
Pram menarik sudut bibirnya, "Rupanya pandai juga, Naira ini!" gumam Pram saat melihat kekacauan yang di buat Angga dan Naira di depan rumah melalui layar ponsel nya.
"Naira di luar? dia putri ku! tolong pak, jangan kau sakiti putri ku! dia tidak tahu apa apa." ucap Atmaja.
Pram memanggil Dev dengan jari telunjuk nya agar Dev lebih mendekat lagi pada nya.
"Bawa dia ke sini, bilang... ada yang ingin bertemu dengan nya!" perintah Pram yang membuat Dev langsung mengiyakan dan berlalu pergi.
Pram berjalan mendekati Atmaja, tampak jelas raut wajah Atmaja yang ketakutan dengan ke luar nya keringat dingin.
"Kita akan lihat, apa yang bisa putri mu lakukan untuk ayah tercinta nya!"
Pram menyeringai.
"Tidak pak Pram, aku mohon... jangan libatkan putri ku... apa pun yang kau minta, akan aku lakukan... tapi jangan kau sakiti putri ku, jangan libatkan dia, pak!" Atmaja memelas dan memohon pada Pram.
"Apa yang kau pikirkan, jika aku menginginkan putri mu?" tanya Pram dingin.
"Apa?" Atmaja terperangah mendengar pertanyaan Pram, itu sama saja Pram menginginkan Naira, masa depan Naira pasti akan hancur di tangan Pram yang di kenal kejam.
"Itu tidak akan mungkin, anda tidak bisa begini pak, masalah ini hanya antara saya dengan bapak, kenapa harus melibatkan putri saya, Naira?" Atmaja berusaha menego pada Pram.
"Kau pikir aku ini apa? nyawa mu saja saat ini ada di tangan ku!" bentak Pram, yang merasa kesal dengan Atmaja karen secara tidak langsung menolaknya.
"Jika bukan karena putri mu, saat ini kau sudah menjadi daging yang tidak bearti." bentak Pram.
Wajah pias nampak jelas di tunjuk kan Atmaja.
Atmaja membatin dengan perkataan yang baru saja di ucapkan Pram, Itu sama saja aku sudah di habisi saat ini... tapi tidak ia laukan. Lalu apa alasan nya dengan Naira? Apa yang sebenarnya dia ingin kan dari Naira?
Naira dan Angga masuk ke ruang di mana ada Atmaja dengan di ikuti Haikal dan Dev yang ikut berjalan di belakang.
Hati Naira teriris saat melihat papa nya dengan tangan dan kaki yang terikat di kursi.
Naira mengepalkan kedua tangannya, "Apa yang kau lakukan pada papa ku, Pramana Sudiro?" tanya Naira dengan nada tinggi.
"Sabar, Nai.. jaga emosi mu." ucap Angga yang berdiri di samping Naira.
__ADS_1
Pram dapat melihat betapa marah nya Naira saat melihat Atmaja yang terikat di kursi.
Pram menyeringai dengan hati berkata, seberapa besar kau bisa menahan emosi mu, gadis kecil.
Pram mendudukkan dirinya di atas meja dengan kaki kanan berada di atas kaki kiri nya dan tangannya memangku di lututnya.
"Tenang manis, disini aku hanya ingin memberi mu kesempatan." ujar Pram.
"Apa mau mu?"
"Aku beri kau kesempatan untuk mencari tahu ketidak beresan dalam pengiriman furniture yang di lakukan papa mu pada hotel ku... saat itu aku akan membebaskan papa mu... tapi--" Pram menggantung kata kata nya.
Tidak biasa nya pak Pram memberi kesempatan, biasa nya ia akan langsung main sikat. batin Dev yang mendengar perkataan Pram.
"Tapi apa?" tanya Naira.
"Jika kau gagal, kau harus mau menuruti apa yang aku kata kan... diel?" Pram menekankan pada kata menuruti pada Naira.
Tanpa pikir panjang, Naira mengiyakan apa yang di katakan Pram.
"Oke, aku setuju... tapi dengan syarat." ucap Naira mantap.
"Apa?"
Pram menarik sudut bibirnya, anak ini tidak bisa diremehkan... aku harus membuat nya gagal dalam mencari tahu titik kesalahnya, agar aku bisa memilikinya. batin Pram.
"Oke."
"Sekarang, lepaskan papa ku!" pinta Naira.
"Tidak bisa, lakukan dulu apa yang aku minta... cari tahu titik kesalahan dalam pengiriman atau memang papa mu ini yang sengaja ingin bermain curang dengan ku!" Pram menatap tajam Atmaja.
"Seumur hidup ku, aku tidak pernah berbuat curang pak Pram.. aku berpegang teguh pada kejujuran, dengan jujur aku dapat membangun kepercayaan dari setiap orang yang memakai jasa ku di bidang furniture." oceh Atmaja yang menatap sengit Pram.
"Oke, aku akan mencari tahu nya... sampai saat itu tiba." Naira menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya, "Ingat... kau harus membebaskan papa ku!" oceh nya.
Pram menyeringai, "Waktu mu hanya 1 kali 24 jam, Naira." ujar Pram.
__ADS_1
"Apa? 24 jam, mana cukup, pak." oceh Angga.
"Itu urusan kalian, masih baik aku berbaik hati pada kalian memberikan kalian kesempatan... jika tidak, aku tidak masalah hanya untuk melenyapkan seorang Atmaja." sarkas Pram.
"Pram, kau licik Pram... jelas jelas kau tahu aku ini tidak bersalah." oceh Atmaja.
Pram menendang dengan keras kursi yang di duduki Atmaja.
Brak.
Dengan satu kali tendangan, kursi yang di duduki Atmaja terhempas bersama dengan tubuh Atmaja yang ikut terhempas.
"Papa." teriak Naira yang langsung ingin mendekati papa nya dan ingin menolong nya namun di tahan oleh Dev.
Begitu pun dengan Angga yang di tahan oleh Haikal dengan memegang tangannya.
"Kurang ajarrr kau, Pram... dasarrr manusia tidak punya hati... dia itu papa ku." teriak Naira.
Pram bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Naira yang tangannya saja kini di tahan oleh Dev.
Pram mencengkram kedua pipi Naira dengan keras, bodohhh jika di lihat seperti ini tatapan mata nya sangat lah indah, hidung nya yang mancung, bibirnya seakan meminta ku untuk melu mat nya, sabar Pram sebentar lagi dia akan jadi milik mu. batin Pram menetralisir perasaan nya.
"Di sini aku yang jadi bos nya! mau aku apa kan dia pun, bukan urusan mu!" bentak Pram.
Naira membatin, Pria ini bener benar membuat ku naik darah, aku muak dengan nya.
Tanpa pikir panjang, Naira melayangkan kaki kanan nya di antara ke dua kaki Pram yang berdiri di depan nya.
Bughh.
"Akhhhhh... tidak burunggg kuuuu, aseet berharga kuuu... kurang ajar kau." Pram berteriak dengan kedua tangan menutupi aset berharga nya yang baru saja kena tendang Naira.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
__ADS_1
No komen julid nyelekit 😊