Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Sport jantung


__ADS_3

...💖💖💖...


Tatapan Juni penuh tanda tanya. Gw baru liet ada kartu ATM yang warnanya item, apa emang bener kaga laku ya? Naira cantik, pak Pram ganteng, emang cocok, tapi kaga deh, pak Pram gak cocok ama Naira yang baik.


"Apa yang kau lakukan di sini!" Mata pak Pram tertuju pada Juni yang terpaku melihatnya.


Mampusss gw. Juni langsung terperanjat dari duduknya dan berdiri.


"Emmm ini anu." Juni menggaruk kepalanya yang tidak gatel, ayo berfikir Jun, cari alasan apa yang masuk akal di telinga pak Pram, matanya tertuju pada 4 piring yang sudah tertumpuk, "Mau angkut piring kotor, iya mao angkut piring kotor." Juni mengangguk anggukan kepalanya dan buru buru meraih piring kotor ini dan membawanya pergi, "Aman gw!" Serunya.


Pak Pram menatapnya, "Dasarrr aneh." Ujarnya.


Ku gelengkan kepala ku saat melihat reaksi pak Pram melihat kelakuan Juni, ihs kaya sendirinya gak aneh aja.


"Ayo kita pulang!" Serunya.


Pak Pram menggendong ku lagi, "Bawa aku ke kasir dulu!" Seru ku yang sudah berada dalam gendongannya.


Pak Pram menyipitkan matanya, "Mau apa lagi?"


Ku perlihatkan padanya uang yang tadi di berikannya pada ku.


"Ribet sekali sih kau itu!" Serunya yang tetap berjalan ke arah kasir.


"Ka, ini buat yang tadi ... sekalian buat kalian jajan, mayan kan bisa buat makan makan!" Seru ku menyodorkan uang lima ratus ribu pada Ayu.


Ayu melongo, "Busrak, Nai ... banyak amat ini?"


"Apa gak kebanyakan itu, Nai?" Tanya Mega.


"Gak ko Megaaa. Itu uang muka dari sport jantung yang kalian rasakan barusan." Ujar ku.


"Apa? Sport jantung?" Cicit Ayu.


Belum aku menjawab pertanyaan Ayu, pak Pram lebih dulu langsung membawa ku pergi menjauh dari kasir. "Terima kasih untuk hari ini ya!" Ku lambaikan tangan pada teman teman ku yang sekaligus bawahan ku di kedei.

__ADS_1


Entah sejak kapan sudah ada orangnya pak Pram yang berdiri di depan pintu mobil dan membantu pak Pram membukakan pintu mobil untuk ku.


Ku lihat pak Pram sedang berbicara dengan orang itu.


"Mereka membicarakan apa ya? Bikin penasaran aja sih!" Bibir ku mengerucut sambil memasangkan sabuk pengaman untuk ku sendiri.


"Kalian langsung bubar!" Seru pak Pram.


"Baik, pak!" Serunya sambil membungkuk hormat.


Pak Pram masuk ke dalam mobil.


"Sejak kapan ada orang bapak di situ?" Seru ku dengan menunjuk ke luar dengan bibir yang mengerucut.


Pak Pram menatap ku dengan kening mengkerut, astaga anak ini ... mau menggoda ku apa ya?


pak Pram tidak menjawab pertanyaan ku, malah langsung melajukan mobilnya meninggalkan kedei.


Ku lihat pak Pram yang berkali kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Bukan urusan mu!" Seru pak Pram ketus.


"Najong dah, jadi cowok gak konsisten banget, kadang baik, tegas, hangat, sekarang jutek, ketus, plus ngeselin." Gerutu ku sambil membuang wajah menatap dan memperhatikan jalan sedangkan pak Pram diam saja fokus dengan jalan dan setir mobil.


Coba hape ku gak di ancurin ama ini orang, udah pasti aku makin jago main game ularnya.


Pak Pram menatap ku sekilas, "Oh ya Nai, apa maksud mu itu uang muka dari sport jantung? Hem?"


Ku tatap wajah tampan pak Pram dari samping, "Bapak pikir aja sendiri jawabannya!" Ku buang lagi wajah ku ke jalan, pemandangan di jalan lebih menggiurkan dari paa melihat wajah nyeselin pria ini, dasarrr rubah tua.


"Jawab pertanyaan ku, Naira!" Seru pak Pram dengan datar.


"Sebodoh lah pak! Suka suka mu sendiri!" Jawab ku ketus.


"Kau kenapa sih?" Tanya pak Pram marah.

__ADS_1


"Bapak pikir aja sendiri, dari tadi aku nanya gak di jawab, selalu di acuhkan... gimana rasanya di acuhkan? Enak gak?" Terang ku nyolot.


Pak Pram membuang nafas kasar.


Mobilnya berhenti di salah satu mall tepat di jam 10 malam, Mall pun tampak sudah akan tutup.


Pak Pram turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk ku, pak Pram membawa ku masuk ke dalam mall yang hampir sebagian tokonya sudah tutup dan hanya beberapa yang masih buka itu pun tampak sedang bersiap akan tutup.


"Kita mau ngapain, pak?" Cicit ku saat di eskalator mall, yang masih betah di gendongan pak Pram, bukan betah sih cuma pak Pramnya aja yang gak ngasih buat aku jalan, toh kalo mau jalan pake tongkat penyanggah juga aku masih bisa, pak Pram kan yang lebay! Hohoho.


"Aku mau menjual diri mu pada laki laki hidung belang!" Serunya ketus.


"Busetttt dah pak, itu moncong minta di sambelin kali mah ya!" Mulai dah bibir nyaplak ku tak bisa di rem, udah kaya mobil yang remnya blong.


"Jaga bicara mu, gadis kecil!" Seru pak Pram dengan tatapan membunuh, awas kau ya, habis sudah kesabaran ku, akan ku habisi kau di rumah, ku buat diri tidak bisa jalan esok paginya!


"Ada juga bapak itu yang harus jaga moncong bapak, seenaknya aja mao maen jual saya, di kata saya ini barang apa yang bisa di perjual belikan? Inget ya pak, saya ini masih istri bapak, perlakukan istri bapak dengan baik jika ingin di perlakukan baik pula!"


Yang bener aja, gw mau di jual ke laki laki hidung belang, di kata gw ini gak laku apa sama cowok yang lempengan dikit, dasar pak Pram gak punya hati. Mau seenaknya aja memperlakukan istrinya!


"Terserah apa kata mu saja, Naira Putri Wiguna!"


Pak Pram membawa ku ke lantai 3, tampak beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam sedang berdiri di salah satu toko yang masih buka, mereka seperti sedang menunggu kedatangan seseorang dan pak Pram melangkah semakin dekat ke arah mereka.


Gila, pak Pram beneran serius ini sama omongannya? Gw harus lari ini mah! Enak aja gw harus ngelayanin laki laki hidung belang, mending gw janda dah kalo kaya gini caranya.


Aku meronta dalam gendongan pak Pram, "Pak, lepas... aku mau turun! Lepas pak!" Seru ku dengan memukul mukul dada bidangnya.


Pak Pram menyeringai ke arah ku, Kena kau ya!


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2