
...💖💖💖...
Novi duduk kembali di tempatnya, berpura pura akan meraih makanannya dan di saat aku lengah hendak mencaplok somay ku ke dalam mulut, di saat itu pula Novi berdiri dengan ke dua lututnya dan memiringkan kepala ku, menyingkirkan rambut yang menutupi leher putih ku.
Mata Novi terbelalak, "Anjiiiir, ini sih beneran...Nai?"
Aku mendorong tubuh Novi, "Ihs nyebelin banget lu pada! Sahabat macem apa sih lu! Kepo banget." Ujar ku dengan menutupi leher ku dengan rambut, menutupi apa yang ada di sana.
Tidak seperti Serli yang sampai jatuh terjerembab, Novi hanya oleng namun tidak membuatnya hilang keseimbangan, ia mendudukkan dirinya kembali.
"Wah gila lu, Nai!" Seru Novi dengan menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah ku, "Lu gak berbuat maksiat kan, Nai? Gak abis maen gila kan lu ama cowo? Atau sama om om? Atau jangan-jangan apa yang di kata Ratna tempo hari itu bener!"
Aku tatap tajam Novi, tega banget ini orang nuduh gw yang bukan bukan.
"Hasil perbuatan siapa itu, Nai?" Tanya Serli dengan toa mesjidnya, apa itu hasil perbuatan orang yang ngusir gw ya? Tapi gak mungkin juga lah, itu orang tampangnya dewasa, masa Naira suka sama yang dewasa, tapi gw juga gak tau kan kriteria cowok Nai itu seperti apa.
"Bujuk busrakkk, toa lu jangan di bawa bawa!" Ku pukul angin ke arah Serli.
"Sorry, gw keceplosan." Serli menutup mulutnya dengan ke dua telapak tangannya.
"Mampusss lo!" Seru Novi pada Serli.
"Lu juga sama, bege! Tuduhan lu ke gw gak beralasan Novi!!" Seru ku, "Enjiiir punya sohib kaya lu pada, mimpi apa gw semalam." Ku garuk kepala ku frustasi.
"Lu sih, gak terus terang aja sama kita!" Seru Novi dengan melirik Serli.
"Gw kan lagi nunggu waktu yang tepat buat ngomong ke lu pada, lu nya aja yang kaga sabaran, pe'a lu pada!" Dengan bibir mengerucut ku palingkan wajah dari Novi dan Serli.
Novi menyikut lengan Serli, "Lu sih, pake toa! Marah tuh dia!" Gerutu Novi.
"Yeeeh, lu juga salah... dodol!" Seru Serli yang tidak terima di salahkan.
Ku lirik mereka, anjiiir sahabat kaga punya akhlak, malah dia pada debat.
Ku raih tongkat penyanggah ku yang ada di sebelah kanan ku, ku usahakan untuk berdiri dengan tongkat ini.
"Mau kemana lu, Nai?" Tanya Novi dengan wajah polos.
"Mau ke mana kek, bukan urusan lu!" Ketus ku berjalan meninggalkan Novi dan Serli, baru kaya gini aja udah pada ribut, gimana kalo sampe mereka tahu kalo gw udah merid, bener apa yang di ucapin rubah tua, mereka gak perlu tahu.
Serli dan Novi mengejar ku.
"Nai, tunggu Nai!" Seru Serli.
"Nai, kita omongin lagi yuk Nai." Ujar Novi.
__ADS_1
"Bodo, gw mau balik kelas aja, lu kalo kau lanjut debat juga terserah, sekalian gih gelut, biar lu pada di giring ke ruang BK." Ketus ku melangkah dengan bantuan tongkat penyanggah.
Entah kenapa juga aku jadi esmosi jiwa menghadapi Serli dan juga Novi, ini bukan diri ku yang biasanya bisa menahan amarah ku, kekesalan ku tapi tidak kali ini, ku tunjukan pada mereka berdua jika aku ini benar benar marah pada sikap mereka yang begitu pada ku, memaksakan kehendaknya untuk aku bisa berkata jujur pada mereka berdua, memang mereka tidak mengenal ku apa?
