Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tidak ada bedanya


__ADS_3

...💖💖💖...


Tok tok tok.


"Sudah waktunya makan malam, apa yang kalian lakukan?" tanya Atmaja yang kini menggetok pintu kamar putrinya, namun tidak ada jawaban.


Ceklek ceklek ceklek.


Handle pintu kamar tidak terbuka, membuat Atmaja melalang buana dengan pikirannya pada Pram dan Naira di dalam kamar. Kurang ajarrr pasti pria tua itu sedang mempermain kan putri ku!


Atmaja langsung kembali meninggalkan kamar putrinya, menuruni anak tangga, memilih untuk menunggu ke duanya untuk turun dan makan malam.


🌸🌸🌸


Di dalam kamar mandi.


"Apa di sini tidak ada handuk, hem?" Pram menyisir ruang kamar mandi, namun tidak menemukan sehelai handuk pun di sana.


"Tidak ada, handuk biasanya ada di dalam lemari." Naira menyungging kan senyumnya, lalu mendorong tubuh polos Pram ke luar dari dalam kamar mandi, "Tolong ambil kan aku handuk ya ka! Hehehe."


"Kau ini!" Pram geleng geleng kepala, namun melakukan apa yang di minta istri kecilnya.


Berjalan di mana lemari dengan 3 pintu itu berada, membuka satu persatu pintu lemari untuk mencari ke beradaan handuk. Dan menyerahkan nya pada Naira.


Tok tok tok.


Pram mengetuk pintu kamar mandi, Naira membuka sedikit pintu kamar mandi dan memuncul kan satu tangannya.


Pram menyeringai.


Sreek.


Bruk.


"Akkh ka Pram!"


Pram menarik tangan Naira ke luar, dan menyudutkan tubuh Naira di dinding, lalu menutupi tubuh Naira dengan handuk, "Aku ke luar harus pakai baju apa hem? Di dalam lemari mu, aku tidak menemukan pakaian untuk ku!" sungut Pram.


Bugh.


Naira memukulll dada bidang Pram.

__ADS_1


"Ihs kenapa gak bilang? Ngagetin aja, aku pikir tuh kaka mau minta lagi ettt----" Naira menutup mulut nya dengan tangannya.


Pram menautkan keningnya pada kening Naira, "mulai menggoda Naira dengan suaranya, "Ayo kata kan sekali lagi, apa yang kau fikirkan? Jangan jangan kau yang masih kurang dengan si otang ku? Hem?"


"A- aku... aku gak bilang gitu ihs, awas!" Pipi Naira merona malu dengan perkataan nya sendiri, tangannya mendorong Pram dan membuatnya melangkah ke arah lemari, mengambil pakaian untuk Naira pakai, aku mikir apa sih! Dasar bodoh, otak mesummm ka Pram nular ke aku nih, kacau.


"Bagus dong kalo otak mu mulai mesummm, sama seperti ku kan?" Ledek Pram.


"Ihs kaka, ini pakai lah handuk dulu!" Naira memberikan handuk pada Pram.


"Yang benar saja sayang, masa aku harus ke luar kamar dengan handuk? Tidak mungkin juga kan aku pakai pakaian yang aku pakai tadi?" Pram mendudukan dirinya di tepian kasur, dengan haduk yang menutupi bagian pinggang sampai lututnya.


"Siapa yang bilang... aku akan membiarkan kaka ke luar dengan mengenakan handuk? Kaka tunggu di sini!" Naira ke luar dengan mengenakan t-shirt dan celana jeansnya.


Pram menghubungi Haikal, dengan ke dua matanya yang menatap ke arah pintu, "Bagai mana dengan tugas yang aku berikan... apa sudah kau jalankan?" tanya Pram dengan suaranya yang datar.


[ "Bos tenang saja, dalam hitungan jam, pasti akan ada yang akan menghubungi Atmaja." ] jawab Haikal lewat sambungan teleponnya.


"Ingat... jangan pernah meninggal kan jejak, jika hal ini sampai bocor ke telinga Naira, kau sendiri yang akan mendapatkan hukumannya!"


[ "Pokonya bos tenang aja, kali ini tidak akan ada yang mengetahui nya. Aku mengerjakannya dengan rapih." ] terang Haikal meyakinkan bosnya.


Ceklek.


