
...πππ...
"Ka!"
Naira berdiri di ambang pintu ruang rawat dengan menatap heran pada ke duanya.
Naira mengerucutkan bibirnya, apa yang ka Pram dan bang Angga omongin ya? Serius amat!
Angga menoleh ke arah Naira, aduh gawat. Apa Naira mendengar apa yang tadi gw omongin sama pak Pram. Gimana dengan pertemanan Naira dengan Elisa jika Naira tahu ini semua?
Pram beranjak dari duduknya dengan tangannya menepuk bahu Angga, "Kau tenang saja, untuk masalah kedei, itu semua sudah aku urus."
"Apa yang kalian omongin ka?" Tanya Naira saat Pram membawa nya masuk ke dalam ruang rawat.
"Tidak ada." Ucap Pram santai.
"Apa yang pak Pram lakukan pada pelaku pembakaran kedei ya? Terus siapa juga yang akan di habisiii pak Pram?" Gerutu Angga dengan menyusul ke duanya masuk ke dalam ruang rawat.
Di dalam ruang rawat tidak banyak kata yang terucap saat Pram masuk ke dalam, masih terbayang di pikiran Ayu saat anak buah Pram tiba tiba saja muncul dengan menodong kan senjataaa apiii di kala pertama kali nya Naira membawa Pram ke kedei.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Pram berdering lagi dari dalam saku celananya.
Pram merogoh hapenya dari dalam saku celananya, melihat siapa orang yang menelponnya.
"Aku jawab telpon dulu!" Seru Pram pada Naira.
Pram kembali ke luar ruang rawat, membuat Naira menatap kepergian Pram dengan curiga.
Naira mengerutkan keningnya, ka Pram angkat telpon dari siapa ya?
"Laki lo, sibuk amat Nai!" Cicit Ayu.
"Lo kaya ga tau aja ka, pak Pram kan orang sibuk, beda lah ama kita ini!" Oceh Novi.
"Jadi benar ya, kalian sudah menikah? Lantas bagai mana dengan sekolah mu, nak?" Tanya Bowo.
"Bapak ih, udah deh. Gak usah ikut campur. Diem aja gitu!" Cicit Ayu dengan penuh penekanan.
"Pihak sekolah belum tahu, pak. Hehehe." Ucap Naira, udah berasa kaya tersangka yang ke pergok nih gw ama bapaknya ka Ayu.
"Oh gitu ya nak. Udah kebelet kawinnn ya nak, sama kaya Ayu dulu dengan mantan suami itu." Celetuk Bowo dengan lirikan matanya yang meledek putrinya, Ayu.
"Astaga, bapak... kenapa pake bahasa itu sih!" Wajah Ayu merona malu saat Rion, Novi, Angga, Mega serta Naira mentertawakan nya.
"Ahahahha gw baru tau ternyata, lo kebelet kawinnn ka sama mantan lo itu?" Ledek Novi.
"Sialannn lo, namanya juga cinta buta. Yang laen pasti lewat lah!" Sungut Ayu.
__ADS_1
"Jangan jangan, lo nikah sama laki lo itu juga karena dung duluan ya, Yu?" Tanya Rion sambil terkekeh.
"Kampretttt lo, gak juga lah." Kilah Ayu, cuma segel keperawanannn gw udah jebol duluan.
Pram kembali masuk ke dalam, menghampiri Naira.
"Aku harus meninggalkan mu di sini untuk sementara waktu, tidak apa kan jika aku pergi sebentar?" Ucap Pram dengan tangannya yang mengelusss kepala Naira.
"Ke mana ka? Lama tidak?" Tanya Naira, ada urusan apa ya ka Pram sampe harus ninggalin gw segala?
"Hanya urusan kantor, tidak akan lama. Nanti aku akan kembali ke sini." Pram mengecup kening Naira.
"Saya titip Naira pada kalian ya di sini! Jangan biarkan Naira sendiri!" Ucap Pram dengan tegas pada semua teman sekaligus karyawan Naira yang ada di dalam ruang rawat.
"Bapak tenang aja pak, Naira aman ko... kan ada kita semua di sini!" Ucap Angga dengan senyum yang tipis di bibirnya.
Pram melenggang pergi meninggal kan ruangan.
"Pak Pram mau ke mana, Nai?" Tanya Serli dengan setengah berbisik pada Naira.
"Mana gw tau Ser, kan lo denger sendiri. Ka Pram gak bilang mau pergi ke mana." Ucap Naira.
Novi menggenggammm jemari Naira yang tengah duduk di tepian ranjang rawat nya.
"Kenapa?" Tanya Naira dengan mengangkat kepalanya.
"Apa pak Pram gak bahas sesuatu gitu, emmm hape jadul lo gitu!" Seru Novi.
Novi meminta Naira untuk mencondongkan tubuhnya padanya, di saat Naira sudah mencondongkan tubuhnya. Novi mengatakannya dengan suaranya yang pelan.
"Lo salah Nai, hape lo udah bener... emmm tadi ada yang bilang sama gw, kalo hape lo udah bener ko. Apa ada yang lo sembunyiin dari pak Pram?" Ucap Novi.
