
...💖💖💖...
"Ada apa, Tuan? Apa Tuan baik baik saja?" Tanya pak Dedi, yang melihat wajah Pram, tampak berbeda dari biasanya, wajah Tuan-nya tampak cemas.
Tak.
Pram melayangkan kepalan tangannya ke kepala Dedi.
"Cepat bawakan ice bag ke sini! Dan siapakan bubur yang paling enak untuk Naira! Titah Pram pada pak Dedi.
Pak Dedi mengerutkan keningnya, tidak biasanya Tuan-nya akan memberikan perintah seperti itu.
"Untuk apa, Tuan?" Tanya pak Dedi.
"Astaga! Kenapa masih bertanya! Naira demam, cepat pergi dari sini! Harus kembali dalam waktu 5 menit!" Titah Pram dengan suara yang meninggi.
Brak.
Pram membanting pintu setelah mengatakan nya pada Dedi. Kaki Pram langsung melangkah ke arah tempat tidur.
Pram mendudukan dirinya di tepian kasur, samping Naira. Dengan tangan kanannya yang menyingkap selimut yang menutupi kepala Naira.
"Sayang! Hai, jangan seperti ini!" Pram berkata lembut, tangan kirinya menyentuh dan mengelusss pipi Naira. Semalam dia masih baik baik saja, kenapa sekarang jadi demam begini!
Gigi Naira menggeretuk, ke dua tangannya bertautan di bawah dagunya, matanya enggan membuka, "Dingin, dingin dingin ka!" Ucapnya dengan menggigil.
"Sabar ya, sebentar lagi dokter Samuel datang, kau akan di periksa." Ucap Pram dengan lembut.
Dreeet dreeet dreeet.
Pram beranjak dari duduknya, mengambil hape yang ada di atas nakas, begitu hapenya berdering.
[ "Pak, saya hanya mengingatkan. Nanti siang akan ada kunjungan untuk hotel bapak yang ada di Bali, apa bapak akan berangkat sendiri atau saya dampingin pak?" ] Ujar Dev lewat sambungan teleponnya.
"Kau saja yang pergi! Cancel semua meeting hari ini!" Dasar sekretaris tidak tahu keadaan bosnya, mana bisa aku meninggal kan istri ku dalam keadaan sakit.
[ "Tapi pak, ini kunjungan terakhir bapak untuk luar kota. Karena setelahnya, bapak akan mengambil cuti selama seminggu, untuk menemani Nona selama di Bandung." ] Kilah Dev.
"Aku bisa mengandalkan mu, Dev! Kau hendel semua pekerjaan ku! Jika semuanya berjalan dengan lancar, bonus akhir tahun mu akan ku beri 3 kali lipatnya."
[ "Tiga kali lipatnya, pak? Anda serius pak?" ] Tanya Dev.
Tok tok tok.
"Saya masuk, Tuan!" Ucap pak Dedi dari luar pintu kamar Pram.
"Jangan banyak bertanya Dev, kau lakukan saja apa yang aku perintahkan!"
Pram langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa mendengar dulu jawaban dari Dev.
__ADS_1
"Masuk lah!" Ucap Pram, tangan nya menyimpan hapenya di atas nakas.
Pak Dedi langsung masuk ke kamar Tuan-nya, dengan tangan nya yang membawa nampan berisi ice bag.
Pak Dedi menyimpan nampan, di atas nakas dekat Naira tidur.
"Apa Nona sakit, Tuan?" Tebak pak Dedi, dengan melirik Nona Muda-nya yang berada di bawah selimut, indra pendengaran pak Dedi juga menangkap suara Naira yang tengah menggigil.
"Iya, kenapa buburnya tidak kau bawa Dedi?" Tanya Pram yang hanya mendapati ice bag yang di bawa Dedi.
"Masih di siapkan, Tuan... saya permisi Tuan!" Ucap pak Dedi yang lantas ke luar dari kamar Tuan-nya.
Pak Dedi berpapasan, dengan dokter Samuel di pintu kamar Pram.
"Selamat pagi, dokter!" Sapa pak Dedi, pada dokter muda yang tampak kacau jika di lihat.
"Pagi juga, pak. Pak tolong buatkan aku sarapan ya! Maaf merepotkan loh ya!" Dokter Samuel menepuk bahu pak Dedi dan melangkah masuk ke dalam kamar sahabat sekaligus majikan nya.
Pak Dedi hanya mengangguk patuh.
"Kali ini siapa yang sakit Pram!" Oceh dokter Samuel.
"Jangan banyak bertanya! Cepat periksa istri ku!" Omel Pram menatap sebel dokter Samuel.
