
...💖💖💖...
"Kau!" Sita geram mendengar dirinya di ledek oleh Haikal.
Dev yang melihat Sita fokus pada Haikal pun langsung merebut amplop coklat dari tangan Sita.
Sreeek.
"Kembalikan, itu milik ku!" Seru Sita dengan menoleh ke arah Dev yang berhasil merebut amplop coklat dari tangannya.
"Nanti ku pertimbangkan setelah aku melihat isinya!" Dev membuka isi yang ada pada amplop coklat yang di bawa Sita itu, amplop yang akan ia gunakan untuk mengancam Pram.
"Apa ini? Hanya ini saja?" Dev mengejek sita dengan bukti yang kini ada di tangan Dev.
Sreeeeek sreeek byarrrrr.
Dengan tangannya Dev merobek foto tidak senonoh Sita dengan Pram dan foto hasil USG kandungan.
"Berani kau merobeknya!" Seru Sita dengan kesal.
"Aku peringatkan ya! Jangan bodoh jadi wanita, jika kau pikir dengan bukti yang kau bawa ini bisa membuat pak Pram bisa bertekuk lutut pada mu!" Ujar Dev dengan suaranya yang dingin.
"Kalian, bawa wanita ke markas! Kalo perlu buat dia bungkam!" Seru Dev dengan suara yang dingin, wajahnya tanpa ekspresi.
"Enak saja! Aku tidak akan pergi sebelum aku bicara dengan Pram!"
Sita mencoba menerobos memasuki ruang kerja Pram namun di cegah ogah Dev dan pengawal lainnya.
Ceklek.
Pram ke luar dari ruang kerjanya, dengan suaranya yang dingin Pram berkata, "Kalian berisik sekali!" Mata Pram menatap tajam pada Sita, dan beberapa anak buahnya yang berdiri di depan ruang kerjanya.
Sita langsung berhamburan memeluk tubuh Pram yang tegap.
"Pram lihat itu, anak buah mu ngacaukan rencana ku! Aku membawa bukti USG kandungan ku, tapi di robek Dev!" Sita berkata manja pada Pram dengan wajahnya yang mendongak ke arah wajah Pram.
Pram menatap tajam pada Dev, Dev menjawabnya dengan gelengan kepala.
Sita menyeringai, mati kau Dev. Pram akan lebih percaya pada ku! "Sayang, dalam rahim ku, ada anak mu, buah cinta kita!" Seru Sita dengan tangannya yang membawa tangan Pram untuk mengelusss perutnya yang datar.
Kening Pram mengkerut, lalu Pram berkata dengan dingin, "Di dalam sini ada anak ku?" Tanya Pram dengan sorot mata yang tajam siap membunuh siapa saja musuhnya.
Ini bukan anak biologis mu Pram, tapi kau lah yang akan mengakuinya, ya akan ku buat kau untuk mengakui anak ini adalah anak mu, "Tentu sayang, ini anak mu, anak kita!" Seru Sita dengan tatapan yang berbinar.
Pram menyeringai dan mendorong tubuh Sita ke depan Haikal, "Bawa wanita ini ke markas!"
__ADS_1
Haikal menangkap tubuh Sita yang terhuyung ke arahnya, bos Pram mau kau permainkan, dasarrr wanita murahannn.
"Buat dia mengakui siapa anak yang ada dalam kandungannya! Jangan biarkan dia lolos begitu saja!" Seru Pram dengan satu tangannya di masukkan ke dalam saku celana yang ia kenakan.
"Laksanakan bos! Ayo kita bawa wanita ini ke markas!" Haikal mengajak pengawal lainnya untuk membawa Sita ke markas.
"Tidak Pram, jangan... ini anak mu Pram!" Sita meronta ronta dengan tangannya yang di pegangi Haikal dan anak buah Pram lainnya.
Haikal dan yang lain membawa Sita menggunakan lift umum, melihat Sita yang terus meronta ronta dan berteriak, Haikal pun memukul bagian tengkuk belakang Sita hingga ia tidak lagi sadarkan diri.
Pram berdiri dengan satu lengannya yang kekar bersandar pada tiang pintu ruang kerjanya
"Menyusahkan saja!" Sungut Pram yang menatap lift, yang akan membawa Sita dan lainnya ke lantai bawah.
"Apa Nona Naira tidak mendengar keributan ini, pak?" Tanya Dev yang mencoba menyembulkan kepalanya ke dalam ruang kerja Pram.
