
...πππ...
"Sa- saya hanya di perintahkan untuk membawa gadis yang ada di foto untuk di bawa pada Tuan besar tanpa melukainya sedikit pun, Tuan." Dengan tubuh bergetar, peluh bercucuran pria itu tergagap untuk menyampaikan apa yang sudah di perintahkan padanya.
Bugh.
Pram menendang pria itu dengan kencang hingga tubuhnya terpental.
Dega geleng geleng kepala melihatnya, gila bos Pram kalo lagi ngamuk, keren bener. Baru sekali tendang lo, hahay.
Kaki pram melangkah mendekati pria itu, "Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuh lengan wanita itu?" Tanya Pram dengan sorot mata yang tajam, aura membunuhhh seakan ke luar dari diri Pram.
"Ma- maaf Tuan, ampuni saya." Pria yang di tendang Pram buru buru menggeser tubuhnya dan berusaha menjauh dari Pram.
"Mampusss lo!" Sungut Dega.
"Kanan bos!" Seru Haikal.
"Maaf Tuan, am- ampuni sa- saya Tuan, sa- saya janji ti- tidak akan mengulanginya Tuan." Suara pria itu mengiba.
Dengan di bantu beberapa orangnya yang memegangi pria yang sudah tidak berbentuk lagi wajahnya, Pram menginjak jemari pria yang sudah berani menyentuh lengan Naira.
"Tidak Tuan, jangan... ampuni saya Tuan!" Dengan terisak pria itu meminta Pram untuk melepaskannya dan menganpuninya.
Pram menginjak jari tangan pria itu dan menekannya dengan sepatu yang ia kenakan hingga jari pria itu berbunyi.
Kreek
"Aaaah, jari ku."
Pram berbalik dan meninggalkan pria itu, "Habisi sisanya! Jangan biarkan mereka ke luar dari sini dalam keadaan hidup!"
"Semuanya nih, bos?" Tanya Dega dengan bersemangat.
Pram menatap Dega dengan tajam, "Apa perlu aku mengulangi perkataan ku lagi?"
"Hahaha, tidak bos... aku hanya bercanda!" Dega mengibas kibaskan tangannya di depan wajahnya.
Haikal menatap Dega dengan raut wajah mengejek, sukur lo!
Pram melangkah ke luar meninggalkan anak buahnya yang tengah berpesta menghajarr orang orang suruhan Aji.
Pram memasuki sebuah kamar yang ada di lantai 2, bayangannya kembali terbawa pada saat saat ia berhasil membuat Naira menyetujui surat perjanjian yang berakhir dengan pernikahan.
Ceklek.
Ke dua mata Pram tertuju pada ranjang yang dulu di pakai oleh Naira untuk beristirahat hingga datang waktu harinya ia menikahi Naira.
Pram menarik sudut bibirnya ke atas, "Dulu aku sangat senang melihat mu menderita, membuat mu susah, tapi di saat itu pula justru aku menuruti apa yang menjadi keinginan mu." Gumam Pram.
Tring tring tring.
πΆ πΆ πΆ
Pram melihat dari hape-nya ada yang sedang menghubunginya.
__ADS_1
"Apa kau sudah bereskan?" Tanya Pram saat ia sudah menjawab panggilan teleponnya.
[ "Sudah pak, hanya saja ---" ] Dev tidak melanjutkan perkataannya.
"Ada apa? Katakan saja!" Oceh Pram yang sudah dapat menerka dari raut wajah Dev, pasti ada yang tidak berjalan dengan lancar!
[ "Nona Harumi meminta bapak untuk kembali ke Jepang dan meninjau lokasi itu bersama dengannya, Nona Harumi takut jika nanti lokasinya tidak sesuai dengan permintaan bapak atau ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan pak Pram."] Ujar Dev.
"Biar nanti aku yang menghubunginya langsung!" Seru Pram.
[ "Baik pak." ] Panggilan telepon pun berakhir.
Pram mencari kontak Harumi dan menghubunginya, "Aku harus menghubunginya jika ingin kerja sama ini berjalan dengan lancar." Gumam Pram.
"Selamat pagi Nona Harumi. Ini saya Pramana." Ujar Pram.
[ "Selamat pagi juga Tuan Pram, apa sekretaris anda sudah membicarakannya dengan anda, Tuan?" ] Tanya Harumi.
"Iya, Dev sudah mengatakan pada saya, saya setuju dengan lokasinya... saya sudah meninjau lokasi itu sebelum saya kembali ke Indonesia." Terang Pram.
