Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Datang kembali


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


"Udah sana balik kerja!" Seru Ayu.


"Bentar ka!" Juni melangkah ke meja yang di mana ada Daren duduk seorang diri.


Brak.


Pluk.


Juni menggebrakk meja dengan tangannya.


Bingkisan yang ada di tangan Daren jatuh ke lantai.


"Ngapain, lo!" Juni mendudukan dirinya di kursi yang ada di depan Daren.


Daren membungkukkan badannya dan memungut bingkisan itu dari lantai, ia kembali menyimpan bingkisan itu ke saku jaket yang tengah ia kenakan.


"Ngagetin bae, lo!" Daren mengurut dadanya dengan tangan kanannya.


"Jiah kaya wadon bae lo pake kaget! Ratna gak lo bawa ke sini?" Juni menanyakan keberadaan Ratna, yang tidak lain adalah kekasih Daren.


"Gak usah bahas dia lah." Daren tampak acuh saat Juni membahas Ratna.


"Terus lo ke sini mau ngapain kalo bukan nongki ngajak Ratna?" Tanya Juni dengan kening yang mengkerut.


Daren meraih minumannya dari atas meja dengan tangannya, "Nongki itu gak harus sama cewek!" Daren menyeruput minumannya.


"Jangan bilang lo ke sini cuma buat ke temu sama Nai!" Juni menebak keberadaan Daren di kedei.


Uhuk uhuk uhuk.


Daren tersendak minumannya sendiri mendengar ocehan Juni.


Bugh bugh bugh.


Juni menepuk nepuk punggung Daren, "Makanya kalo minum itu santai aja bro!" Ledek Juni, "Gw gak bakal minta minuman lo!" Oceh Juni lagi.


Daren menepis tangan Juni dari punggungnya, "Sialannn lo, lo nepuk apa mau mukulll punggung gw sih!" Sungut Daren.


Daren meraih tisu yang ada di atas meja, mengusapkannya pada dagu dan celananya yang terkena tumpahan minuman saat ia tersendak tadi.


"Hahaha, gw mau nepuk lah, masa mau mukulll yang bener aja lo."


Daren membatin, dari pada gw nunggu gak ada ke pastian... mending gw tanya Juni aja lah.


Daren menaruh tisu yang sudah ia gunakan ke atas meja, "Ehem, Naira ke mana, Jun? Apa dia gak ke kedei?" Tanya Daren.


Juni menatap tajam Daren, wah ada udang di balik batu ini mah, dareeeeen daren, gw yakin lo mau ngejer Naira, tapi percuma sih... mau lo ngejer ampe beruban juga Naira gak bakal bisa lo dapetin, secara saingan lo kan pak Pram.

__ADS_1


Prak.


Daren menggeprak lengan Juni.


"Kesambettt baru tau rasa lo!" Seru Daren dengan ketus.


"Kampretttt lo, nyumpahin gw lo ya!" Sungut Juni.


"Dih najong lo, gw tanya malah ngelamun, bener dong kalo gw bilang nanti lo kesambet!" Seru Daren tidak mau kalah bacottt dengan Juni.


"Ya lo nanyanya gak bermutu."


Sreek.


Daren menarik kerah baju Juni hingga Juni condong ke depan, berbicara dengan pelan, "Naira ke mana?"


Juni menepis tangan Daren, "Sebaiknya lo jauhin Naira!" Seru Juni.


"Kenapa?"


Juni beranjak dari duduknya dan meninggalkan Daren seorang diri di mejanya, gak mungkin lah gw jujur status Nai sama itu bocah.


Menunggu yang tidak ada hasil, Daren memilih untuk meninggalkan kedei.


πŸ‚Di kediaman PramanaπŸ‚


Jam di dinding menunjukan pukul 2 dini hari.


Tidak jauh dari landasan helipad berdiri dengan tegak pak Dedi.


Tap tap tap tap.


Pram berdiri tegak di depan pak Dedi, melepasss jasnya dan menyerahkannya pada pak Dedi.


Wajah Pram tampak penuh emosi dengan sorot mata yang tajam.


"Selamat datang kembali, Tuan!" Pak Dedi membungkuk hormat pada Pram.


