Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Orang kaya aneh


__ADS_3

...💖💖💖...


"Ehem ehem, apa papa mertua akan tega... hanya membiarkan putri mu ini hanya bisa membayangkan, papa mengena kan daster?" Pram mengelusss perut Naira.


"A- apa maksud mu berkata seperti itu? Jauhi tangan mu dari perut putri ku? Tidak tahu sopan santun! Di depan orang tua malah bermesraan!" sungut Atmaja yang risih dengan tingkah Pram.


"Kaaa! Jangan memacing di air yang keruh, papa lagi kesel malah di buat tambah kesel. Di ademin orang mah!" Naira mengerucutkan bibirnya, rupanya usaha Naira tidak sejalan dengan Pram.


Heni mengerutkan keningnya, memperhatikan tangan Pram yang sedang mengelusss perut rata Naira, "Apa kau sedang mengandung, nak?" tebak Heni dengan mata penuh selidik.


Belum terjawab ke ingin tahuannya Heni, art datang membawakan minuman untuk mereka.


"Waaah udah lama gak liet neng, sekarang makin cantik atuh!" seeu art dengan meletakkan gelas minuman di depan meja Naira dan Pram, lalu menarunya di depan Heni dan Atmaja.


"Ah si teteh bisa aja kalo ngomong! Teteh kabarnya gimana atuh?" tanya Naira pada art yang bekerja untuk orang tuanya.


"Teteh mah baik atuh, neng!" jawab art dengan berdiri memperhatikan wajah pria tampan, yang nempel terus dengan Naira.


"Hei teh Mimi, apa kau lupa tugas mu dengan dapur? Sana masuk! Selesaikan pekerjaan mu di dapur!" oceh Atmaja.


"Iya atuh Tuan besar, ini juga Mimi mau balik ke dapur." seeu Mimi dengan menatap malas Atmaja.


"Teteh balik dulu ke dapur atuh neng!" pamit Mimi pada Naira.


"Iya teh."


"Ehem, jadi sudah berapa bulan?" tanya Heni pada ke duanya.


Naira mengerutkan keningnya, menatap heran pada Heni, "Apanya yang berapa bulan, mah?"


"Masih dalam hitungan minggu mama mertua." celetuk Pram.


"Kalian sedang membahas apa sih?" tanya Atmaja dengan sewot, karena tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan istrinya dan Pram.


Prak.


"Akkhh." pekik Atmaja.


Heni menggeprak paha Atmaja, "Masa papa gak ngerti juga sih! Itu lo!" Heni menggerakkan tangannya, membentuk lingkar pada perutnya.


Naira menatap Pram dengan tatapan curiga, berkata dengan pelan, "Ka Pram bisa jelasin ini semua gak? Aku nyium bau bau gak enak nih."


"Kau lihat saja dulu sayang, yang pasti ini akan menjadi pertunjuk kan untuk menghibur mu dan aku." Pram menyeringai.


"Ehem, mama mertua... bolehkan aku meminta Naira untuk menemani ku, melihat kamar yang dulu ia tempati selama di sini?" ujar Pram pada Heni.

__ADS_1


"Kenapa tidak, kau istirahat lah dulu. Kalo perlu kalian menginap untuk malam ini di sini!" oceh Heni dengan tatapan penuh harapa pada Pram dan Naira.


Pram mengajak Naira beranjak dari duduknya, meninggalkan ruang di mana masih ada Heni dan Atmaja.


Pram menghentikan langkahnya saat akan menaiki anak tangga, "Tunggu aku di atas ya sayang!"


"Loh, kaka mau apa lagi? Katanya mau liet kamar aku!"


"Iya, tapi ada hal yang aku lupakan. Aku tidak akan lama sayang! Naik lah, nanti aku pasti akan menyusul." Pram mengelusss pipi Naira.


"Jangan lama lama!" seru Naira, Pram hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Pram berdiri tidak jauh dari Heni dan Atmaja yang masih berdebat masalah daster.


"Pokoknya papa harus pake daster mama, buat sekali ini aja pah! Masa iya papa tega sama cucu sendiri, gimana kalo pas lahir nanti malah ileran." oceh Heni.


"Mama apa apaan sih! Papa gak liet kalo Naira sedang hamil, itu hanya akal akalan Pramana aja mah, Naira tuh belum hamil." kekeh Atmaja.


"Papa boleh kesel dan gak suka dengan Pram, tapi ini putri kita lo, gimana kalo Naira beneran cuma bisa bayangin papa pake daster, kasian kan putri kita itu. Naira itu putri kita satu satunya lo pah!" Heni membelai lembut lengan suaminya.


