
...💖💖💖...
"Salah ku juga, karena terlalu lembek dengan mu! Jika terdesak, gunakan senjata, tapi jika masih aman, gunakan tangan kosong. Dengan begitu kita bisa siasati keadaan." ujar Pram.
"Oke lah. Jadi kita mulai beraksi lagi... bak penjahat licik?" gumam Toda.
Bugh.
Zang menjitak kepala Toda.
"Jangan jadi penjahat yang teriak penjahat, dasar bodoh!" sungut Zang.
"Jadi berapa perkiraan mu, ka! Polisi yang datang untuk mengecek markas?" tanya Takeshi.
"Dua mobil, 6 orang! Tapi dampak buat usaha ilegal mu bisa berdampak buruk, jika sampai polisi itu berhasil menemukan ruang bawah tanah, dan menemukan celah untuk mendapatkan bukti." ucap Pram dengan tegas.
"Apa secepat itu laporan langsung di usut, ka?" tanya Toda.
"Hentikan mobilnya!" seru Pram saat mobil akan berbelok memasuki gang menuju markas.
"Kaka mau apa? Rumah kita masih ada di depan kan! Kita harus melewati 3 rumah lagi untuk sampai di sana." ucap Toda.
"Apa kau ingin tertangkap basahhh! Tanpa mengecek, membaca keadaan rumah mu yang kini sedang di selidiki polisi?" ucap Pram datar.
"Ka Pram benar." ucap Zang.
"Biar aku cek keadaan dulu. Jika aku tidak kembali dalam waktu 10 menit, kalian harus melewati gerbang rumah, memastikan apa yang terjadi! Kalian mengerti!" ujar Pram dengan mengenakan topi dan masker, menutupi wajahnya. Ia juga mengenakan sarung tangan, karena cuaca yang kini menjadi dingin.
"Mengerti ka!" seru Takeshi dengan mengeluarkan senjata apinya dari dasbor mobil, ia mengecek isi peluru yang ada di dalamnya.
"Aku ikut dengan mu, ka!" Zang ke luar dari dalam mobil, mengikuti langkah kaki Pram dan jalan beriringan.
Pram dan Zang berjalan seperti orang biasa. Ke duanya nampak berbicara saat melewati gerbang yang menjadi markas, sekaligus rumah ke tiganya dan beberapa anak buah yang tinggal di tempat itu juga.
Zang menajamkan penglihatannya, "Benar 2 mobil ka! Itu bukannya Furio! Dan itu Nona Harumi kan? Wah berani sekali mereka kembali ka!" oceh Zang di balik mulutnya yang tertutup masker.
Tampak 2 mobil polisi terparkir di depan rumah yang menjulang tinggi gerbangnya, gerbang yang biasa tertutup kini di buat terbuka lebar.
Terlihat Harumi, Furio dan dua orang polisi yang berjaga di depan mobil. Sedangkan beberapa polisi sudah di pastikan berada di dalamnya.
"Jadi kau sudah tau kan, apa yang harus kau lakukan?" ucap Pram.
Zang menganggukkan kepalanya.
Dengan mudahnya Pram melewati gerbang, mengendap endap tanpa suara, saat Furio melihat Pram, Pram memberikan isyarat padanya, membuat Furio menganggukkan kepalanya.
"Maaf, pak! Aku ke belettt! Aku butuh ke kamar kecil!" seru Furio.
"Cepat lah ke toilet sana! Menyusahkan saja kau ini!" sungut seorang pria berseragam polisi.
__ADS_1
Seru Furio dengan memperlihatkan ke dua tangannya yang di borgol di depan, "Bisa kau lepaskan borgol ku ini?"
"Kau temani dia!" titah seorang polisi lainnya pada temannya.
Furio di ikuti seorang polisi, memasuki rumah yang tidak lain adalah markas Takeshi.
"Kenapa teman mu lama sekali sih? Apa kalian tidak bisa bekerja lebih cepat lagi!" sungut Harumi dengan wajah kesal menatap pria berseragam polisi.
"Jangan begitu, sayang! Kau harus sabar... biar kan anak buah ku menjalankan tugasnya dengan baik di dalam sana, dan kau... persiap kan diri mu untuk nanti malam! Kau harus menemani ku beberapa malam ini, untuk apa yang sudah aku lakukan untuk mu saat ini! Ingat itu!" ucapnya di telinga Harumi, bahkan pria berseragam polisi itu berdiri di samping Harumi dengan begitu dekat.
Membuat Pram dan Zang dapat melumpuhkan ke duanya dengan mudah.
Bugh bugh.
"Akkhhh."
Pram dan Zang, sama sama memukul tengkuk leher Harumi dan seorang polisi yang berjaga di luar.
Ke duanya langsung tidak sadar kan diri, terkulai di tanah.