Pram tidak menghiraukan pertanyaan pak Dedi, "Bagai mana keadaannya?" Pram melangkah dengan pasti dengan melipat tangan kemejanya hingga sampai siku.


Pak Dedi berjalan di belakang Pram, mengikuti langkah Tuannya.


"Nona baik, Tuan."


Pram dan pak Dedi memasuki lift, pak Dedi menekan tombol 1.


pram mengerutkan keningnya, "Kenapa kau membawa ku ke lantai 1? Aku ingin menemui Naira." Ujar Pram dengan suara dinginnnya.


"Nona ada di lantai 1, Tuan."

__ADS_1


"Dia tidak tidur di kamarnya?"


"Dari kemarin Nona tidur bersama dengan teman temannya dalam satu kamar, Tuan." ujar pak Dedi.


Pintu lift terbuka.


"Selamat datang kembali, Tuan!" Seru Dega yang berjaga di depan pintu sebuah kamar.


"Bagaimana keadaan di dalam?" Tanya Pram.


"Sepi Tuan, sepertinya sejak jam 9 malam tadi, Nona dan ke 3 temannya sudah tidur." Terang Dega.


Pram terperengah, "Apa? Tiga temannya? Jadi di dalam Naira bersama dengan ke 3 temannya dalam satu kamar? Sejak kemarin?"


"Tidak, Tuan... baru malam ini Nona bersama dengan ke 3 temannya, kalo kemarin Nona bersama dengan ke 2 temannya." Dega menjelaskan panjang lebar pada Pram-.


"Buka pintunya, aku ingin masuk dan melihatnya sendiri!" Perintah Pram dengan tegas yang tak ingin di bantah.


"Huft, tidak ada yang berani membantah, Tuan di sini." Oceh Dega dengan tangan menyentuh hendle pintu dan membukakan pintunya untuk Pram, membiarkan Tuan Muda-nya memasuki kamar yang di jaganya.


Pram melihat bagaimana ke 3 gadis remaja itu tidur bersama dengan istrinya Naira dalam satu ranjang yang ukurannya sangat besar.


"Anak ini benar benar lucu saat tidur." Gumam pram yang melihat istrinya tidur bersama dengan teman temannya dengan posisi yang tidak karuan.


Naira tidur di paling pinggir ranjang dengan tangan membentang menutupi wajah temannya, sedangkan satu kakinya menindih kaki temannya yang lain.


Pram menatap tajam pada kaki kiri Naira, kenapa gips pada kakinya di lepas? Apa kaki kirinya tidak lagi membutuhkan bantuan gips?


Pram melangkah mendekat dengan tangan kanannya yang terulur memberikan sentuhan lembut pada pipi Naira, aku merindukan mu sayang! Istri nakalll ku.


Tangan Pram kini memberai satu lengan Naira, "Aku tidak bisa membiarkan mu tidur di sini di saat aku ada bersama dengan mu."


Dengan perlahan Pram membawa Naira yang tertidur dengan lelap ke dalam gendongannya, "Maaf ya sayang, aku harus menculik mu dari ke 3 teman teman mu ini!" Gumam Pram dengan menyapu pandangan pada ke 3 teman teman Naira yang tengah terlelap dalam tidur mereka.


Dega menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat Tuan-nya Pram ke luar dari kamar dengan ke dua tangannya menggendong Nona Muda Naira yang masih dalam keadaan tidur, terlihat sangat nyenyak.


Pram melewati Dega begitu saja.


Dega membatin, aku tidak salah lihat? Tuan membawa Nona ke luar dari dalam kamar."


Dega menyembulkan kepalanya ke dalam kamar dan dari sana terlihat hanya ada 3 gadis remaja yang tengah tidur di atas ranjang, ternyata benar... Tuan membawa Nona ke luar dari kamar.


Dega menutup kembali pintu kamar itu dengan rapattt, Dega menarik sudut bibirnya ke atas, besok pasti akan ada keributannn ini mah.


Pak Dedi membukakan pintu lift untuk Tuan-nya Pram.


Pram dan Naira hilang di balik pintu saat lift tertutup.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis author gabut


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁


__ADS_2