Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Seketika senyumnya menghilang


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram menajamkan matanya, saat melihat seorang pria yang mencuriga kan, tengah menatap Naira dari meja yang tidak jauh dari meja yang ia tempati.


Dari meja lain, aku rasa itu, wanita yang di maksud Nona Harumi?


Pria yang tengah mengincar Naira dan Pram, mulai mengeluarkan hape nya, dan diam diam mengambil foto wanita incarannya.


Namun sayangnya, tampilannya yang begitu mencolok, tingkahnya yang mencurigakan, tanpa ia sadari ternyata sudah terendus oleh Pram.


Naira mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan sikap Pram.


"Apa yang kaka lihat?" Naira mengikuti arah pandangan Pram, ia melihat pria yang mengenakan topi, dan masker, dengan tangan yang memegang majalah.


"Tidak ada, sudah ayo lanjutkan makan mu!" kilah Pram.


Naira mengeruput minumannya dengan tenang, "Jangan di lihatin terus ka! Yang ada orang itu menaruh curiga sama kaka! Terus kaka gagal deh buat meringkus pria itu!"


Pram menatap Naira dengan, mata yang menatap tajam, "Jadi kau juga menyadarinya?" tanya Pram.


"Nyadar lah, emang kaka doang yang nyadar. Noh liet, kaca besar yang ada di atas karyawan restoran, dari sana juga terlihat jelas kan, kalo kita sedang di awasi. Apa kaka tahu itu orang siapa?" ujar Naira yang sudah selesai dengan makanan nya.


Pram mengikuti arahan Naira, dari kaca besar itu ia juga dapat melihat pria bertopi, bermasker, terus melirikkan matanya pada Naira.


"Harumi... itu orang suruhan Harumi. Wanita itu belum jera untuk mengejar ku!" terang Pram dengan tangan mengepalll.


"Sabar sabar, emang begitu resiko punya wajah rupawan, apa lagi kaka termasuk pria mapan. Bocil yang mengerti duit pun, langsung mengantri untuk mendaftar jadi pacar kaka. Iya kan?"


"Sejak kapan kau jadi pintar begitu saat bicara dengan ku?" ledek Pram dengan menangkup wajah Naira.


"Sejak otak kaka jadi ngebleng! Ayo lah, kita harus belanja lagi ka! Kita harus borong!" Naira menarik pergelangan tangan Pram, membuat pria itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan restoran.


Saat ke duanya melewati meja si pria asing, Pram dan Naira berjalan dengan biasa dan sewajarnya, tanpa membuat si pria yang tengah mengintai Naira menaruh curiga.


Setelah melewati beberapa toko, ke dua berjalan tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Naira sesekali matanya melirik, pada benda yang ada di toko saat ia lewati.


"Apa orang itu masih mengikuti kita, ka?" tanya Naira dengan tangan yang memeluk erat lengan Pram, kepala Naira bersandar manja pada lengan Pram.


Biar bagai mana pun juga, ada rasa takut yang menyeruak, meski Naira berusaha tidak terjadi apa apa.


Pram pun menyadari ke gelisahan Naira, ia menggenggammm jemari Naira dengan erat, "Kau tidak perlu merasa khawatir, selama ada aku, tidak ada orang lain yang bisa menyentuh mu! Lagi pula, kau kan bisa bela diri, kita bisa kan menghadapinya bersama sama? Yah anggap saja kau sedang merenggangkan otot otot tangan mu!" ucap Pram dengan menarik sudut bibirnya ke atas.


Naira terkekeh, "Hehehe siapa juga yang takut menghadapi orang itu ka! Aku bisa melawannya seorang diri! Tapi ka, sekarang kaka mengakui kan, ke hebatan ku dalam menghajarrr lawan ku?" ucap Naira dengan percaya diri dan bangga.


"Sejak dulu, aku sudah bangga dengan ke beranian mu itu, sayang! Tapi tetap kau harus was pada, jangan sampai pandangan mu lengah! Itu yang akan membuat lawan mu bisa dengan mudah mengalah kan mu! Kau mengerti itu?" Pram mengecup kening Naira.


"Aku akan mengingat itu!" Naira menyunggingkan senyumnya, memperlihatkan sederet gigi putih nya pada Pram.

__ADS_1


Ke duanya membeli banyak barang, tangan Naira dan Pram sama sama menenteng beberapa paper bag. Belanjaan yang lebih banyak Naira beli, untuk buah tangan yang akan ia berikan untuk keluarga, karyawan, sahabat, bodyguard inti yang selalu bersama dengan Naira.


Dring dring dring.


Hape Pram berdering, membuat Pram menghentikan langkah kaki nya.


"Tunggu sebentar sayang!" Pram meminta Naira untuk berhenti melangkah.


"Kenapa ka?" Naira menghentikan langkah kakinya, mengikuti apa yang di ucapkan Pram.


"Ada yang menelpon ku!" Pram meletakkan belanjaan yang ada di tangannya di lantai dekat dengan kaki ia berpijak, tangannya mulai merogoh saku celananya, menjawab panggilan telepon yang masuk di hapenya.


Naira juga meletakkan paper bag yang ada di tangannya, di dekat kakinya. Melakukan apa yang Pram lakukan.


