Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Jalan buntu


__ADS_3

Haikal dan Dev beserta anak buah nya pergi meninggalkan gudang furniture yang terbakar, tidak lupa pula ia membawa furniture yang seharusnya berada di Hotel Pelangi.


Dev melanjutkan perjalanan nya menuju markas dengan Helikopter dan menyelesaikan tugas yang di berikan Pram.


Membuat surat pernyataan yang nanti nya akan di tanda tangani oleh Naira bila terbukti gadis itu tidak bisa membuktikan kebenaran yang sesunggu nya.


Dev tidak habis pikir dengan bos nya Pram, mengenai isi dari surat yang ia buat, hanya helaan nafas berat yang keluar dari bibirnya saat mengetikkan kata demi kata.


"Akhirnya jadi juga... ini sih lebih menguntungkan pak Pram, yang sabar ya nona Naira." gumam Dev menatap beberapa berkas yang sudah ia cetak yang di dalamnya berisi pernyataan dan syarat syarat apa saja yang bisa dan tidak bisa di lakukan oleh Naira.


Angin malam menyapa Naira yang masih duduk di bangku kedei dengan di temani Angga, matanya terfokus pada cctv yang di kirim pak Aziz, namun mau beberapa kali di tonton tidak ada yang mencurigakan mulai dari barang furniture yang di angkut ke dalam konteiner hingga beberapa konteiner yang pergi meninggalkan gudang.


"Apa yang ada dalam pikiran mu, Nai?" tanya Angga.


"Entah lah... tidak ada yang mencurigakan." Naira menarik ke dua bahu nya ke atas.


Sesekali Ayu dan Novi menghampiri meja yang di mana ada Naira dan juga Angga.


"Gimana? udah ada yang ketemu?"


"Udah ada hasil nya, Nai?"


"Ada yang bisa gw bantu, gak?"


"Lu butuh sesuatu, Nai?"


Kalimat itu yang selalu mereka tanyakan pada Naira dan Angga. Ingin membantu tapi tyada yang bisa di bantu selain dengan do'a. Mereka hanya bisa berharap Naira busa ceoat terlepas dari masalah yang sedang di hadapi nya.


"Mungkin gak sih, kalo keanehan itu di sebabkan karena orang nya Pram? karena dari cctv yang di kirim pak Aziz aja kita gak nemuin ke anehan, hal yang mencurigakan apa lagi!" seru Angga.


"Tetap aja kita harus cari buktinya, bang."


"Gimana kalo kita datengin hotel nya?" seru Angga.


"Buat apa?"


"Duh Naira, buat tanyain kalo perlu liet cctv hotel yang di kirimin furniture dari perusahaan bapak lu lah..." Angga menjeda perkataan nya, "Dari sana kita bisa lihat, kontainer mana yang gak nyampe lokasi kejadian... iya gak?" oceh Angga.


"Ya udah ayo." Naira berdiri dari duduknya yang di ikuti Angga.


Namun baru beberapa langkah ia langsung berhenti, "Tunggu... tapi ini udah malam banget, bang." cicit nya.


"Biar abang kabarin Dewi dulu, biar gak khawatir." oceh Angga yang di angguki Naira.

__ADS_1


Malam itu juga setelah Angga memberi pengertian pada istrinya Dewi untuk menemani Naira mencari bukti.


Kedei di percaya kan pada Ayu, Rion dan yang lain nya.


Angga dan Naira langsung menuju ke alamat yang sudah di berikan pak Aziz yaitu Hotel Pelangi yang berada di daerah xx, Jakarta.


"Mudah mudahan di sana kita bisa nemuin bukti nya, Nai." oceh Angga.


"Mudah mudahan ya, bang." ucao Naira.


Perjalanan menuju Hotel Pelangi yang ada di daerah xx cukup jauh jika di tempuh dengan motor memakan waktu sampai 1 jam.


Tanpa Naira dan Angga sadari, mereka sudah di ikuti semenjak mereka ke luar dari kedei.


Di tempat lain.


Pram yang merasa sudah baikan kini tengah duduk di ruang kerja nya dengan berteman kan laptop dan secangkir kopi, ia sedang memeriksa beberapa laporan yang masuk ke dalam email nya.


🎢🎢🎢


Ponsel yang ia letakkan di atas meja kerja berdering.


