
...💖💖💖...
"Hei kau! Siapa yang sudah memberi mu izin, untuk meninggal kan ruangan ini!" Suara Pram menggelegar, hingga karyawan pria itu terperanjak di buatnya.
"Ka!" Naira berkata dengan lembut, sembari menggenggam jemari Pram.
"Tu- tugas saya sudah selesai, Tuan. A- apa ada lagi yang bisa saya lakukan, Tuan?" Ucapnya dengan gemetar.
Pram melangkah dengan pasti, menghampiri karyawan pria yang kini berdiri dengan kaki yang gemetar.
Grap.
Naira memeluk tubuh Pram dari belakang, membuat langkah Pram terhenti, "Apa yang akan kaka lakukan padanya?"
"Aku akan memberikan nya pelajaran pada karyawan tidak tahu diri itu, Nai! Seenaknya saja dia menghina ku! Tidak tahu dia sedang berhadapan dengan siapa! Heh!" Pram mengepalkan ke dua tangannya, ke dua matanya menatap tajam karyawan restoran, seakan ingin mengulitiii tubuh pria, yang sudah dengan lancanggg mengatainya meski dalam hati.
Ke dua mata karyawan semakin di buat tercengang, dengan sikap gadis remaja berseragam sekolah, meskin mengenakan jaket sweater untuk menutupi bad seragam sekolahnya.
Sebenarnya siapa gadis remaja ini? Kenapa Tuan Pram tampak marah, aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya, Tuan Pram turun kelas dengan membawa dan bermesraan dengan gadis itu. Benar benar turun selera Tuan, kaya ga ada lagi wanira dewasa di dunia ini.
Pram semakin geram di buatnya, ia berteriak dengan matanya yang meloto.
"Haiiiii! Sialannnn kau, mulai saat ini, jangan pernah tunjukkan batanggg hidung mu di hotel ini! Ku pucat kau!" Ucap Pram dengan emosi.
Karyawan itu langsung berlari dan memohon di kaki Pram, "Tu- Tuan, tolong jangan pecat saya Tuan. Ampuni saya Tuan." Ucapnya dengan memelas.
Bugh.
Pram menghempaskan satu kakinya dengan kencang, membuat tubuh karyawan yang berada di depannya, langsung terjungkal ke belakang.
"Tidak ada kata maaf untuk orang seperti mu, sialannn!" Dengan gerakan cepat, kepalan tangan Pram mendarat di wajah karyawan yang berusaha berdiri.
Bugh.
"Ka Pram!" Teriakan Naira seakan tidak di dengar oleh Pram.
Ceklak.
Dev membuka pintu ruang kerja Pram, ia langsung memegangin tangan karyawan yang wajahnya sudah lebam karena kena pukulan Pram.
"P- pak, Dev! Tolong saya, pak." Ucap karyawan pria, dengan menatap sedih mata Dev yang menatapnya datar.
"Kau tahu kan! Apa yang harus kau lakukan, Dev!" Pram berdiri dengan tangannya yang menggulung lengan kemejanya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Dev mengerti apa yang harus ia lakukan pada karyawan restoran itu, tanpa banyak berkata, Dev menyerettt lengan karyawan restoran, ke luar dari ruang kerja Pram..
"Pak Dev, tolong jangan pecat saya!" Dengan ke dua tangan yang mengatup.
"Siapa suruh kau mencari masalah pada Tuan dan Nona Muda!" oceh Dev.
"Sa- saya tidak tahu, jika gadis itu Nona Muda pak!" Ucapnya.
"Meski pun kau tahu, sudah tidak ada gunanya!" Dev mendorong karyawan itu hingga tersungkur ke lantai, "Lakukan apa yang sudah bos katakan tadi pada mu!" Dev menepuk nepukkan ke dua tangannya, mengelapnya dengan sapu tangannya.
"Sa- saya di pecat pak Dev?"
Dev menyeringai, "Sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya!" Dev mengeluarkan hapenya dan menghubungi seseorang.
"Sebentar lagi akan ada mantan karyawan restoran, segera kau urus gajinya!" Ucap Dev dengan menatap tajam pria yang ada di depannya.
Ia langsung menyimpan hapenya kembali di dalam saku celananya.
