
...💖💖💖...
Pram mengerutkan keningnya menatap tajam Angga, "Sejauh mana kau perduli pada Nai? Apa kau perlu secemas itu pada istri ku?"
"Jelas saya peduli, seperti apa yang sudah saya sampaikan dulu pak. Saya menganggap Nai itu adik saya, karenanya pula hidup keluarga kecil saya jadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya juga berhutang nyawa padanya, kalo bukan karena bantuannya, saya pasti sudah ke hilangan putri kecil saya! Apa itu cukup jelas untuk menghilangkan ke raguan bapak terhadap saya?" Jelas Angga panjang lebar.
Pram menatap dalam mata Angga, mencari jawaban akan ke beradaan atas apa yang sudah di ucapkan Angga.
Angga membatin, aku sudah berterus terang padanya, apa pak Pram masih meragukan perkataan ku? Apa pak Pram tidak mengerti bagai mana khawatirnya aku, mendengar Naira hampir celaka?
Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Pelakunya bukan orang yang sama, setiap orang jahat yang mencoba menyentuh Naira." Pram menunjukkan pada Angga tangan nya yang mengepal keras.
"Pasti akan saya musnahhh kan!" Ujar Pram lagi.
Angga membola, "Apa pak?"
Naira kembali ke meja di mana Angga dan Pram berada.
Naira mendaratkan tangannya pada bahu Pram, "Apa yang kalian bicarakan? Serius amat?" Naira menyelidik pada Pram.
Pram menarik tangan Naira dan mendudukan Naira di paha Pram.
"Ka ihhhh! Malu, ini kan di depan umum!" Naira berusaha beranjak dari pangkuan Pram namun di cegah oleh Pram yang melingkar kan ke dua tangannya di pinggang Naira.
Angga menggelengkan kepalanya melihat ke bucinan Pram pada Naira, "Biar aku minta Rion untuk buatkan bihun goreng ke sukaan mu, Nai!" Angga beranjak dari duduknya.
"Thanks bang, tau aja gw lagi laper." Ujar Naira dengan meraih ice cappucino miliknya.
Pram menatap tajam Naira, "Jadi aku tidak tau apa apa tentang mu? Yang tau hanya pria itu?" Tanya Pram dingin.
"Uhuk uhuk uhuk." Naira tersendak minumannya saat mendengar ocehan Pram.
Dengan sigap Pram menepuk nepuk pelan punggung Naira, "Makanya kalo minum itu hati hati! Aku tidak akan meminta minuman mu, sayang!" Ucap Pram dengan lembut.
Naira menyimpan gelasnya, berbicara dengan nada yang meledek Pram, "Gak akan meminta minuman mu, enak banget kalo ngomong! Aku kaya gini juga karena ucapan kaka!" Dengus Naira.
"Karena ucapan ku?"
"Iya lah! Mang ada orang laen lagi di meja ini selain aku dan ka Pram?" Naira mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada sih. Apa tadi kau bertanya pada Haikal, mengenai orang yang menyerang kalian?" Pram mendudukan Naira di kursi lainnya yang ada di sebelahnya.
Naira menyandarkan punggungnya pada kursi, "Bang Haikal belum sempat mendapatkan informasi ka, mereka udah ke buru kabur, tapi Kaka tenang aja, 1 di antara mereka tangannya patah, satunya lagi." Naira meminta Pram mendekatkan wajahnya dengan lambaian tangannya.
Pram melakukan apa yang di minta istri kecilnya itu karena penasaran dengan apa yang akan Naira katakan selanjutnya.
__ADS_1
Novi yang melihatnya hanya menggeleng gelengkan kepalanya, jangan bilang kalo Naira mau ngerjain pak Pram dah!
Mega membatin, apa lagi yang mau Naira lakuin?
Pram jadi meragukan Naira setelah mendengar ocehan batin Novi dan Mega.
Pram kembali menjauhkan dirinya dari Naira, membenarkan posisi duduknya seperti semula.
"Kau katakan saja dari situ, aku bisa mendengarkan nya dengan baik!" Ujar Pram acuh dengan meraih minumannya yang ada di atas meja.
"Ihssss ka! Yakin kalo mau aku ngomongnya begini?" Naira melipat ke dua tangannya di depan dadanya, ah elah kalo aku bilang begini, yakin dah yang kaum Adam bakal malu... secara telornya gw tendang hahaha.