"Ada apa?"


"Halangi mereka, pasti kan mereka tidak bisa mendapat kan apa yang mereka cari."


"Selamat atau tidak bos?"


"Bodohhh, jangan sampai melukai Naira... cegah mereka dengan cara apa pun kalo perlu tabrakkan diri kalian." bentak Pram.


"Baik, bos."


Pram langsung menutup telponnya dan meletakkan kembali ke atas meja.


Pram mengepalkan tangan nya, "Mau sejauh mana kau berusaha, tetap aku yang akan menang dan aku pasti kan kau akan menuruti apa yang aku katakan, Naira." gumam Pram dengan menarik sudut bibirnya.


Kembali pada Naira dan Angga.


Di saat jalan sepi, motor yang sedari tadi mengikuti Naira dan Angga berusaha memepet motor yang sedang di kendarai Angga dan motor itu berhasil menyerempet ban belakang motor Angga hingga membuat Angga oleng tidak bisa mengendalikan sepeda motor nya.


"Awas, bang." teriak Naira.


Brakkk

__ADS_1


Motor yang membawa Naira dan Angga menyeret mereka beberapa meter hingga akhirnya motor itu berhenti karena membentur trotoar.


"Aah siaaal." dumel Angga yang kemudian berusaha menarik satu kakinya yang tertindih body motor.


"Kamu gak apa apa kan, Nai?" tanya Angga sembari mendirikan kembali motor hijau lumut metik Naira, ia juga membantu Naira untuk berdiri.


"Gw gak apa apa, bang." ucap Naira menerima uluran tangan Angga untuk berdiri, "Akhhh..." Naira memekik kesakitan di iringi ringisan saat menggerakkan kaki kiri nya.


Angga langsung memapah Naira dan mendudukkan nya di aspal.


Angga berjongkok di depan Naira, hendak melepas sepatu yang Naira kenakan di kaki kirinya yang sakit "Akkhhh, sakit bang." ucap Naira lagi.


"Kaya nya kaki kamu antara patah kalo gak terkilir Nai." pikir Angga, "Kita ke klinik terdekat dulu deh, Nai.. kaki lu harus di obatin ini."


"Gw bisa tahan, bang.. yang penting sekarang kita harus sampe dulu ke alamat yang di kasih pak Aziz." Naira menolak ajakan Angga untuk ke klinik, ia lebih mementingkan sampai di alamat yang ia tuju ketimbang kakinya yang luka.


Angga dan Naira tetap melanjutkan perjalanan nya hingga mereka berhenti saat melihat klinik 24 jam dan mengobati luka yang terdapat pada kaki Naira dan luka lecet pada kaki Angga.


Setelah dokter memeriksa kaki Naira dan setelah menjalani CT Scan pada bagian kaki kiri Naira, pergelangan kaki kiri Naira mengalami ankle fracture adalah kondisi saat tulang tulang di sekitar pergelangan retak atau patah tapi untuk kasus Naira hanya mengalami retak sehingga mengakibatkan sendi bergeser dari posisi normal.


Pergelangan kaki kiri Naira di gips untuk melindungi dan menstabilkan struktur tulang yang retak. Dokter juga memberikan beberapa obat yang harus di minum Naira.


"Kita gak mungkin Nai, ngelanjutin perjalan dengan kaki lu yang seperti ini." cicit Angga.


"Apa lu mau gw nyerah dan pasrah sama ke adaan, bang?" tanya Naira meski sakit ia tidak ingin menunjukkan rasa sakit nya, yang terlihat hanya ringisan saat Naira berusaha untuk berjalan.


"Biar gw yang ke sana, lu tunggu di sini." Naira pun menganggukkan kepalanya.


Naira mengistirahatkan tubuh nya di atas ranjang rawat sambil menunggu Angga kembali, Naira menolak untuk di rawat inap, baginya menyelamatkan papa nya jauh lebih penting.


Beberapa saat Angga kembali dengan wajah lesu.


"Gimana, bang?"


"Jalan buntu, Nai... gw gak di bolehin masuk sama security nya, bagi yang tidak berkepentingan dan yang bukan orang nya pak Pram di larang masuk." ujar Angga.


Naira hanya tersenyum pahit mendapati jawaban Angga.


Bersambung....


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit 😊


__ADS_2