
...πππ...
Kini rasa tenang dan senang menggelayuti hati Pram.
Pram memandang wajah lelah Naira yang tengah tertidur pulas di bawah selimut dengan tubuh yang oplos alias polos ya π€π€.
Ada bagusnya aku meninggalkan acara hari ini, aku bisa mendapatkan apa yang aku tunggu selama ini dari mu, Nai!
Pram ikut merebahkan dirinya di samping Naira, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah olah raga malamnya dengan Naira, mengistirahatkan pikirannya yang lelah berfikir keras untuk hotel barunya.
Pram tidur dengan memeluk gadis yang kini menjadi wanitanya seutuhnya.
"Selamat tidur sayang, mimpikan aku dalam tidur mu!" Gumam Pram dengan mencium kening dan bibir Naira.
...π Ke esokan paginya π...
Dengan perlahan ku buka ke dua mata ku, di saat aku akan menggerakkan tubuh ku, astaga kenapa rasanya tubuh ku ini rentek banget ya? Tulang ku seakan remuk tidak berbentuk.
"Kau sudah bangun?" Suara Pram dengan khas orang bangun tidur.
Aku menoleh ke arahnya yang terdengar berat namun lembut di telinga ku, suaranya begitu menggoda hati ku, apa ka Pram salah minum obat? Apa ka Pram kepalanya habis terbentur di dinding hingga otaknya jadi bergeser terus jadi koslet gitu pikirannya?
Pram memiringkan tubuhnya sambil tersenyum manis ke arah ku dengan kepalanya yang bertumpu dengan tangan kanannya, "Morning sayang! Are you alright?"
Kening ku mengkerut mendapati pertanyaan konyal dan aneh di telinga ku saat ka Pram yang mengatakannya, rubah ini jadi bodohhh atau amnesia ya? Setelah apa yang dia lakukan pada ku semalam? Semalam? Semalam aku dan ka Pram---
Naira menghentikan hatinya yang terus ngoceh setelah ingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Pram, tangannya langsung menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, memastikan apa yang sudah terjadi itu mimpi atau kenyataan.
Tangan ku menyibak selimut yang menutupi dada ku, mata ku Tercengang melihat tanda tanda ke unguan yang jumlahnya tidak sedikit, aku tidak bodoh jika tidak tahu tanda apa itu, tapi tanda ini di buat oleh si rubah mesum? Rubah tua? Oh tidaaaak.
Mata ku menatap tajam wajah pria yang terus memandang ku dengan senyum yang sok manisnya.
Tangan kiri ka Pram terulur menyentuh rambut yang menutupi wajah ku, membelai sayang pipi ku menyentuh dagu ku dan mengangkatnya mendekatkan wajahnya dengan wajah ku.
Pram menatap lembut bibir Naira, rasanya aku sangat ingin menyentuh bibir ranumnya ini, membawanya terbang ke dalam lembah kenikmatannn seperti yang semalam.
Deg deg deg.
Aku menatap mata ka Pram yang sedari tadi tidak lepas memandang bibir ku, aiiiiiih kenapa jantung ku berdetak kencang sekali? Aku kan baru bangun tidur... ka Pram apa yang ingin dia lakukan pada ku lagi ini? Kenapa tatapan matanya begitu lembut? Aku ini seperti terbuai atau terhipnotis hanya dengan memandang matanya yang teduh?
Pram membenamkan bibirnya dengan bibir ku.
__ADS_1
"Emmmph." Ah sialll kenapa aku tidak bisa menolaknya.
Bibir Naira menolak Pram untuk menyentuhnya, tapi tanpa di sadari Naira, ke dua tangannya justru melingkar di leher Pram, membuat pria yang sudah dewasa itu bersorak dalam hatinya senang jika Naira kini menerima perlakuan manisnya.
Pram membatin, sepertinya bukan hanya aku saja yang menginginkan lebih dari sekedar morning kiss, tapi Naira juga menginginkan aku untuk berbuat lebih dari ini.
Pram melepaskan tautan bibirnya, melihat sejenak mata Naira yang mendamba seutas senyum terukir di bibir Pram, dengan perlahan Pram menyusuri leher jenjang Naira dan menambahkan kiss mark hingga jumlahnya bertambah dari yang semalam.
