
...💖💖💖...
Pak Dedi membukakan pintu lift untuk Tuan-nya Pram.
Pram dan Naira hilang di balik pintu saat lift tertutup.
Pak Dedi kembali ke tempat di mana Dega berada.
Di saat pak Dedi sudah berdiri di samping Dega, Dega tengah senyum senyum sendiri seperti orang gilaaa.
Pak dedi membatin, ada apa dengan anak ini?
"Dega!"
Suara pak Dedi naik 1 oktaf untuk memanggil Dega dari tingkah anehnya, "Dega!"
Dega menjawab dengan gelagepan saking kagetnya, "I- iya bos, saya di sini!"
Pak Dedi geleng geleng kepala di buatnya.
"Di mana bos Pram, pak Dedi?" Tanya Dega yang celingukan mencari keberadaan Pram.
"Di kamar bersama dengan Nona."
"Apa? Di kamar? Bagai mana bisa pak Dedi? Baru saja bos Pram memanggil saya, masa iya hantu yang memanggil saya barusan!" Dega menggaruk kepalanya yang tidak gatal namun membuatnya bingung.
"Dasarrr gendengg, cepat istirahat... siap siap besok kau dapat hukuman dari bos!" Pak Dedi meninggalkan Dega dan bergegas ke kamarnya yang berada di belakang dekat dengan kitchen.
"Apa? Apa salah gw sampe bos mau hukum gw? Wah gak bener nih pak Dedi, dasarrr kepala tuwir." Sungut Dega yang memilih beristirahat di paviliun.
Pram membawa Naira ke kamarnya, di depan kamar Pram sudah berdiri seorang penjaga.
Pria berbadan tegap itu menundukkan kepalanya dengan hormat, "Selamat datang kembali, Tuan." Sapa pria itu dengan ramah.
"Buka pintunya!" Pram menjawabnya dengan perintah di sertai suaranya yang dingin, kaku dan tegas.
__ADS_1
Dengan tangan di handle pintu penjaga pria itu ngedumel kesal.
Aiiiih bos kapan ada ramahnya sama anak buah.
"Jangan mimpi!" pram masuk ke dalam kamar saat penjaga itu sudah membuka kan pintu.
"Hah? Apanya yang jangan mimpi?" tanya pria itu.
Brak.
Pria itu berjingkat kaget saat Pram dengan sengaja membantinggg pintu dengan kakinya begitu keras.
"Yaaa Tuhan berikan lah aku ini jantung yang kuat, agar mental dan jiwa ku bisa tetap bertahan di rumah ini.
Di dalam kamar Pram menidurkan Naira dengan hati hati ke atas ranjang.
Dengan mendudukkan dirinya di tepian ranjang, Pram memperhatikan wajah lelah Naira, "Apa begitu melelahkannya, hingga kau tidak terbangun saat aku memindahkan mu ke sini?" Tanya Pram dengan bingung.
Tangan Pram mengapit tubuh Naira dengan mencondongkan tubuhnya mendekat pada wajah Naira, memperhatikan lebih dekat setiap inci wajah Naira.
Pram mengecuppp bibir ramun Naira.
Cup cup cup.
Pram membelai lembut bibir Naira. "Dari bibir ini pula, kau selalu menyerukan nama ku di setiap do'a mu."
Deru nafas Pram menyapu wajah Naira saat pria itu bergumam panjang, "Alis mata mu begitu lebat Nai, hitam alami tanpa kau poles dengan pensil yang menulis pada alis mu, hidung mu yang mancung, pipi mu yang cabi, sepasang mata mu yang indah saat menatap ku, bulu mata mu yang lentik. Wajah mu sempurna di mata ku Nai."
"Aku tidak ingin mengganggu waktu tidur mu Nai, tapi aku tidak sanggup menunggu sampai kau bangun tidur."
Pram mendekatkan wajahnya pada wajah Naira hingga tanpa jarak, "Maaf ya Nai."
Pram menyesappp bibir bawah Naira dengan ke dua mata yang terpejam, menikmatiiii bibir ranum Naira. Semakin lama Pram menggigitttt kecil bibir bawah Naira dan bibir itu terbuka.
Pram menyesapppp lidah Naira hingga wanita itu mengeluarkannn suara lenguhannn.
__ADS_1
Dalam ke adaan terpejam, Naira yang terusik tidurnya merasakan lidahnya tengah di hisappp layaknya yang sering ia lakukan pada Pram.
Dalam ke adaan mata yang terpejam, Naira berkata pada hatinya, ko kaya gw lagi ciumannn sama ka Pram ya! Tapi ka Pram kan lagi di jepang, masa iya ada yang dengan berani melecehkkan ku?
Alangkah terkejutnya Naira saat membuka ke dua matanya, Pram pria yang sangat ia kenal seram, dingin acuh dengan tenang tengah mencuri ciumannya dengan ke dua mata yang terpejam.
Pram asikk untuk tetap menjamahhh dalam mulut Naira dengan lidahhh yang menari.
Sejak kapan ka Pram sudah kembali dari Jepang?
Tangan Naira hendak memeluk tubuh Pram, namun ia urungkan saat ide gila muncul di otaknya.
Ka pram udah ngerjain gw kan, sekarang gw bales lo ka.
"Emmmm." Naira berpura pura mengeranggg.
Ke dua telapak tangan Naira dengan posisi telapak tangan kini berada tepat mengarah ke dada bidangnya Pram.
"Hiaaaaaat, mati kau!" Seru Naira yang tengah pura pura meracau dengan tangan yang sekuat tenaga ia dorong ke dada bidang Pram.
Bugh.
Dugh.
Pukulan keras telapak tangan Naira dengan bantuan dorongan lengan kini mendarat di dada bidang Pram hingga membuat Pram jatuh terjengkang di atas lantai.
"Awh." Pram memekik sakit.
"Ahahaha emang enak, sukurin lo, ciummm tuh dinginnya laitai." Oceh Naira dengan mata yang masih terpejam.
Pram mengerut kan keningnya, kenapa ocehan bocah nakal itu sama seperti dengan apa yang aku alami ini ya?
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