
...๐๐๐...
Sedangkan Serli duduk di samping Naira, mengenakan headset mendengarkan lagu lewat hapenya.
"Gila bagus banget pemandangan nya, ini baru keren." celetuk Novi.
Selama dalam perjalanan, anak anak yang ada di dalam bis yang di tumpangi Naira. Di hibur dengan petikan gitar yang di mainkan Irfan, dan juga Daren. Dengan vokal Juni, dengan di ikuti oleh suara teman temannya, yang ikut bernyanyi bersama. Nampak sesekali Juni melirikkan pandangan nya pada Serli.
Naira mengeluarkan hapenya dari dalam saku celananya, ka Pram sekarang lagi apa ya? Udah di dalam pesawat... apa masih di dalam perjalanan menuju bandara? Mudahkan dan lancarkan lah segala urusan suami hamba, ya Allah.
Jemari Naira mulai menari nari merangkai kata, hingga menjadi kalimat yang ia kirim untuk Pram.
"Ka, sekarang lagi di mana? Masih di jalan menuju bandara... apa lagi mau naik pesawat? Kalo udah sampe Singapura, kabarin ya ka! Hati hati di jalan my husband."
Serli yang melihatnya, meledek Naira, "Ciyeee, ada yang udah kangen aja nih! Baru juga berapa jam terpisah."
"Apaan si lo! Tau deh yang mau ngikutin jejak langkah gw, hahay deh." gantian Naira yang meledek Serli.
"Kalian kalo ngerumpi, ajak gw napa!" oceh Novi dengan menyembukan kepalanya di antara belakang kursi Naira dan Serli.
"Temen lo mau ngikut jejak gw haha." Naira tergelak dengan menoleh ke arah Novi.
"Jejak apa? Nikah muda?" cicit Novi.
Prak.
Naira dan Serli menggeprak lengan Novi bersamaan.
"Bege, bacot lo! Parah nih anak! " sungut Serli.
"Bacot lo kecilin, Nov!" ucap Naira dengan penuh penekan.
"Ihs sorry, rem gw lagi blong." kilah Novi.
"Alasan bae lo!" Naira mengerucutkan bibirnya.
"Ihs jangan ngambek dong, kalo lo ngambek. Gw bingung nih, gak ada yang bisa jinakin lo! Hehehe secara kita lagi jauh ama pawang lo." ledek Novi.
"Kampret lo, lo kata gw apaan pake pawang, jinak? Lo kata gw binatang buas gitu?" Naira menatap kembali ke luar jendela.
Tampak tanah lapang dengan rumput hijau yang menjadi alasnya, pepohonan yang rindang terbentang. Dengan awan biru yang menghiasi langit yang tampak cerah.
"Ijo banget ya, jadi inget adegan film India gw." celetuk Novi yang ikut menatap ke luar jendela, terbawa suasana dalam hayalan nya.
__ADS_1
Serli mengerut kan keningnya, "Adegan apa?"
"Adegan si cewe lagi maen kejer kejeran ama cowok nya, terus jatoh gitu ke rumput." ujar Novi.
"Ah lu Nov. Bilang aja itu hayan lo buat bang Haikal." celetuk Naira.
"Ahahaha bener banget tuh apa kata Nai. Lagi kangen berat lo ya ama do'i?" ledek Serli.
"Terserah apa kata lo aja deh. Biar lo pada seneng hehehe." Novi membuang nafasnya, melirikkan layar hape nya, ayang paman lagi ngapain ya? Serli kalo nebak suka bener deh, tau bae gw lagi kangen berat. Jadi pengen telpon nih.
Novi hanya menatap layar hape-nya, tanpa berani untuk menghubungi Haikal. Dengan pekerjaan nya yang kadang beresiko, ia hanya bisa menunggu Haikal yang menghubungi Novi lebih dulu.
...โ๏ธDi mobil lainโ๏ธ...
"Bos yakin, ingin membuntuti Nona sampai tempat acara?" tanya Haikal dengan melirikkan matanya pada kaca spion mobil.
"Kau hanya perlu mengikuti perkataan ku, Haikal. Tidak usah banyak bertanya!" gerutu Pram.
Pram menunjuk jari telunjuk kanannya ke depan, "Ayo Haikal, lewati bis itu. Lebih dekat coba, dengan bis yang di naiki Naira ku!"
"Kita jangan terlalu dekat, bos. Yang ada Nona nanti menaruh curiga."
"Benar juga apa kata mu!" Pram membuang nafasnya dengan kasar.
Dalam diam Pram membenarkan apa yang di katakan Haikal. Namun sesat kemudian Pram menatap Haikal dengan tajam, "Kau sedang membodohi ku, Haikal?"