Pram dan Zang, langsung menyeret tubuh ke duanya ke balik mobil. Membuat tubuh ke duanya tidak terlihat saat di lihat dari luar.
Pram dan Zang masuk ke dalam.
Tap tap tap.
Pram dan Zang bersembunyi di balik dinding, saat mendengar suara langkah seseorang yang hendak ke luar dari dalam rumah.
Pram dan Zang ke luar dari persembunyian nya dengan bernafas lega.
"Bantu aku ka!" Furio memperlihat kan tangannya yang di borgol.
"Kau pantas di borgol!" sungut Pram yang mengabaikan Furio.
"Maaf ka, tapi aku sudah menebus ke salahan ku dengan memberi tahu kaka kan!" kilah Furio, dengan mengikuti Pram dan Zang yang berjalan di depannya.
"Kau pantas mati!" ucap Zang dengan kesal.
Ke tiganya kembali bersembunyi, saat hampir sampai di kamar yang merupakan tempat penyekapan Harumi.
Nampak seorang polisi di dalam nya menodongkan pistol ke arah anak buah Takeshi. Sedangkan seorang lainnya mengobrak abrik tempat yang kini berantakan.
"Tidak ada bos!" ucap polisi yang mengobrak abrik kamar itu.
"Wanita di bawah itu berbohong, pak! Mana mungkin tempat ini di jadikan tempat penyiksaan." oceh pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam.
Polisi yang menodongkan pistol, memukulkan tangannya di bahu si pria yang berani mengoceh itu dengan kesal.
Bugh.
__ADS_1
"Uuhhhh!"
"Jangan berani menjawab! Katakan di mana barang buktinya!" ucap polisi dengan tegas.
"Apa yang harus di perlihatkan, pak! Jika tidak ada ke kerasan di tempat ini!" sungut pria lainnya, anak buah Takeshi.
"Masih berani berkilah kau ya!" dengan kesal, pria berseragam yang mencari barang bukti. Menghampiri pria yang bicara itu dan mendaratkan tendangan di perutnya.
Bugh.
Anak buah Takeshi mencondong kan tubuhnya ke depan, menahan sakit saat perutnya di tendang.
"Kurang ajak kau! Jangan berani memukul!" sungut pria berbaju hitam hendak melangkah menghampiri polisi, geram melihat temannya yang di tendang.
"Jangan berani melangkah! Jika tidak ingin peluru ini bersarang di tubuh mu!" ancam polisi dengan mengarahkan senjata apinya, ke arah pria yang hendak melangkah.
Sebelum polisi itu menarik pelatuknya, Pram lebih dulu berlari dan melayangkan tendangan pada sentaja api si polisi, membuat senjata api yang di pegang polisi terhempas menjauh dari genggamannya.
Dengan memutar tubuhnya, Pram mendaratkan kakinya di wajah sang polisi. Membuat polisi itu terhuyung ke samping. Pram langsung memberikan serangan di wajah dan perut polisi tanpa ampun, hingga tubuh polisi ambruk di lantai.
Dari arah lain, Zang langsung menyerang polisi yang satunya, dengan di ikuti anak buah Takeshi yang tadi sempat di acungkan senjata api.
Bugh bagh bigh bugh bagh bagh bugh.
Tanpa menggunakan senjata, hanya dengan tangan kosong Pram, Zang dan anak buah Takeshi lainnya berhasil melumpuhkan 2 orang polisi dengan mudah. Ke duanya terkulai tidak sadarkan diri di lantai.
"Di mana 2 polisi lainnya?" tanya Pram.
"Ruang bawah tanah!" seru Zang.
"Tidak mungkin kan jika mereka menemukannya!" sungut Pram dengan langkah pasti, berajalan dengan cepat ke luar dari kamar itu dengan di ikuti Zang, Furio dan yang lainnya.
Pram memberikan aba aba dengan tangannya, mengatur posisi yang lain untuk mempermudah gerak mereka, agar polisi tidak menyadari ke hadiran mereka yang kini ada di lantai bawah.
Bagian yang paling penting dari rumah itu, bagian yang menjadi tempat pembuatan anggur, dan beberapa rakitan senjata yang di jual secara ilegal yang di pimpin oleh Takeshi.
Takeshi melajukan mobilnya kembali dan melewati rumah mereka, dan setelah aman, Takeshi memundurkan kembali mobilnya, langsung memarkirkan mobilnya di sana.
Toda dan Takeshi langsung turun dari mobil.
"Sepertinya ka Pram dan Zang berhasil mengambil alih situasi ka! Tampak aman ka!" ucap Toda yang melihat tubuh seorang polisi dan Harumi tergelak di dekat mobil.
Baru beberapa langkah Toda dan Takeshi memasuki diri ke dalam rumah. Terdengar suara orang yang sedang berkelahi.
Bagh bugh bugh bugh bugh bagh.
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