Atmaja bersungut dalam hati, sialannn itu Pramana Sudiro, ini pasti hanya akal akalannya saja, dia itu sebenarnya ingin mengerjai ku kan! Pake bawa bawa ke hamilan Naira, yang benar saja.


"Pokonya mama gak mau tau, malam ini buat nyenengin hati Naira, papa harus pake daster mama." Heni menarikkk lengan suaminya, menyerettt nya dengan menggandeng tangannya, membawanya memasuki kamar.


Pram berada di lantai atas, menatap ke dua pintu yang ada di hadapannya, "Yang mana kamar Naira?" tanya Pram pada diri sendiri.


Sementara di dalam kamar, Naira yang merasa bosan pun memilih untuk melangkahkan kakinya, maksud hati ingin mencari ke beradaan Pram, yang belum kunjung masuk ke dalam kamarnya.


ceklek.


Bugh.


Begitu pintu terbuka, Pram langsung menyudutkan tubuh Naira ke dinding, mengunci wanita itu yang tampak masih terkejut.


"Apa yang sedang kaka lakukan?" tanya Naira dengan berusaha lepas, dari tubuh Pram yang menguncinya.


"Seperti yang sedang kau lihat sayang, aku sedang apa?" Pram berkata di dekat telinga Naira, bibirnya menyusuri leher jenjang Naira.


"Ihs ka, jangan gitu ihs. Ini bukan di rumah kita lo!" ucap Naira dengan menggeliet, di hati ada rasa khawatir jika mamanya atau siapa pun itu, akan memasuki kamarnya.


"Memang kenapa jika ini bukan rumah kita, hem? Toh kau ini istri ku kan?" Pram mengangkat tubuh Naira dengan ke dua tangannya yang kekar. Membaringkan tubuh Naira di atas tempat tidur dengan perlahan.


"Kaaa! Jangan nakal ihs." seru Naira dengan jantung yang berdebar, saat Pram berada di atas tubuhnya.


"Apa sih sayang? Apa yang kau takuti hem? Kau dan aku sudah biasa seperti ini kan? Apa kau ingin aku melakukan nya dengan wanita lain hem?" tangan Pram bergerak liar menyusuri lekuk tubuh Naira.

__ADS_1


"Tapi ini rumah mama dan papa, bagai mana jika ada yang tiba tiba masuk ke dalam? Kaka belum mengunci pintunya lo itu?" Naira mengarahkan pandangannya pada pintu.


"Itu tidak masalah, justru yang melihatnya yang akan malu, sudah berani mengusik permainan ku dengan mu! Bukan begitu?" Pram beranjak dari posisi nya dan melangkah ke arah pintu.


Cetek.


Pintu di kunci Pram dari dalam.


"Sudah aman kan?" tanya Pram dengan melangkah kembali, ke arah ranjang di mana Naira berada, dengan melucuti kain yang ada pada tubuhnya.


Naira menganggukkan kepalanya, merona saat memperhatikan apa yang tengah Pram lakukan pada dirinya sendiri, ke dua mata bulatnya memperhatikan 6 roti sobek milik Pram, yang membuat Naira seakan sulit untuk menelan salivanya.


Pram melucuti kain yang melekat pada Naira, "Aku menatikan ini sejak tadi!" seru Pram dengan mengukung tubuh Naira, melakukan penyatuan dengan perlahan.


Untuk sesaat kamar Naira hanya terdengar suara desahannn, erangannn dan lenguhannn dari keduanya.


"Terima kasih, sayang!" Pram mengecuppp bibir Naira dan membawanya memasuki kamar mandi.


"Apa di sini kau membersihkan diri mu? Tidak terlalu besar, namun tidak kecil juga." Pram mengedar kan pandangannya pada kamar mandi yang ia masuki setelah menurunkan tubuh Naira dari gendongannya.


"Ini juga sudah cukup untuk ku ka." terang Naira.


"Lalu aku harus mandi dengan apa? Tidak mungkin kan aku masuk ke dalam itu!" tanya Pram bingung, ia tidak melihat ada shower dan menunjuk kolam berukuran sedang.


"Siapa bilang kaka akan mandi di dalam sana! Yang pasti dengan ini!" Naira menyalakan keran hangat dan membiarkan air mengucur mengisi kolam kamar mandi, lalu tangannya terulur mengambil gayung dan memperlihat kan cara mandi pada Pram.


"Cara mandi yang aneh!" sungut Pram.


"Ada juga kaka yang aneh, orang kaya aneh. Mandi kaya gini aja gak tahu!" ledek Naira.


Pram merebut gayung itu dari Naira, lalu mengguyur tubuh Naira dengan tangannya. Ke duanya tergelak dan mandi bersama.


Tok tok tok.


"Sudah waktunya makan malam, apa yang kalian lakukan?"


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊

__ADS_1


__ADS_2