
...💖💖💖...
"Ka Pram mau apa ya? Aneh gitu." Gumam Naira yang mengulurkan tangannya ke arah nakas hendak meraih hapenya.
Grap.
Pram lebih dulu meraih pergelangan tangan Naira dengan menggelengkan kepalanya.
Naira mengerutkan keningnya, "Kenapa ka? Aku kan hanya ingin melihat jam, lalu menelpon Novi dan ka Ayu."
Tanpa banyak berkata, Pram mengenakan jubah panjang pada tubuh Naira, lalu mengenakan jaket pada tubuhnya sendiri.
"Kita mau pergi, ka? Malam malam begini?" Naira di buat bingung dengan tingkah Pram.
Pram menggenggam tangan Naira membawanya ke luar dari kamar menuju lift berada, "Kau ikut lah dengan ku."
"Tapi kita mau ke mana ka? Mau beli seblak ya ka? Atau kaka ada urusan mendadak?" Naira menatap tajam Pram, ka Pram aneh, tadi aja baik baik aja. Kenapa sekarang jadi diam?
"Tanpa aku mengatakannya, nanti kau juga akan tau, sayang!" Pram mengecup jemari Naira yang berada dalam genggaman tangannya.
Ting.
Pintu lift terbuka, pak Dedi mengekori Tuannya ke luar dari dalam lift.
"Mobil sudah siap, Tuan... apa Tuan perlu di antar supir?" Tanya pak Dedi, kasihan Nona, bagai mana jika Nona tahu kalo temannya menjadi korban kebakaran yang menimpa tempat usaha Nona sendiri.
"Tidak perlu, aku bisa membawa mobil sendiri." Pram membukakan pintu mobil untuk Naira di samping kemudi dan mengenakan sabuk pengamannn pada tubuh Naira.
Sedangkan ia mendudukkan dirinya di belakang kemudi.
Dengan kode jari telunjuk kanannya Pram meminta pak Dedi untuk mendekat ke wajahnya setelah kaca pintu mobilnya ia turunkan.
Pak Dedi mencondongkan tubuhnya dengan kepalanya yang mendekat dengan wajah Tuan-nya Pram.
"Kau jaga lah rumah. Habisi siapa saja yang mencurigakan!" Seru Pram dengan suaranya yang pelan.
"Baik, Tuan." Pak Dedi kembali menegakkan tubuhnya melihat mobil yang melesat meninggalkan kediaman Pramana.
"Ada apa sih ka? Kaka mencurigakan banget tau gak!" Naira melipat ke dua tangannya di depan dadanya sedangkan punggungnya bersandar pada kursi mobil yang ia duduki, rasa kantuk yang tadi menghampiri ke dua matanya kini berubah membuat matanya tegar.
Pram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang namun di saat jalan yang sepi ia akan menyalip dengan cepat agar cepat sampai tujuan.
Di belakang kemudi Pram hanya sesekali menoleh wajah Naira dengan tangannya yang membelai kepala Naira yang tampak tegang saat dirinya menyalip dan mengemudikan mobil dengan kencang.
__ADS_1
"Ka, bawa mobil jangan ngebut napa! Aku masih ingin hidup, aku belum mau jadi janda atau kaka yang mau jadi duda?" Naira mengomel dengan tangannya yang berpegangan pada pegangan pintu.
"Jaga bicara mu, Nai!" Bentak Pram.
Naira balas dengan suaranya yang meninggi, "Makanya bawa mobil jangan ngebut, pelan asal sampai kan bisa ka!" Sungut Naira.
Perjalanan yang harusnya di tempuh Naira dan Pram 45 menit untuk sampai di rumah sakit menjadi 15 menit.
Ciiiiit.
Pram menginjak pedal rem saat mobil yang ia kemudikan sudah berada di parkiran rumah sakit.
Naira membola dan tanpa ia sadari Pram sudah turun dari dalam mobil, rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa ka Pram sakit perut sampai sampai ngebut bawa mobilnya.
Ceklek.
Grap.
Pram menggenggam tangan Naira, "Ayo kita turun!"
Naira turun dari dalam mobil, mendongakkan wajahnya menatap Pram dengan wajah bingung.
Langkah kaki Naira mengimbangi langkah kaki Pram yang membawanya memasuki rumah sakit menuju lorong lorong rumah sakit hingga membawanya pada suatu ruang rawat dengan beberapa wajah yang Naira kenali sedang berdiri dan ada di antara mereka yang sedang duduk di kursi rumah sakit.
