
...💖💖💖...
"Ratna, Sopur! Kalian ikut bapak ke ruang kepala sekolah!" Seru pak Herman.
"Saya, pak?" Ratna menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk tangan kanannya.
"Apa ada Ratna lain di kelas ini?" Tanya pak Herman dengan menatap tajam pada Ratna.
"Udah sana lo ikut aja, nanti juga lo tau kenapa bisa di panggil!" Timpal Juni yang memang tidak suka dengan tingkah Ratna.
Sopur beranjak dari tempat duduknya merasa dirinya tidak bersalah, ia juga orang pertama yang melihat Lala di toilet bersama dengan Ratna meski pun Ratna mengira itu adalah Naira.
Ratna mengikuti langkah kaki Sopur meninggal kan kelas, gw yakin kalo itu Naira, gak ada murid lain di toilet selain dia tadi.
Sopur menoleh ke arah Ratna, pasti lo ngira yang berhasil lo sakitin itu adalah Naira? Tapi sayangnya nasub baik masih berpihak sama Naira, justru lo buat masalah sendiri buat hidup lo.
"Kalo begitu saya permisi, pak!" Pak Herman undur diri dari kekas dan menyusul Ratna dan Sopur yang sedang menuju ruang kepala sekolah.
Serli berbisik pada Novi, "Kira kira Ratna kenapa lagi ya di panggil? Kepala sekolah lagi, bukan guru konseling lagi!" Seru Serli yang di liputi penasaran.
"Lo tebak, Ratna mau dapet hukuman atau hadiah dari kepala sekolah?"
Sreek.
"Awhhh, sakit bego!" Celoteh Novi saat Serli menarik beberapa rambut panjangnya ke belakang.
"Mana mungkin anak kaya Ratna bisa di kasih hadiah sama pak kepala sekolah, ngaur aja lo!" Gerutu Serli.
"Lo begooo, kalo punya pemikiran kaya gitu!"
Wuuuus.
Pak Asep melayangkan pulpennya ke kursi Naira yang kosong.
Pluk.
Pulpen jatuh tepat saat menabrak kursi Naira yang membuat Serli dan Novi jadi tertegun.
"Sudah selesai kalian, diskusinya?" Tanya pak Asep dengan tangan di lipat di depan dadanya.
Pak Herman berjalan mendahului Ratna dan Sopur.
Ceklek.
"Kalian masuk lah!" Seru pak Herman memberi perintah untuk ke dua muridnya itu masuk ke ruang pak kepala sekolah yang kini hawanya berubah menjadi menyeramkan.
Sopur melangkah meyakinkan dirinya sendiri dalam hati, bismilah Sopur, gw di panggil, cuma buat jadi saksi, kan lo yang justru nolongin Lala.
Ratna mulai melangkah dengan meragu, gw yakin gak akan ada bukti yang mengarah ke gw, gw bisa berkilah kalo bukan gw yang melakukannya.
__ADS_1
Tek tek tek.
Pak Radi tampak mengetuk ngetukkan pulpen yang ia pegang ke permuakaan atas meja.
"Duduk kalian!" Seru pak Radi dengan suara yang datar dan berat, dari wajahnya tampak rahangnya mengeras menahan amarah dengan suara gemeretuk giginya yang saling berbenturan.
"Ada apa ya pak, saya sampe di panggil ke sini?" Tanya Ratna dengan santainya saat mendudukan dirinya di kursi yang ada di depan pak Radi yang terhalang dengan meja.
Sopur mendudukan dirinya di kursi yang ada di sebelah Ratna, Ratna begooo banget sih nanya kaya gitu, lo pura pura gak tau ke salahan lo apa gimana sih?
Pak Radi tampak membuang nafasnya dengan kasar, menatap tajam pada Ratna dan Sopur.
Apa yang sudah anak ku perbuat pada mu Ratna, sampai kau tega berbuat sekejam itu pada putri ku! Apa mau mu sebenarnya.