[ "Maaf, Tuan Pram... jika saya boleh tau, apa yang membuat anda buru buru kembali terbang ke Indonesia? Anda kan masih harus berada di Jepang selama 4 hari ke depan!" ]
"Maaf Nona, ini menyangkut hal yang tidak bisa di tinggal kan!"
[ "Apa begitu penting hingga kau meninggalkan urusan di Jepang?" ] Suara Harumi terdengar mengintimidasi Pram.
"Sangat penting."
[ "Oke kalo begitu, aku batalkan kerja sama kita!" ] Seru Harumi dengan suara yang serius.
"Tidak masalah." Jawab Pram dengan santai.
"Saya sangat yakin." Pram melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Maaf sudah mengganggu waktu anda, Nona Harumi!" Pram memutuskan sambungan teleponnya.
Kini Pram menghubungi Dev.
[ "Bagai mana, pak?" ] Suara Dev terdengar dari sebrang sana.
"Kembali ke Jakarta, Dev." Ujar Pram dengan tegas tanpa basa basi.
[ "Serius, pak? Lalu bagai mana dengan kerja sama dengan Nona Harumi?" ]
"Kerja sama berakhir. Cepat urus kepulangan mu saat ini juga!" Seru Pram.
[ "Oke, pak." ]
Pram membuang nafasnya dengan kasar, harusnya aku tahu lebih awal jika kerja sama ini tidak akan berjalan dengan lancar.
Pram membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya.
π Di tempat lainπ
Pak Asep berdiri di depan kelas saat pelajarannya akan di mulai, "Anak anak, berhubungan dengan kegiatan ujian tinggal 1 bulan lagi, maka bapak harap kalian mengikuti pelajaran tambahan setelah jam pelajaran berakhir." Ujar pak Asep.
"Yaaaaaah, pak." Keluhan terdengar dari beberapa anak.
__ADS_1
"Pulangnya makin sore dong, pak?" Tanya Novi.
"Pelajaran tambahan hanya memakan waktu 1 setengah jam, Novi!" Seru pak Asep.
"Yaaah, pak... lama amat sih!" Oceh Ratna.
"Pelajaran tambahan aja kalian mengeluh, gimana kalo waktu kunjung pacar? Mengeluh tidak saat jamnya di tambah? Waktu bertemu semakin lama?" Tanya pak Asep dengan bersemangat.
"Ahahhaha itu mah gak usah di tanya, pak... pasti seneng lah!" Oceh Serli.
"Kaya lo punya pacar aja yang bisa apel!" Sindir Juni.
"Kampretttt lo, lo juga gak punya pacar kan lo?" Ejek Serli.
"Yeeeh lo, gw mah ketawan waktu gw buat belajar sama kerja bos, cari duit bos!" Ejek Juni.
"Alah lo, baru dapat duit segitu aja belagu lo!" Serli nyinyir.
"Lo kalo mau kerja, gak apa ko... pasti gw terima!" Oceh Naira dengan menolehkan wajahnya ke belakang, tempat di mana Serli duduk.
"Jadi nanti bapak harap kalian semua mengikuti pelajaran tambahannya, atau biasa di sebut itu pendalaman materi." Ujar pak Asep.
Waktu terus berputar hingga tiba waktunya jam istirahat.
Serli, Naira dan Novi beranjak ke kantin begitu pun dengan yang lainya.
"Elsa!" Naira berseru memanggil Elsa.
"Kantin kan?" Tanya Naira.
Novi yang menjawab, "Ya iya lah, lo lagi Nai... pake di tanya lagi!" Ketus Novi.
Plak.
"Bacot lo, onde!" Seru Serli.
"Lo, cangcorang!" Nyinyir Novi.
"Ah rese lo, mulut nyinyir, emak emak berdaster!" Ejek Serli.
"Ihs, kalian berisik banget!" Seru Naira yang berjalan mendahului ke duanya dan menggandeng tangan Elsa.
"Ono mereka, gimana?" Elsa menunjuk Serli dan Novi yang kini berdebat.
"Biarin aja!" Naira menuntun Elsa menyusuri selaras kelas menuju kantin.
Dari arah belakang suara Novi dan Serli menyerukan nama Naira.
"Nai! Tunggu woy!" Seru Serli.
"Kampretttt lo, Nai! Ninggal gw!" Seru Novi.
Bugh.
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π