
...πππ...
"Wah seru tuh." Oceh Serli yang sudah konek dengan perkataan ku.
"Yeeeeh mantap jiwa, kita begadang aja yuk!" Seru Novi.
Pletak.
Kepalan tangan ku dan Serli mendarat di atas kepala Novi.
"Lo aja, gw gak!" Seru Serli dengan ketus.
"Udah gw bilang, gak ada kata begadang Noviiiiii!" Seru ku dengan ke dua tangan di pinggang.
Novi mengaduh sakit pada bagian kepalanya yang kena jitakan kepalan tangan ku dan Serli.
Sementara Haikal mengejek Novi dengan sudut bibirnya dari belakang setir kemudi sesekali melirik Novi bersorak gembira melihat Novi yang tengah mengaduh kesakitan.
"Apa lo liet liet, dasarrr paman kulkas!" Seru Novi saat mata mereka saling beradu pandang lewat spion mobil.
"Udah deh, Nov!" Seru ku mengelus lengan Novi.
Serli menatap bingung dengan tingkah Novi dan Haikal, orang yang ada di belakang kemudi. Lewat tatapan mereka terlihat jelas permusuhan dari mata Novi saat melihat pria yang sedang membawa mobil ini.
"Apa ada yang bisa jelasin ini ke gw?" Tanya Serli yang kini memiringkan tubuhnya menghadap ke kursi belakang.
Aku mengerdikkan bahu, "Seperti yang lo lihat, sebenar lagi ada hati yang akan bicara." Oceh ku menoleh ke arah Novi dan Haikal secara bergantian.
Novi memutar bola matanya malas, "Sorry ya, Nai... gw gak level sama cowok modelan kulkas, kaku ga ada sisi humornya." Novi mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Haikal hanya geleng geleng kepala, percuma meladeni bocah ingusan, lebih baik aku diam saja, itu jauh lebih baik.
"Ahahaha, tau gak Nai!" Serli menjentikkan jarinya, "Sebentar lagi kita bakalan dapet peje." Serli menarik sudut bibirnya ke atas.
"Ahahahha iya bener banget itu, kita tinggal menunggu waktunya aja." Oceh ku dengan terkikik geli.
"Ihs kalian ini sohib gw apa bukan sih! Masa iya kalian tega ngeliat gw jadian gitu ama ini paman kulkas."
"Ya gak apa kali, toh bang Haikal ini juga masih jomblo... iya kan bang?" Mata ku melirik Haikal untuk membenarkan perkataan ku.
"Jika di dunia ini hanya tersisa teman Nona itu, saya memilih untuk jomblo seumur hidup saya, Nona!" Haikal menolak keras Novi dengan suaranya yang terdengar kaku bin dingin.
"Ihs, asal paman tau ya! Kalo pun di dunia ini cuma tinggal paman doang, gw juga gak mau tuh sama paman, mending gw jomblo ampe mati, puas lo, paman sok kecakepan!" Ejek Novi dengan mengibaskan rambutnya.
Serli mengerutkan keningnya, "Gak salah denger nih gw? Lo nolak tapi lo ngakuin ini paman cakep?" Oceh Serli.
__ADS_1
"Kapan gw bilang cakep, gak ko!" Novi membuang pandangannya dan melihat ke luar jendela." Apa iya tadi gw bilang paman Haikal itu cakep? Tapi emang cakep sih tapi sayang mulutnya itu kalo udah ngoceh tajem plus dingin mengalahkan dinginnya kulkas.
Haikal membatin, kenapa rasanya perjalanan ini jauh sekali ya? Bisa gila gw jika lebih lama bersama dengan ke tiga ciwi ciwi ini!
Sementara di kediaman Pramana, pak Dedi sudah meminta para maid untuk menyiapkan salah satu kamar dan banyak cemilan untuk Nona Muda nya dan teman temannya, sesuai dengan permintaan Naira.
# Flashback
Saat yang lain tengah sibuk dengan pengunjung di kedei, Naira menghubungi pak Dedi memintanya untuk segera menyiapkan segala sesuatunya.
"Assalamualaikum, pak Dedi!" Ucap Naira pada saat orang yang di hubunginya menjawab panggilan teleponnya.
[ "Wa- waalaikum salam, Nona... apa ada yang bisa saya bantu untuk Nona?" ]
"Emmm begini, pak... malam ini saya akan mengajak ke dua sahabat saya untuk menginap dan saya sudah mendapat izin dari ka Pram... emmm a- anu pak, saya ----"
Naira tampak ragu untuk mengatakannya pada pak Dedi, meminta orang yang lebih tua untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk ia dan ke 2 sahabatnya, lidahnya kelu untuk mengatakannya.
