Aku hanya ingin mendapatkan ijasah, beberapa bulan lagi akan ada ujian sekolah, aku tidak ingin melewatkannya." Ujar ku pada rubah tua yang mulai dingin otaknya.
Pram menyeringai.
Matanya menatap gundukan kembar ku yang tertutupi dengan seragam sekolah yang aku kenakan.
Dada ku naik turun, mendapat tatapan tajam darinya.
"Bapak jangan macam-macam ya!"
__ADS_1
Tangan kanannya terulur membuka kancing seragam ku.
Tangan kanan ku mencoba menahan tangannya, "Jangan pak!" Seru ku dengan menggeleng kan kepala ku, rasanya hati ku masih belum siap melakukan tugas ku sebagai seorang istri di ranjang.
"Aku hanya ingin menikmatinya, ini hak ku kan!" Serunya lagi.
Pak Pram menarik sudut bibirnya saat kancing seragam ku berhasil ia lepas, hingga terpampang gundukan kembar ku yang tertutupi dengan kain hitam berenda.
"Jangan pak! Ku mohon!" Ku rasakan aliran darah ku berdesir hebat saat tangan kanan pak Pram menelusupkan jemarinya untuk mengeluarkan satu gundukan kembar ku dari kain berenda yang menghalangi puncaknya.
"Apa kau tidak ingin ku izinkan ke sekolah, Naira istri kecil ku!" Serunya.
Apa aku harus berakhir seperti ini? Hanya untuk bisa berangkat ke sekolah?
Ku pejamkan ke dua mata ku saat benda kenyal pak Pram mengecup puncak gundukan kembar ku yang telah berhasil ia ke luarkan dan menyembul dari balik renda hitam yang aku kenakan.
Dada ku membusung seperti tersengat aliran listrik, yang awalnya hanya kecupan kini pak Pram memainkan lidahnya di puncak, menye sapnya, meng hisap manisnya benda yang kian membusung padat, pak Pram seolah seperti bayi yang kehausan.
Suara erangan ke luar begitu saja dari bibir mungil ku, ini yang di namakan surga setengah jalan, aku ingin menolak tapi tubuh ku seakan menerima sentuhan pak Pram.
"Emmmh hentikan, pak!" tubuh ku berkali kali seakan tersentak dengan lenguhan memabukkan.
Bukannya berhenti Pram semakin jadi menye sapnya dan melumatttnya dengan rakus, dengan satu tangannya bermain di satu gundukan yang lain.
Memberikan sensasi kenikmatan yang baru ku rasa dari sentuhan tangan pria yang kini jadi suami kejam ku, kadang eror kadang baik.
Pram menye sap gundukan kembar dan menggigitnya, memberinya tanda kemerahan.
Tok tok tok.
Suara pintu di ketuk.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
No komen julid nyelekit