Di saat Pram akan menelusupkan kepalanya ke dalam selimut yang di kenakan Naira, ingin menikmatiii sekali lagi manisnya puncak si kembar.
Tok tok tok tok.
"Tuan!"
Pram mendesah kesal, "Ah sialll." Gerutu Pram yang langsung bangkit dari posisinya, dengan satu kaki menjuntai ke lantai, tapi Pram membalikkan tubuhnya lagi melihat ke arah Naira, "Jangan kemana mana ya, sayang!" Pram membelai pipi Naira dengan tatapan lembut.
Aku hanya menganggukkan kepala ku tanpa mampu bibir ini berkata.
Ku tatap punggung ka Pram yang semakin menjauh dari pandangan ku hingga langkahnya menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk.
Namun di saat aku sadar aku langsung menggaruk kepala ku frustasi, "Ahhh kacau, ada apa ini dengan otak ku? Apa aku mengharapkan ka Pram melakukan hal lebih pada ku?" Gumam ku pelan.
Ceklek.
Di luar tengah berdiri pak Dedi menatap aneh pada bosnya Tuan Pram, tidak biasanya Tuan jam segini sudah tampak segar, biasanya kan Tuan jika hari libur pasti akan lari pagi.
"Ada apa?" Tanya Pram ketus.
"Apa Tuan tidak akan lari pagi?" Tanya pak Dedi mengingatkan.
"Tidak, kali ini aku tidak akan lari pagi tapi aku akan berolahraga, tapi kehadiran mu mengganggu ku!" Oceh Pram kesal.
Pak Dedi mengerutkan keningnya, apa maksud perkataan Tuan ya? Aku mengganggu Tuan yang akan berolahraga? Berolahraga di kamar gitu? Atau jangan jangan Tuan dan Nona---"
Pram menatap malas saat melihat pak Dedi, si kepala pelayan ini hanya diam termangu.
Pram mendengus, mengganggu saja!
Brak.
Pak Dedi terperenjak kaget saat Pram dengan sengaja menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
"Dasarrr Tuan tidak punya hati! Pria yang sudah setua ini di perlakukan seperti itu, Tuan mau membunuh ku secara perlahan apa?" Pak Dedi menggerutu di depan pintu yang kini tertutup rapat.
Ceklek.
Pram membuka lagi pintu kamarnya.
Mati aku, apa Tuan Pram mendengar perkataan ku? "A- ada apa Tuan?" Tanya pak Dedi dengan gelagepan.
"Jangan ganggu waktu ku! Jika tidak ingin ku kirim kau ke Afrika, mengerti!" Pram memperingati pak Dedi dengan jari telunjuk yang mengarah pada wajah pak Dedi yang kini pucat pasi.
"A- ada lagi Tuan?"
"Pergi kau dari sini? Mengganggu saja!" Dumel Pram yang langsung menutup kembali pintu kamarnya.
Pram mengunci pintu kamarnya membayangkan yang indah bersama dengan Naira.
Pram dan Naira mengulang kegiatan semalam, merenda kasih, melakukan penyatuan menuju nikmattt dunia.
...πSementara di lantai bawahπ...
Di teras depan rumah utama kediaman Pramana. Para penjaga dan pengawal tampak mengenakan celana training dengan atasan kaos lengan pendek dengan sepatu sport.
"Bagai mana pak? Apa Tuan akan lari pagi?" Tanya Haikal.
"Tuan tidak akan lari pagi bersama dengan kalian." Ujar pak Dedi.
"Loh kenapa, pak?" Tanya Dega dengan handuk yang terlampir di pundaknya.
Pak Dedi menatap jengah Haikal dan Dega, astaga harus aku jelaskan serinci itu kah jika Tuan Pram memilih berolahraga bersama dengan Nona Naira!
"Jadi bagai mana ini?" Tanya salah seorang pengawal.
"Kita lari mengelilingi halaman saja!" Seru Haikal mengomandoi anak buahnya.
Bersambung....
...πππππ...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π
__ADS_1