
...💖💖💖...
Aji mendudukkan Pram di kursi tunggu, ia mengeluskan punggung anaknya dengan telapak tangannya, "Ayah tahu kau sangat menghawatirkan ibu mu, nak... tapi yang bisa kita lakukan saat ini adalah mendo'akan ibu mu agar tidak terjadi apa apa!" Serunya yang ikut duduk di samping Pram.
Flashback end.
"Apa kita mau langsung ke tempat meeting, pak?" Tanya Dev dengan melirik kaca spion mobil.
"Apa kau pikir aku akan memundurkan jadwal meeting kita ini? Hanya karena pria tua itu?" Tanya Pram dengan mata merah menahan kesal.
"Tidak, pak."
"Bagus lah, aku tidak akan pernah terpengaruh dengan perkataannya, Dev." Ujar Pram.
Pram mengepalkan ke dua tangannya. Karena wanita jalanggg itu, aku kehilangan keluarga yang begitu aku cintai, akan ku buat dia menderita, di abaikan oleh orang yang begitu di cintainya.
"Dev!"
"Iya, pak."
"Sampai jam berapa meeting kita kali ini?"
"Perkiraan sampai jam makan siang, pak... ada banyak yang perlu di bahas dalam rapat kali ini." Ujar Dev.
"Apa bisa meeting kita undur beberapa jam ke depan?" Tanya Pram.
"Tidak bisa, pak... jam 1 bapak ada temu janji dengan infestor dari Jepang, sedangakan hari ini adalah hari terakhir infestor itu berada di Indonesia." Terang Dev.
Pram diam tidak menanggapi perkataan Dev lagi. Kali ini hotelnya akan bertambah lagi jika ia menyetujui penawaran yang di ajukan pihak infestor.
Mobil berhenti di lampu merah.
Pram mengamati seorang anak laki laki yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat sampah.
Anak itu berjalan mendekati tempat sampah, satu tangan kanannya ia masukkan ke dalam tempat sampah, seperti sedang mencari cari, tidak lama tangan mungil itu ke luar dari dalam tempat sampah dengan tangan yang memegang bungkusan nasi.
Pram langsung mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas.
"Dev! Turun dan berikan lah uang ini pada anak kecil itu!" Peeintah Pram.
Dev pun menurutinya. Ia turun dari mobil dan memberikan uang yang di berikan Pram pada anak laki laki itu, wajah bocah itu tampak senang ia bahkan sampai meneteskan air mata bahagia, terlihat anak kecil itu berkali kali mengusap ke dua pipinya seperti orang yang sefang menghalus sisa air matanya yang jatuh di pipiny. menciumi punggung tangan kanan Dev.
Dev kembali lagi ke dalam mobil da tidak lama lampu rambu lalu lintas berubah hijau.
Dev menatap Pram dari balik kaca spion mobil, pak Pram masih punya hati di balik sikapnya yang kejam.
Bugh.
Kaki Pram menendang kursi yang di duduki Dev.
"Fokus ke jalan, bukan menatap wajah ku, kau tahu kan! Sekarang ini aku sudah ada yang punya!" Terang Pram.
Astaga pak Pram, ku tarik kembali kata kata ku yang mengatakan dia baik hati dan tidak kejam.
"Saya masih normal, pak!" Seru Dev, "Apa bapak lupa? Saya ini sudah punya anak dan istri!"
__ADS_1
"Cih, kau pikir aku dapat melupakan hal itu?"
Di tempat lain.
Setelah mengantarkan Naira sampai melewati gerbang sekolah, pak supir langsung kembali ke rumah.
Ku tatap gedung sekolah ku, i'm come back to school.
Dengan tas di punggung, di tambah dengan tongkat penyanggah aku melewati beberapa lorong kelas dan anak tangga untuk sampai ke kelas ku.
Bu Rita menyapa ku di saat kami berpapasan, "Udah baikan, Nai... kaki kamu?" Tanya bu Rita.
"Alhamdulillah, udah mendingan bu."
"Minta catatan sama teman mu ya, jangan sampai tertinggal pelajaran... sayang kan, dikit lagi ujian." Terang bu Rita sembari tangannya mengelus lengan ku.
"Iya, bu... pasti itu." Ucap ku, "Kalo gitu saya ke kelas ya bu!"
"Iya, silahkan."
Sampai di dalam kelas, ku lihat Novi dan Serli yang sudah duduk di kursinya, begitu juga dengan Elsa dan Juni, mereka sudah berada di tempat duduknya masing masing.
"Pagi, gays!" Seru ku, kalo di sekolah sih udah gak ada itu kata bos dan bawahan, semua sama hanya teman.