Naira menajamkan matanya, "Itu kan... ada apa mereka di sini? Di mana ka Ayu dan Novi?" Naira menoleh ke arah Pram.
Jeger.
Jantung Naira berdegup dengan kencang, mendengar apa yang Pram katakan padanya.
Ke dua kaki Naira seakan lemas tidak bertulang. Tubuh Naira oleng namun dengan sigap ke dua tangan Pram membawa Naira dalam gendongannya.
"Ini alasannya kenapa aku tidak memberi tahu mu dari awal." Ujar Pram dengan lembut.
"Apa yang terjadi dengan mereka, ka?" Tatapan Naira kosong, apa mimpi gw tadi itu pertanda ya? Ya Allah bodoh banget gw, jangan sampe kalian kenapa napa.
Juni yang melihat Naira dan Pram yang melangkah ke arah mereka pun berseru, "Itu Naira!"
Angga yang sedari tadi mondar mandir langsung menghampiri ke duanya, "Naira kenapa pak?"
"Dia syok." Ujar Pram yang melihat Naira diam tidak bergeming dalam gendongannya namun matanya mengembun membuat aliran sungai yang siap menerobos membanjiri ke dua pipinya yang chabi.
Naira di dudukan di kursi dengan Mega yang duduk di samping kanan Naira dan Pram di samping kiri Naira.
__ADS_1
Mega yang sedari tadi kenyang nangis kini menggenggam jemari Naira dengan suaranya yang terisak, "Nai, Novi sama Ayu... Nai! Mereka Nai."
Naira memeluk Mega menangis bersama, menumpahkan rasa sedihnya, dengan terisak Naira bertanya pada Mega, "Novi sama ka Ayu kenapa Mega? Apa yang terjadi?"
"Ada yang membakar kedei, Nai. Ayu dan Novi berusaha buat menyelamatkan barang yang ada di lantai atas tapi sayangnya mereka terjebak buat ke luar dan sekarang mereka kaya gini Nai!" Ujar Mega dengan terisak.
Elsa yang duduk di depannya juga terus menangis dengan Juni yang terus menguatkan dengan memeluknya, tangannya memberi kan belaiannn halusss di punggung Elsa.
Rion duduk melantai dengan kakinya yang di perban dengan matanya yang sembab yang terus menatap ke arah pintu, berharap ada dokter atau pun suster yang akan ke luar dari ruang rawat.
Pram melihat Angga yang mengalami luka di tangannya, "Lebih baik anda juga di rawat sekalian!" Seru Pram dengan suaranya yang dingin dan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Ini hanya luka kecil, pak." Ujar Angga.
Naira mengurai pelukannya pada Mega, memperhatikan setiap bagian tubuh pada Mega, Elsa, Juni, Angga dan Rion.
Naira melihat kaki kiri Rion yang di perban dan wajahnya tampak hitam terkena kepulan asap, "Rion, kaki lo, itu muka lo juga?"
"Gak apa, ini udah di obatin ko." Ucap Rion.
Pergelangan tangan Mega tampak memar dengan wajah yang tidak jauh menghitam karena kebulan asap.
"Mega, tangan lo?" Tanya Naira.
"Gak apa Nai." Jawab Mega dengan menghalus air matanya.
Angga menatap Naira, "Maaf Nai, gw gagal buat jagain kedei yang udah lo titupin ke gw!" Tampak raut penyesalan dari wajah Angga, apa lagi sampai ada yang mengalami luka serius pada Novi dan Ayu.
"Ini bukan salah lo ko bang, ini musibah. Kita juga gak mau kan ada musibah kaya gini." Ucap Naira.
Pram menatap tajam pada Juni dan Elsa yang tidak mengalami luka, "Kenapa kalian bisa tanpa mengalami luka sedikit pun? Tubuh kalian juga tidak ada tanda tanda hitam seperti yang lainnya?"
Naira menoleh ke arah Juni dan Elsa dengan kening yang mengkerut membandingkan apa yang Pram katakan dengan pakaian Mega, Angga dan Rion.
"Iya, kami tadi lagi tidak ada di kedei waktu terjadi kebakaran." Ucap Juni.
"Kalian kemana?" Tanya Naira.
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