Pram menatap Dev dengan tajam, "Jangan coba coba kau Dev! Mau mengintip istri ku ya!" Gerutu Pram.
"Ihs pak, kau lupa pak. Istri ku tidak kalah cantik dengan Nona Muda!" Seru Dev dengan gayanya membenarkan kerah kemeja bajunya di hadapan Pram.
"Dasarrr kau! Wanita bucin pada istri!" Ledek Pram.
"Tidak salah pak? Anda juga sudah bucin pada Nona Muda Naira, sudah lah pak mengaku saja pada saya! Rahasia di jamin aman pak!" Dev meledek Pram dengan memainkan alisnya naik turun.
Pram nampak tidak percaya dengan perkataan Dev, masa iya aku sudah bucin pada Naira? Perasaan biasa saja!
"Hei bodohhhh! Di mana pesenan yang ku minta pada mu!" Pram berseru pada Dev.
Dev menghentikan langkah kakinya dan berbalik ke arah Pram, "Belum sampai juga, pak? Es krim untuk Nona Muda kan?" Dev memastikan apa yang belum sampai pada Pram.
"Apa lagi kalo bukan itu, dasarrr bodohhh kau. Cepat kau suruh bagian disert untuk ke ruangan ku! Sekarang juga." Pram masuk ke dalam ruang kerjanya dan langkah kakinya membawanya pada ruang rahasia.
Nampak Naira yang tengah tertidur setelah di buat lelah oleh Pram.
Pram mendekatkan wajahnya pada wajah Naira, "Bangun sayang!" Seru Pram dengan hembusan nafas maskulinnya yang menerpa wajah Naira.
Bukannya membuka ke dua matanya, Naira justru mengalungkan ke dua tangannya pada leher Pram.
"Aku masih lelah ka!" Seru Naira dengan manjanya.
"Atau kau mau melakukannya lagi, sayang?" Tanya Pram dengan jahilnya ingin Naira mengulanginya lagi, memberikan eluskan dan kocokannn pada otongnya yang kini mulai meneganggg di balik segi tiganya Pram.
Tanpa pikir panjang, Naira langsung membuka ke dua matanya dan beranjak dari tidurnya.
Bugh.
__ADS_1
Kening Pram dan kening Naira beradu dengan kerasnya.
"Awhhhh, kaka ih!" Naira meringis dengan tangannya yang mengelusss keningnya.
Tangan Pram juga terulur mengusappp lembut kening Naira dan satu tangannya mengusappp pada keningnya sendiri.
"Sakit ya?" Tanya Pram dengan memainkan alisnya naik turun.
"Udah tau sakit pake di tanya! Kaka konyol!" Naira mengerucutkan bibirnya.
"Ayo kita ke luar tapi kenakan dulu dress mu dengan benar!" Pram mengancing dress Naira yang ia lepas kancingnya tadi.
Pram menggendong Naira dengan satu tangannya menahan bokong Naira agar tidak terjatuh.
"Maaf Tuan, saya tidak melihatnya!" Seru seorang pelayan yang mendorong troli ke dalam ruang kerja Pram.
"Tidak apa!" Pram menjawabnya dengan santai.
"Itu apa ka?" Naira turun dari gendongan Pram dengan ke dua matanya yang fokus pada isi troli yang di bawa pelayan hotel.
"Itu disert es krim, tadi kau menginginkannya kan!" Pram mendudukkan dirinya di meja kerjanya.
"Apa ini mau di taruh begini saja, Tuan?" Tanya pelayan dengan sopan.
"Ia, biar kan saja seperti itu." Ujar Pram.
"Waaah yang benar saja ka, sebanyak ini? Ini untuk ku?" Tanya Naira yang berbinar melihat banyaknya disert es krim yang di bawa oleh pelayan.
"Ini disert es krim yang paling favorit Nona di hotel ini."Ujar pelayan restoran.
"Apa kaka bisa temani aku untuk memakannya?" Naira bertanya pada pelayan wanita yang usianya di atasnya itu.
"Tapi Nona --"
Belum selesai pelayan itu bicara, Pram lebih dulu memotongnya.
"Kau temani lah istri ku menghabiskan itu semua!" Seru Pram tanpa ragu mengakui Naira istrinya di hadapan pelayan restoran.
"A- apa? Is- istri Tuan?" Pelayan di buat ternganga mendengar pengakuan Pram.
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