Sementara di dalam ruang kerja Pram, Naira tengah mengacuhkan Pram. Ia tetap fokus dengan makan siangnya, sedang kan Pram tengah merayu, membujuk istrinya itu.
"Maaf kan aku ya, sayang! Aku hanya kesal dengan karyawan itu!" Pram membujuk Naira, dengan berjongkok di depan Naira yang duduk di sofa.
Naira tidak menjawab Pram, ia benar benar mengabaikan Pram.
Pram beranjak dan duduk di sofa, mengambil makanannya, mengarahkan nya pada Naira, "Ayo sayang, coba punya ku, ini rasanya enak, aku jamin kau pasti akan suka dengan rasanya!" Pram membujuk Naira dengan suapan.
Pram menyimpan kembali piringnya di atas meja. Iya juga merebut piring dan sendok dari tengan Naira.
"Apa yang kaka lakukan?" Tanya Naira dengan menatap tajam Pram.
Pram menggenggammm ke dua tangan Naira, "Aku tidak hanya akan marah pada pria tadi, tapi ke pada siapa pun orang yang berani menghina ku, merendahkan ku atau pun diri mu! Aku tidak akan tinggal diam, sayang!" Pram mengecup jemari Naira.
Naira membuang nafasnya dengan kasar, "Coba deh lebih sabar, kepala dingin buat ngadepin suatu masalah tuh ka! Gak mesti pake urat dan otot juga kan ka?" Ucap Naira dengan lembut.
"Makanya itu, aku butuh diri mu, untuk mendinginkan hati dan pikiran ku, jangan ngambek lagi ya? Jangan abaikan aku lagi?" Pram menarik sudut bibirnya, menatap Naira dengan penuh harap.
"Jangan ngomong doang gede ka! Kalo kaka mau berubah itu jangan karena aku, tapi karena hati mu ini! Yang sudah bergerak, untuk berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik!" Naira menyentuh dada Pram.
"Akan aku usahakan ya, sayang!" Pram memeluk tubuh Naira, menghujani pucuk kepala Naira dengan ciummm.
"Aku masih mau makan, ka!" Ucap Naira dengan ketus.
Pram melepaskan pelukannya, "Biar aku suapi ya?" Pram mengambil makan siangnya dan mengarahkan sendok ke depan mulut Naira, "Ayo coba ini! Kau pasti akan menyukainya!"
__ADS_1
Dengan malas Naira melahap makanan yang di suapi Pram, untuk sesat ia menikmati makanan yang ia kunyah, dengan wajah misterius Naira tampak malas menatap Pram.
"Bagai mana rasanya? Enak kan?" Pram memainkan alisnya naik turun.
"Coba saja sendiri, enak atau gak!" Ucap Naira dengan ketus.
"Sayang ku, tolong jangan ngambek lagi ya? Setelah ini aku masih ada meeting, aku harap kau harus ikut meeting dengan ku! Mau kan kau temani aku untuk meeting?" Ajak Pram.
Naira mengerutkan keningnya, menatap tajam Pram, "Kaka mengajak ku? Tapi aku di haruskan untuk ikut?"
"Apa ada yang salah dengan kata kata ku?" Pram menyentuh dagu Naira.
"Pikir aja sendiri!" Naira beranjak dari duduknya, melangkah menjauh dari Pram, langkahnya menuju ruang pribadi Pram.
"Kau mau ke mana, sayang? Makan siang mu belum habis!"
"Aku ke belettt, jelas harus ke toilet kan?" Ucap Naira dengan sinis, menatap tajam Pram tanpa memperhatikan di depannya.
"Iya tapi itu, awas ada----"
Bugh.
"Awwwhhh."
Kening Naira membentur pintu ruang pribadi Pram, saat dirinya menoleh ke depan.
"Kan tadi aku mau bilang, awas ada pintu!" Oceh Pram yang beranjak menghampiri Naira.
"Bodo amat!" Naira masuk ke dalam ruang pribadi Pram, dan langsung menutup pintu dengan kasar.
Brak.
"Hai, aku ikut dengan mu, sayang!" Pram membuka pintu ruang pribadi nya. Naira sudah berada di dalam toilet.
Pram menunggu Naira, dengan mendudukan dirinya di tepian kasur, yang berada persis di depan pintu toilet, ke dua tangannya menyilang di depan dada.
"Sedang apa anak itu! Lama sekali!" Gumam Pram.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