Dokter Samuel menyimpan tasnya di atas nakas, mengeluarkan peralatan tempurnya untuk memeriksakan kondisi Naira.
"Ini aku sudah datang lebih awal, bodohhh! Kau pikir aku datang ke sini, terbang?" Dokter Samuel membuka ke dua mata Naira yang masih terpejam, sedangkan Naira masih menggigil, dengan giginya yang menggeretuk.
"Mencari alasan saja kau ini!" Sungut Pram.
Dokter Samuel menggelengkan kepalanya, menghadapi mu benar benar membuat tensi darah ku naik!
"Naik saja tensi mu itu, biar kau cepat matiii, dan aku cari dokter pengganti keluarga seperti mu!" Ucap Pram dengan senyum ke menangan.
"Sialannn kau Pram! Kau saja yang matiii dan aku yang akan mengganti kan posisi mu untuk kaka ipar! Hahaha mampusss kau Pram!" Ujarnya dengan tergelak.
Bugh.
Pram melemparkan bantal ke wajah dokter Samuel.
"Astaga, kalian berisik sekali? Pala ku pusing tau gak!" Omel Naira dengan matanya yang ia paksaaa kan untuk terbuka.
"Iya, maaf sayang. Ini semua karena dokter sialannn itu!" Pram mengelusss pipi Naira dengan suara yang lembut.
"Apa? Bisa bisanya kau menyalah kan ku! Dasarrr kau pria pedofilll!" Sungut dokter Samuel membuang bantal ke sembarang arah.
"Bagai mana keadaan nya? Apa Naira baik baik saja?" Tanya Pram dengan wajah yang khawatir.
"Sejak kapan ini berlangsung?" Tanya dokter Samuel.
__ADS_1
"Mana aku tahu, semalam dia masih baik baik saja!" Pram mengerdikkan bahunya.
Dokter Samuel menajamkan matanya pada rambut Naira, tangannya terulur menyentuh bantal kepala yang di gunakan Naira. Dasarrr mesummm!
"Apa kau bilang? Aku mesummm?"
Pram bertanya namun di abaikan dokter Samuel.
Setelah melakukan tensi darah, pemeriksaan standar yang di lakukan dokter pada pasien nya, mengecek bola mata, dokter Samuel membuatkan resep obat untuk Naira.
"Ini! Kau suruh orang untuk membelinya di apotik!" Dokter Samuel menyodorkan selembar kertas, yang berisikan resep obat untuk Naira.
"Ini obat yang bagus kan?" Pram mengecek, daftar isi obat yang akan di berikan pada istrinya itu.
"Iya, paling bagus! Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Dokter Samuel menyimpan kembali peralatannya di dalam tasnya.
"Jadi istri ku ini sakit apa? Tidak ada yang serius kan?" Tanya Pram, yang belum mendengar dokter Samuel mengatakan apa sakit Naira.
"Sini biar aku jelaskan, biar kau tahu kaka ipar sakit apa!" Ujar dokter Samuel yang kini mendudukan dirinya di sofa, yang ada di dekat tempat tidur.
"Katakan saja, aku pasti akan mendengarnya!" Pram mengusapp kening Naira ke atas hingga ke rambutnya, kenapa rambutnya belum kering?
Pram membola, bantal kepala yang di gunakan nya tampak basah! Tidak mungkin karena ini kan? Semalam juga kan Naira mabuk, mungkin karena alkohol, jadinya ia demam. Apa aku harus mengatakan nya pada Samuel? Kalo Naira semalam berada di bawah pengaruh alkohol!
Dokter Samuel menajamkan matanya pada Pram, ia yakin masih ada yang di sembunyikan pria kejammm itu darinya.
Pram mengompres kening Naira dengan ice bag. Menyelimuti tubuh Naira dengan selimut sampai sebatas dada.
"Kau akan baik baik saja, sayang!" Ucap Pram.
"Kau pikir, kaka ipar sakit parah? Kaka ipar hanya masuk angin, 2 sampai 3 hari juga kondisi nya akan pulih." Dokter Samuel menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Cuma masuk angin? Tapi kenapa dia menggigil? Apa tidak sebaiknya kita lakukan citis can?" Desak Pram.
"Tidak perlu!"
Pram mendudukan dirinya di tepian kasur, samping Naira, ia menggenggam jemari Naira, "Apa sebaiknya Naira di infus? Biar cepat pulih! Aku rasa 3 hari cukup lama baginya!" Kilah Pram.
"Bagi kaka ipar atau bagi mu, Pram?" Ledek dokter Samuel.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊
__ADS_1