"Apa Nai? Kau melakukan itu? Seorang diri? Kemana pena kejut itu? Apa kau menghilangkan nya?" Pram mencecar Naira dengan berbagai pertanyaan.
"Bukan aku yang menghilangkan nya ka, tapi pena itu di rebut oleh salah seorang penyerang tadi. Terus di rusak, di buang gitu aja sama orang itu. Aku kan punya bela diri, ya aku pake lah ke mampuan ku ini buat melindungi diri ku!" Naira memainkan alisnya naik turun, "Aku hebat kan!" Ujarnya lagi.
Pram merangkul Naira, "Kau memang hebat! Tapi laen kali, kau harus lebih berhati hati! Jangan sampai kau terluka!" Pram menghujani kepala Naira dengan ke cupan.
Haikal, Dega dan yang lain tidak berani masuk ke dalam kedei, mereka menunggu bos dan Nona Muda-nya ke luar untuk meninggalkan kedei.
Angga kembali dengan membawa kan bihun goreng dan roti panggang keju, menu baru kedei start.
"Silahkan di nikmati." Ucap Angga setelah menaruh seporsi bihun goreng dan seporsi roti panggang keju di meja Pram dan Naira.
"Kau tidak salah, memberikan ini untuk kami?" Tanya Pram dengan menatap hidangan yang ada di depannya.
Prak.
"Tinggal makan aja, bawel!" Sungut Naira.
"Iya tapi ----"
Naira menunjukkan wajah jelekkk nya pada Pram dengan matanya yang melotot.
"Iya iya iya. Apa pun itu." Ucap Pram pada akhirnya.
"Bang, buatin 6 porsi lagi bihun goreng sama kentang goreng 3 porsi, antarin ke depan ya! Biasa, tau kan?" Ucap Naira pada Angga.
Angga menunjukkan tangan kanan nya dengan memperlihatkan jempolnya pada Naira lalu beranjak ke dapur kembali.
Grap.
Bugh.
Pram menarikkk lengan Naira dan membuat tubuh Naira menubruk dada Pram tidak bidang.
__ADS_1
"Apa lagi?" Naira menatap mata Pram yang tajam.
"Bisa kau katakan pada ku! Untuk siapa kau memesan makanan sebanyak itu?" Tanya Pram dingin.
"Ya untuk anak buah aku lah, emang buat siapa lagi?" Naira melepaskan lengannya dari genggaman tangan Pram.
Dengan tangannya ia meraih piring yang berisikan bihun goreng lalu menyantapnya dengan garpu.
Naira menikmati bihun gorengnya, "Emmmmm enak banget."
Pram merebut piring yang tengah Naira pegang, "Berikan pada ku! Apa rasanya masih seenak dulu!" Pram menyuapkan bihun goreng itu ke dalam mulutnya.
Satu suap, dua suap hingga 3 suap, Pram tidak banyak bicara, hanya menikmati setiap suapan bihun yang ada di dalam mulutnya.
Sedangkan Naira membiarkan Pram memakan bihunnya, tangan Naira kini beralih pada seporsi roti panggang keju.
Ini kayanya menu baru, kan di kedei belum punya menu roti panggang keju, yang ada singkong keju.
...🍂 Kediaman Aji🍂...
Beberapa pria dengan tampang wajah yang bonyok, memasuki kediaman Aji setelah mereka turun dari mobil pickup dan satu mobil lainnya.
"Kau saja yang katakan pada bos!" Ujar pria yang satu tangannya patah.
"Gila, lo aja. Gw mana berani!" Ujar pria yang ke sulitan berjalan dengan ke dua tangannya yang memegangi aset berharganya, jalannya pun seperti pingwin.
"Ya udah, kalo gitu lo aja!" Ujar pria dengan membawa tongkat baseball di tangannya.
"Udah kita omongin aja sama bos tar bareng bareng!" Ucap pria lainnya.
Aji yang berdiri di depan akuarium raksasa miliknya pun membalikkan tubuhnya, menatap tajam pada orang orang bayarannn nya.
"Mana anak itu?" Tanya Aji dengan suaranya yang berat.
"Maaf bos, kami gagal." Ucap pria yang satu tangannya patah.
Bugh.
"Awwhh."
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