"Jangan gitu dong, Nai! Kita janji deh gak bakal kaya gitu lagi." Serli berdiri di depan ku, menghentikan langkah ku.
"Iya, Nai... kita janji deh gak kaya gini lagi, kita tuh peduli sama lu Nai! Lu si kalo ada apa apa gak pernah cerita sama kita, tau tau lu udah kaya gini, kita itu cemas sama lu." Cerocos Novi.
Mata para siswa menuju pada kami bertiga.
"Tuh kan kita jadi pusat perhatian, balik lagi yuk taman!" Seru Serli.
"Thanks atas perhatian kalian berdua, kayanya gw butuh waktu buat sendiri dulu, gw juga butuh privasi kan!" Seru ku yang lantas pergi dengan berbalik arah.
"Aiiih Naira, gak pernah kaya gini lo!" Seru Serli kecewa.
"Ya udah, salah kita juga terlalu maksa plus kepo sama Naira, mungkin bener apa kata Nai, dia butuh waktu sendiri dulu, butuh ruang privasi yang gak seharusnya kita campurin." Novi menatap punggung ku yang semakin menjauh dari mereka berdua.
"Ini juga kan karena ucapan lu yang nyelekit itu, Nov... lu gak sadar udah nyakitin perasaan Naira?" Tanya Serli.
"Iya nih, kayanya gw udah keterlaluan sama Naira."
Di sini lah aku sekarang, perpustakaan, ruang penuh buku. Hanya ada beberapa siswa di dalamnya, ada yang membaca ada juga yang mengerjakan tugas, aku cari tempat pelarian yang menurut ku ini lah tempatnya yang pas.
Ku ambil buku komik dari rak buku. Lalu aku bawa ke sebuah meja yang ada di sudut ruang.
Menatap ku dengan lekat tanpa berkedip. Memperhatikan bibir ku yang mungil bergerak komat kamit tanpa suara.
Dreet dreet.
Hape ku bergetar tanda ada pesan masuk.
Ku rogoh saku rok abu ku, ku lihat siapa yang mengirim pesan.
Mata ku membola saat melihat nama kontak yang mengirimi ku pesan. Ini pasti ulah rubah tua.
Suami.
Sedang apa kau gadis onar?
Enak aja berani ngatain aku gadis onar, dasar rubah tua.
Me
Bukan urusan mu! 😋
__ADS_1
Suami
Ingat pesan ku, jangan nakal, jaga mata mu dari makhluk yang bernama bocah tengik.
Me
Siapa bocah tengik? Bapak rubah tua tengil 😋
Suami
Berani kau meledek ku! Terima hukuman mu di rumah!
Me
EGP.
Suami
EGP? What's that?
Me
Cari aja di kamus!
Ku simpan kembali hp ku di saku rok abu ku.
Ke dua mata ku tertuju pada cowok yang duduk di depan ku dengan mengulurkan tangan kanannya ke arah ku.
Kepala ku menoleh kanan dan kiri, mencari sosok yang mungkin aja ini cowok tengah menguji ku, mana ada yang ngajakin kenalan cuma ngulurin tangan, pikir ku.
Lalu ku tunjuk diri ku sendiri.
"Memang ada malaikat cantik mana lagi selain diri mu!" Serunya dengan memainkan alisnya naik dan turun.
"Sayangnya aku itu bukan malaikat, aku itu manusia!" Seru ku yang lantas pergi dari hadapannya dengan tongkat penyanggah dan tidak lupa ku bawa buku komik yang tadi ku baca.
Cowok misterius itu menatap punggung Naira yang berjalan menjauh dari pandangannya.
Menarik juga, kalo cewek laen pasti akan tersipu malu di saat gw gombalin, tapi dia malah jutek... Cewek langkah. Menarik sudut bibirnya ke atas.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
__ADS_1
No komen julid nyelekit