"Pagi juga." Ucap Serli dan Novi.
"Pada bae kan kabarnya?" Tanya ku dengan berjalan santai terhalang kaki yang di gips, udah berasa kaki empat.
"Udah cepet duduk, lu... kebanyakan basa basi." Terang Novi.
"Gak seru, lo... baru nyampe yang di tanyain bukannya gw, malah si onar yang lu cari." Ketus Novi.
Ku dudukkan diri ku di kursi, tongkat yang aku gunakan pun ku sandarkan di tengah kursi ku dan kursi Novi.
Ku ke luarkan buku pelajaran pertama.
"Kayanya ada yang perlu lu jelasin, Nai!" Seru Novi sudah tidak sabar.
"Apa ya? Tanya ku pura pura lupa.
"Jangan gitu deh, hilang ingatan... baru tau rasa lu!" Seru Elsa.
"Et nenek lampir, ikut ikutan bae lagi lu." Oceh ku pada Elsa.
"Perlu kita cari tempat, atau mau lu jelasin di sini aja?" Tanya Novi dengan tatapan tajam.
Ku tatap Novi yang duduk di sebelah ku, kenapa kalo Novi yang natap gw kaya gitu, malah buat gw pengen ketawa ya? Kurang pantes ini bocah kalo bersikap kejam. Beda kalo pak Pram, tapi do'i juga gak pantes sih kalo bersikap kejam, kan kasian yang ada cuma nambah musuh.
"Yeee, ini bocah malah ngelamun!" Seru Novi yang melambai lambaikan tangannya di depan wajah ku.
Clik.
Serli menjentikkan jarinya.
"Apaan sih, lo!" Seru ku menepis tangan Serli.
__ADS_1
"Lah lo, ketawan lagi di ajak ngobrol, malah dia ngelamun." Omel Novi.
"Gini ya gays, kaki gw itu kan lagi sakit, jadi wajar kalo gw banyak ngelamun, cos teman gw ini gak peka apa mau gw." Ujar ku mencari alasan.
"Alah, basi lo." Seru Novi.
"Emang kalian mau ngomongin apa sih?" Tanya ku pura pura gak tau.
"Ya it____," Ucapan Novi terpotong saat Ratna memasuki kelas sambil bibir ngoceh.
"Waw, beberapa hari gak masuk, ternyata kakinya di gips? Kebanyakan ya lo!" Seru Ratna dengan nada bicara yang mengejek, lalu duduk di tempatnya.
Berbanding terbalik dengan sikap yang di tunjukkan Sopur.
Sopur menghampiri tempat duduk ku, "Apa kabar, Nai?" Tanyanya.
"Alhamdulillah udah mendingan lah dari yang kemaren, seperti yang lu liet ini!" Seru ku.
"Jangan di ambil hati ya ucapan Ratna." Ucap Sopur sambil melirik ke arah Ratna.
"Sopur, ngapain lo di situ? Sini balik, tempat duduk lu bukan di sana, tapi di sini!" Cicit nya.
"Udah gih sana, tar lu di amuk lagi sama teman lu itu!" Seru ku menyuruh Serli kembali ke tempat duduknya.
Sopur menganggukkan kepalanya.
"Nanti aja jam istirahat baru gw bahas sama kalian siapa itu cowok." Terang ku yang merebut buku Novi dari atas meja.
"Ke biasaan lu, nunda nunda hal penting buat di bicarain sama kita!" Seru Serli.
"Tau nih, kali ini gw sependapat ama lu Nov.
"Kalo udah kaya gini, fiks banget nih Ser, ada yang di tutup tutupin dari kita." Terang Novi.
Ku cubit ke dua pipi Novi, "Aiiih, sahabat ku yang satu ini, abis berguru sama siapa sih lo? Udah bisa menerka nerka, jadi pinter dikit gitu sekarang mah." Ledek ku.
"Sialannn lo, bearti selama ini lu mikir gw rada oon, gitu?"
Ku angkat ke dua bahu ku dengan mata melirik Serli.
"Kata Naira, ada benarnya juga sih Nov." Ceketuk Serli, "Sorry, gw keceplosan ngomong!" Serli menutup mulut dengan ke dua tangannya.
Aku tergelak tidak lagi mampu menahan tawa.
"Kampret lu pada, ini juga kan karena kalian yang ngasih gw obat!" Seru Novi.
"Obat apaan?" Cicit Serli.
"Obat sedeng!" seru Novi.
Bersambung....
...💖💖💖💖...
Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊
__ADS_1
No komen julid nyelekit