Pram tampak serius menjawab panggilan teleponnya, Naira yang mulai jenuh, mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada sebuah toko sepatu yang ada di depannya.


Waaah itu sepatu kayu? Apa aku tidak salah lihat? Apa toko itu hanya menjual sepatu yang terbuat dari kayu aja?


Dengan sendirinya Naira melangkah, karena melihat Pram yang masih menggunakan telepon nya. Naira melihat lihat sepatu yang ada di toko yang sejak tadi menjadi perhatiannya.


Setelah melihat lihat, memilih beberapa sandal dan sepatu, Naira langsung membayarnya.


Saat dirinya baru saja ke luar dari toko, tangan Naira langsung di tarik dengan paksaaa.


"Hei! Siapa kau? Apa yang kau lakukan?" teriak Naira, namun pria yang menariknya terus membawa nya menjauh. Enak saja mau main main dengan Nai!


Bugh.


Pria asing itu menatap tajam Naira, tidak menyangka akan mendapat serangan dari wanita yang akan ia culik.


"Sialannn!" gumam pria asing dengan memegangi pinggangnya yang di tendang Naira.


Saat pria asing itu berdiri kembali, dengan gerakan yang sulit di baca, Naira menendang senjata si pria, membuatnya langsung meringis ke sakitan dengan memegangi senjatanya, tubuhnya langsung oleng ke belakang.


Bugh.


"Akkkhhh.'


Di saat itu Naira mengayunkan paper bag yang ada di tangannya, ke wajah si pria dengan kencang.


Bugh.


Tak.


"Aaawwhhh, awas kau bocah!" kenapa wajah ku sakit sekali? Apa sebenarnya isi paper bag itu?


Wajah si pria asing langsung memerah, dengan rasa panas di kulit wajahnya.

__ADS_1


"Ahahahha emang enak! Rasakan itu !" Naira terkekeh melihat si pria asing dengan wajah yang kini memerah.


Naira melihat ke sekitar, sialll aku tidak mengenal mereka semua, apa mereka tidak berniat untuk menolong ku?


Dengan jalan mengangkanggg, pria asing itu berusaha menyerang Naira.


Bugh brak


Pram mendaratkan tendangan di jantung si pria asing, dan memukul kan sikutnya ke wajahnya. Membuat si pria asing terhuyung ke samping, dan jatuh ke tanah.


"Bilang pada Nona mu! Sekali lagi ia melangkah, menyentuh istri ku! Akan ku buat perhitungan dengan nya! Camkan itu!" sungut Pram.


Pram menatap Naira dengan pandangan yang sulut di artikan, ia melangkah kan kakinya menghampiri Naira.


Naira yang melihat tatapan Pram, membuatnya tidak bisa bergerak, mati dah gw, ka Pram marah ini kayanya, "Ka- ka Pram dari mana aja? Aku tidak apa apa kan! Aku---"


Grap.


Pram memeluk Naira dengan erat, "Jangan pernah menghilang lagi dari pandangan ku! Aku tadi mencari mu! Kau tahu betapa paniknya aku, aku takut tidak bisa menemukan mu! Ini negara orang, bukan negara kita!" ucap Pram panjang lebar.


Naira tersenyum, namun seketika senyumnya menghilang, berganti dengan membola. Melihat apa yang akan di lakukan pria asing, yang kini berdiri dengan tangan memegang belatiii, senyum dan tatapan pria itu sangat menyeram kan.


"Ka Pram!" Dalam posisi yang masih berpelukan, Naira memutar tubuhnya dengan Pram.


Sheet.


Jlep.


"Uuuhhhh!" pekik Naira.


"Nai? Apa yang kau lakukan?" Tanya Pram dengan bergetar saat Naira langsung terpejam dan lemas dalam pelukannya, pria asing yang tadi sudah di hajar Pram, kini berdiri di belakang Naira dengan menyeringai.


Dengan membabi buta, Pram langsung menghajarrr pria asing itu kembali, dan beberapa orang yang melihatnya langsung membatu Pram mengamankan si pria asing.


Naira langsung di larikan ke rumah sakit terdekat, saat ambulans yang di hubungi salah satu pengunjung langsung tiba di lokasi.


Di dalam ambulans Pram menggenggammm jemari Naira, kau harus membuka mata mu, sayang! Tidak akan terjadi apa apa dengan mu! Harusnya kau biarkan pria itu yang melukai ku, aku tidak akan apa apa, tubuh ku kuat Nai! Lihat... kau sekarang seperti ini!" tanpa terasa, Pram meneteskan air matanya melihat kondisi Naira yang hampir kehilangan kesadaran nya.


Dengan tubuh Naira yang di miring kan, para medis berusaha melakukan pertolongan pertama, sebelum sampai di rumah sakit. Alat bantu nafas juga terpasang di hidung Naira.


Dengan terbata bata, suaranya yang lirih, Naira berkata pada Pram,


"A- aku ti- dak a- pa a- pa ka! Ma- af!"


"Harusnya aku yang minta maaf, aku tidak bisa menjaga mu!" Pram tampak terpukul dengan apa yang terjadi dengan Naira.


......................

__ADS_1


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2