[ "Pasti akan saya siapkan Nona, mau berapa kamar Nona? Atau Nona mau dalam 1 kamar saja untuk kalian bertiga, Nona?" ] Tanya pak Dedi yang sudah mengerti arah perkataan Nona Muda nya ini.
Naira membuang nafas lega, syukur lah, untung aja pak Dedi ngerti maksud omongan gw.
"Emmm satu kamar aja, pak! Cemilannya yang banyak ya pak!" Ujar ku.
[ "Pasti Nona, Nona tenang saja... saat Nona kembali, semuanya pasti sudah siap." ]
[ "Tidak masalah, Nona... ini sudah menjadi tugas saya untuk menyiapkan apa saja yang Nona butuhkan." ]
"Sekali lagi terima kasih ya, pak! Assalamualaikum."
[ "Sama sama, Nona.. waalaikum salam." ]
# Flashback end.
Mobil memasuki kediaman Pramana, pak Dedi sudah berdiri di depan pelataran parkir dan membukakan pintu mobil untuk Nona Muda nya, sedangkan Serli dan Novi serta Haikal membuka pintu mobil dengan tangannya sendiri.
"Makasih, pak." Ucap ku saat pak Dedi membukakan pintu mobil untuk ku.
"Biar saya bawakan tas anda, Nona!" Seru pak Dedi.
"Biar saya aja, pak... gak ada ka Pram ini lah." Oceh ku.
"Tapi sudah tugas saya, Nona." Ujar pak Dedi, "Biar saya tunjukkan kamarnya, Nona!" Pak Dedi mendahului langkah kaki Naira.
Sedangkan Novi dan Serli ikut berjalan di belakang Naira.
__ADS_1
Haikal langsung berjalan ke paviliun.
"Ini kamarnya, Nona... jika ada yang kurang, katakan saja." Ujar pak Dedi dengan tangan kanannya membuka hendle pintu yang ada di lantai bawah.
Naira, Serlindan Novi memasuki kamar yang luas dengan satu tempat tidur berukuran besar dengan tivi yang besar dan lemari pendingin.
"Ini lebih dari cukup ko, pak... makasih ya pak!" Seru ku.
"Sama sama, Nona... kalau begitu saya permisi, selamat beristirahat Nona!" Pak Dedi meninggalkan ke tiganya di kamar itu dan menutup pintunya.
Bugh.
Novi menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap dan tas ranselnya masih menempel di punggung di atas kasur dengan ke dua tangan yang di rentangkan, sepatu yang masih melekat di kakinya, "Gila ini mah gw bakal betah banget nginep di rumah lo, Nai!" Oceh Novi.
Plak.
Serli menepak bokonggg nya Novi.
"Heh, jaga sikap lo e'ge... minta izin sono lo sama pak Pram, gw jamin pak Pram gak bakal ngizinin lo buat nginep lama di rumahnya." Serli mendudukan dirinya di pinggiran kasur sambil melepas sepatunya.
Aku mendudukkan diri ku di sofa melihat Serli dan Novi yang menanti akan ada perdebatan apa lagi di antara ke duanya.
Novi beranjak dari tidurnya dan melepas tasnya yang sedari tadi di punggung bak kura kura yang membawa tempurung.
"Kenapa pak Pram gak izinin gw nginep lama di rumahnya?" Tanya Novi dengan polosnya.
"Lo nginep lama di rumah pak Pram yang ada ini ya, kedamaian yang ada di rumah ini bakal lenyap, secara lo pasti bakal banyak maunya... lo pasti bakal banyak tingkah ke maid, belom lagi lo pasti bakal tebar pesona ke orangnya pak Pram yang ganteng... iya kaga, Nai!" Serli melirik ke arah ku dengan mengerlingkan mata.
πDi tempat lainπ
Aji pulang ke rumah dengan tangan menenteng tas hitam memasuki rumah besarnya.
"Selamat datang, Tuan besar!" Seru kepala pelayan saat membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
Aji tidak menjawabnya dan melewatinya begitu saja.
Langkah kakinya yang lebar menuju anak tangga, "Sayang, lihat ini.. apa yang aku bawa untuk mu!" Suara riang Aji dengan menarik sudut bibirnya ke atas.
"Memang apa yang kau bawa, sayang?" Tanya seorang wanita yang tengah berdiri di ujung atas anak tangga dengan senyum terpaksa, hanya tas yang tidak berharga.
Aji menggandeng lengan Widia dan membawanya masuk ke dalam kamar, "Kau tahu apa isi dari tas ini?" Tanya Aji saat ke duanya sudah duduk di tepian kasur.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π