Naira menegakkan tubuhnya kembali, dengan keningnya yang mengkerut, kalo hape itu udah bener, kenapa ka Pram gak kasih hape itu ke gw? Mau ka Pram apain itu hape?
πMarkasπ
Haikal masuk ke dalam ruang eksekusi, dengan membawa serta Elisa yang tengah berada dalam gendongan anak buahnya.
Ceklek.
"Haikal, lepasinnn gw sekarang juga!" Seru Karin, sialannn kenapa mereka pake bawa Elisa?
"Kenapa Nona Karin? Apa kau terkejut... dengan hadiah yang aku berikan pada mu?" Tanya Haikal dengan menatap remeh Karin.
"Apa yang kalian lakukan pada Elisa?" Tanya Karin dengan bibir yang bergetar, mendapati Elisa yang tengah tidak sadarkan diri.
Sama dengan dirinya, Elisa juga mendapatkan perlakuan yang sama, di dudukan di kursi dengan tangan dan kaki yang terikattt.
"Tentu saja, memberikan kalian hukuman, karena sudah bermain main dengan Nona Muda ku!" Ucap Haikal dengan suaranya yang dingin, serta bibirnya yang menyeringai.
__ADS_1
Byuuuur.
Haikal menyiramkan segelas air pada wajah Elisa.
"Uhuk uhuk." Elisa terbatuk batuk dengan matanya yang mengerjap, mencoba mengenali di mana ia kini berada. Gw di mana ini? Gw tadi kan lagi di kedei. Kenapa sekarang di sini?
Haikal berjalan ke luar, meninggal kan ke duanya dengan pintu yang ia tutup.
"Begooo lo! Kenapa lo bisa ke tangkep sih?" Tatapan sinis nampak dari ke dua mata Karin untuk Elisa.
"Gw, gw cuma mau cari barang gw yang ke tinggalan di kedei. Gw juga gak nyangka bakal ketangkep sama mereka. Emang mereka siapa ka?" Tanya Elisa pada kaka sepupunya, tangannya mencoba melepasss kan ikatannn yang ada pada tangannya.
"Mereka itu anak buah Pram, lo gak ngenalin pria yang tadi nyiram lo pake air?" Tanya Karin.
Elisa menggelengkan kepalanya, karena saat ia sadar. Pandangan masih kabur dan hanya melihat, punggung pria yang ke luar dari ruangan yang minim cahaya penerang.
Elisa mengerutkan keningnya, sesekali ia menggeleng kan kepalanya, Pram, apa mungkin itu suaminya Naira? Jadi? Gak, gak mungkin... mereka gak boleh tau, kalo gw terlibat sama pembakaran kedei. Karena secara terang terangan gw udah nolak buat ikut rencana ka Karin. Jadi gw gak terlibat secara langsung. Iya, gw gak terlibat.
"Heh, begooo. Apa yang lagi lo pikirin?" Karin mencoba mendekat kan kursinya pada kursi yang di duduki Elisa, dengan melompatkan kursinya perlahan ke arah Elisa dengan sekuat tenaganya.
"Ini semua gara gara lo, ka! Ambisi lo buat dapetin pak Pram!" Seri Elisa dengan menatap tajam Karin.
"Lo lupa? Lo juga berambisi buat dapetin Daren kan! Lo berambisi buat dapetin Juni, tapi sayangnya lo selalu kalah saing dengan teman lo itu!" Ejek Karin.
"Gw gak segila lo ka! Lo yang berambisi buat bakar kedei, kedei tempat gw kerja. Lo malah tega nyuruh orang lo, buat bakar kedei di saat masih ada teman teman gw di dalamnya! Lo gila ka! Sintinggg lo ka!"
"Diem lo! Lo lupa! Ide buat ngebakar kedei itu kan dari otak lo!" Sungut Karin.
Ceklek.
Pram berdiri di depan pintu dengan menepuk tangannya, menatap tajam pada ke duanya.
Pok pok pok.
"Bagus ya! Jadi sejauh itu kerja sama kalian berdua?" Tanya Pram dengan suaranya yang berat.
"Pram, a- aku bisa jelaskan ini pada mu!" Ucap Karin, dengan matanya yang menatap dalam pada Pram.
"Maaf pak, a- aku aku di paksaaa oleh ka Karin! Aku sungguh... tidak terlibat dalam semua ini!" Kilah Elisa, gw harus bisa mengelak, lo harus tenang Elisa. Lo harus bisa buktiin kalo lo bener gak terlibat, dengan begitu lo bakal tetap bisa deket dengan Naira. Gw harap... pak Pram gak ngasih tau ini semua ke Nai.
Pram melangkah mendekat ke arah Elisa, dasarrr ular berbisa, beraninya kau membohongi istri ku!
Elisa berujar dengan terbata bata, matanya menatap ngeri melihat mata Pram yang menatap nyalang padanya.
"Emmm, pak... a- aku bisa jelaskan. Ka Karin mencintai bapak, ka Karin ingin menguasai harta pak Pram, dia marah saat a- aku mengatakan bapak sudah menikah dengan Naira, a- aku memintanya untuk menjauhi pak Pram. Ta- tapi ka Karin tidak bisa terima itu semua pak!"
......................
...π Bersambung π...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! π