"Ayo ka, pakai baju ini! Gak enak lo... kita udah di tunggu buat makan malam!" Naira menyerah kan pakaian yang ia bawa di tangan Pram.


Pram menjembreng pakaian yang Naira berikan padanya, "Apa ini? Kau tidak salah memberikan aku pakaian ini?" Pram tampak malas melihat baju yang di berikan Naira padanya.


"Ayo lah ka, ini terdesak kan! Kalo kaka pake baju Dito, gak akan muat. Badan Dito kan lebih kecil dari kaka. Adanya baju papa, gak apa ka... ini masih bagus ko!" ujar Naira.


Naira merebut kembali baju yang sudah ia berikan pada Pram, dan memakaikan nya pada tubuh Pram. Dengan malas Pram menuruti perkataan Naira.


Pram menggerutu dalam hati, bibirnya terus mengerucut, aku melakukan ini hanya untuk mu Naira, jika tahu begini, pasti aku sudah membawa pakaian ganti untuk ku.


"Kaka mau pakai sendiri, atau aku pakaikan?" Naira menyodorkan celana di depan Pram.


Sreek.


Pram merebutnya dari tangan Naira, "Aku bisa pakai sendiri!" sungut Pram.


"Gitu dong, nanti di bawah... kaka jangan tertawa ya! Kalo bisa, tahan tawa kaka." Naira menyunggingkan senyumnya, mengelusss lengan Pram.

__ADS_1


Pram mengerutkan keningnya, "Kenapa memangnya? Ada juga aku kan, yang menjadi bahan tawaan keluarga mu?" Pram mengeratkan tangannya pada pinggang Naira, menariknya hingga tubuh ke duanya saling menempelll tanpa jarak, ke dua mata Naira dan Pram saling menatap.


Naira memainkan jemarinya pada bahu dan turun ke dada Pram, "Ihs siapa juga yang akan mentertawa kan kaka, ini lebih dari penampilan kaka. Karena ucapan kaka itu, papa jadi pake daster mama hihihi." Naira menyembunyikan wajahnya, di dada Pram, mengingat apa yang tadi ia lihat pada penampilan Atmaja di bawah.


"Kalo begitu tunggu apa lagi, ayo kita ke luar!" Pram menarikkk pergelangan tangan Naira, membawanya ke luar dari kamar.


Hati Pram tidak sabar ingin melihat penampilan pria keras kepala, seperti Atmaja mengenakan daster, melihat harga diri pria yang selalu membuatnya kesal kini terinjak. Namun Pram juga melupakan, bahwa ia juga sedang mengenakan pakaian dari pria yang sedang ia kerjai. Pakaian yang cungklang pada tubuhnya yang tinggi, sedang Atmaja pria pendek berpostur agak gendut.


"Wah wah, maaf sudah membuat kalian menunggu lama." ucap Pram yang lantas mendudukan dirinya di kursi bersebelahan dengan Naira.


"Dasar menantu tidak tau diri, tidak sopan membiarkan orang tua... menunggu kalian untuk makan malam!" sungut Atmaja dengan ketus.


"Pah! Jangan mulai lagi!" ucap Heni.


"Papa mertua, kostum mu malam ini bagus sekali!" ledek Pram dengan lirikan matanya yang meremehkan Atmaja.


"Ka!!" Naira menggenggammm jemari Pram, mencegahnya untuk Pram berkata lagi.


Atmaja menyeringai, dasarrr pria tua bodoh, "Heh, lalu kostum mu bagai mana? Apa kau sudah merasa nyaman dengan yang kau kenakan?" ucap Atmaja yang menohok Pram.


Pram membola, "Apa?"


Pram mengerutkan keningnya, melihat pada dirinya sendiri, sialll ini sama saja aku tidak ada bedanya dengan pria tua... sialannn.


"Ka Pram sangat cocok ko dengan pakaian itu!" ucap Dito dengan menahan tawa, melihat kelakukan kaka iparnya dan papanya.


Ruang makan mendadak hening, tidak ada lagi yang saling bicara, kecuali tatapan sinis antara Pram dan Atmaja yang sesekali terlihat.


Tring tring tring tring.


Telpon rumah berdering.


Pram menyeringai, apa setelah ini ke sombongan mu masih berlaku, Atmaja!


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk

__ADS_1


__ADS_2