"Naira tidak akan mungkin menaruh curiga pada kita, ini mobil kan baru kita ambil dari showroom! Sudah ayo jalan lebih cepat, aku ingin melihat wajah cantik istri kecil ku." Pram menggerak gerakan ke dua kakinya, sudah tidak sabar ingin melihat wajah Naira, meski tidak bisa menyentuhnya.
Haikal geleng geleng kepala, astaga bos ini. Bagai mana kalo benar terpisah 3 hari, tanpa bertemu dengan Nona, kiamat lah dunia mu bos?
"Kau merutuki ku, Haikal? Aku pasti kan pada mu, Haikal! Aku tidak akan pernah terpisah dari Naira! Kami akan selalu bersama, apa pun yang terjadi!" ucap Pram dengan ke sungguhan, aku benar benar merindukan mu, sayang!
"Iya bos, saya percaya ko. Orang kalo punya banyak duit, apa pun bisa di beli." gumam Haikal kecil.
Haikal melakukan apa yang di inginkan Pram, ia mendahului bis lain, dan berjalan beriringan dalam waktu singkat dengan bis yang di tumpangi Naira.
Pram hanya bisa menyungging senyum nya, dengan mata berbinar, saat ke dua matanya berhasil menemukan sosok yang ia rindukan.
Rindu itu berat, apa lagi buat Pram yang sedang sayang ampe bucin ke Naira ๐คฃ๐คฃ.
Naira tengah menyanggah wajah nya, dengan satu tangan yang berada di jendela mobil, menatap ke luar jendela. Menikmatiii pemandangan luar yang tampak hijau. Hingga tidak menyadari, jika dirinya sedang di perhatikan oleh sepasang mata elang, dari mobil lain yang berada di sampingnya.
"Dengan melihat mu seperti ini saja, hati ku sudah bahagia, Nai." gumam Pram.
__ADS_1
Mobil yang di kemudikan Haikal, mengambil jalur lain, saat akan memasuki gerbang tol.
"Bodoh! Kenapa tidak membuntuti bis itu lagi Haikal!" Pram mengepal kan tangannya, dengan kesal memarahi Haikal, karena untuk sesaat dirinya tidak mendapati wajah Naira.
"Sabar bos, ini mau masuk gerbang tol. Kendaraan yang kita tumpangi bukan bis, jadi kita tidak bisa mengambil jalur yang sama dengan Nona." Haikal memberikan alasan yang masuk akal. Membuat Pram mengerti.
Hingga setiap ada ke sempatan, Haikal akan melajukan mobilnya, beriringan dengan bis yang di tumpangi Naira.
"Aku harap Nona tidak akan menaruh curiga!" gumam Haikal.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Haikal bergetar, ia pun langsung menyambungkan nya, pada aerphon yang ada di telinganya.
"Apa kau sudah berhasil menemukan kejanggalan?" tanya Haikal, saat mengetahui orang yang menghubunginya adalah, salah satu orangnya yang di tugaskan, untuk menyelidiki siapa yang mencelakai Aji, Tuan besar, alias bapaknya Pram.
Pram langsung mengerutkan keningnya, sudah bisa menebak dengan siapa Haikal bicara.
[ "Berdasarkan informasi yang sudah kami dapatkan, ini kecelakaan yang di sengaja, bos." ]
"Bagai mana dengan pelakunya?"
[ "Bukti yang ada, mengarah pada kepala pelayan Tuan besar, bos. Dan ke mungkinan masih ada beberapa nama lain yang terlibat di dalamnya, orang terdekat Tuan besar." ]
"Terus selidiki siapa saja yang terlibat, apa tujuan mereka, dan jangan biarkan mereka lolos begitu saja!"
[ "Baik bos. Bos tunggu saja kabar dari kami. Setiap ada perkembangan, pasti saya akan laporkan pada bos." ] ucapnya dengan mantap, lantas mematikan sambungan teleponnya.
Haikal melirikkan pandangannya pada kaca spion mobil, menunggu Pram untuk mengizinkannya bicara.
"Katakan saja Haikal, apa yang ingin kau katakan!" Pram menyandar kan punggungnya pada sandaran kursi, ia melipat ke dua tangannya di depan dada. Membayang kan jika dirinya tengah memeluk Naira.
Pram mengenakan jaket yang Naira pilihkan untuknya, jaket coupel, yang membuat dirinya jauh tampil lebih muda dari biasanya. Pram memejamkan ke dua matanya untuk sesaat, dengan menghirup nafasnya dalam dalam, aku dapat mencium aroma tubuh mu, sayang. Kau pasti sedang memeluk ku seperti ini.
"Bukti yang ada mengarah pada kepala pelayan Tuan besar, bos." ucap Haikal.
"Sudah ku duga!" Tatapan tajam langsung di perlihatkan Pram, dengan tangan yang mengepal.
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
......................
...๐ Bersambung ๐...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