Radi yakin jika yang melukai putrinya adalah Ratna, salah satu murid yang paling rajin terkena masalah.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada putri saya, Ratna?" Tanya pak Radi dengan suaranya yang menahan marah, tangannya mengepal kencang sampai pulpen yang ada dalam genggamannn tangannya patah.
Ratna membola dengan keningnya yang mengkerut, ia juga menegakkan tubuhnya, "A- apa maksud bapak? Putri bapak?" Apa jangan jangan kali ini gw salah orang lagi? Kalo itu bukan Naira lalu putrinya pak radi, Lala?
Brak.
Pak Radi menggebrak meja dengan ke dua tangannya.
"Kau apa kan putri ku heh!" Serunya dengan suara yang naik 2 oktaf.
Pak Herman yang sedari tadi berdiri di depan pintu langsung menghampiri atasannya yang tampak bisa hilang kendali.
Deru nafas pak Radi tampak tidak beraturan, nafasnya memburu ke arah Ratna.
Ratna menoleh ke arah Sopur dengan tatapan mata /nya yang menatap tajam seolah dirinya sedang bertanya, 'Maksudnya apa?'
"Yang lo pukul pake gagang sapu itu bukan Naira, tapi Lala!" Seru Sopur yang tau jika tatapan Ratna seorang sedang bertanya padanya.
Kening Ratna mengkerut, mampusss gw, astaga, tenang tenang Ratna, lo ngak boleh tunjukin lo cemas, yang ada mereka semua akan menaruh curiga sama lo.
Ratna menarik nafas dalam dalam, menoleh ke arah pak Radi, "Bukan saya pak yang ngelakuinnya, tapi dia pak! Iya dia pak!" Ratna menunjuk jari telunjuk kanannya pada Sopur.
Sopur beranjak dari duduknya, menatap tajam pada Ratna, "Bukan saya pak, saya yang nolongin Lala, Ratna yang mukulll Lala pak." Seru Sopur dengan tatapan yang meminta pak Radi untuk percaya padanya.
Wing wing wing.
Suara sirine mobil ambulan memasuki pelataran parkir sekolah.
"Awas kamu ya, hukuman akan kalian dapatkan pada siapa saja yang sudah melakukan ini pada putri saya!" Seru pak Radi yang langsung berjalan ke arah ruang UKS.
Sedangkan pak Herman menahan ke duanya di ruang kepala sekolah.
"Duduk kalian!" Seru pak Herman meminta ke duanya untuk duduk.
__ADS_1
🍂Di ruang UKS 🍂
Lala di pindahkan ke berangkar dan di larikan ke rumah sakit dengan suhu tubuhnya demam.
"Kenapa dengan putri saya, dok?" Tanya pak Radi pada dokter Ike.
"Lala harus di larikan ke rumah sakit pak, di sana alatnya lebih lengkap untuk mencari tahu ada luka yang cedera atau tidak pada punggung Lala yang lebam."
Pak Radi mengikuti berangkar yang membawa Lala masuk ke dalam mobil ambulans dan membawanya ke rumah sakit.
Naira tampak gusar di atas pembaringannya, menatap ranjang yang tadi di tempati oleh Lala.
"Kalo bener Ratna yang ngelakuin ini semua, Ratna bakal terancam gak ikut ujian dong? Malah ujian udah di depan mata." Gumam Naira.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
Hape Naira yang ada di saku roknya bergeter.
"Lo di mana, Nai? Gak balik kelas lo?" Tanya Novi lewat pesan singkatnya.
"Gw di UKS, perut gw sakit banget nih. Lo denger gak tadi suara sirine mobil ambulans dateng?"
"Iya, gw denger. Gw pikir lo yang di bawa. Emang siapa yang di bawa ke rumah sakit pake mobil ambulans?"
"Lala, kayanya parah deh. Selama gw di UKS ngelietin Lala, itu anak cuma sebentar siumannya udah gitu pinsan lagi. Makanya ka Ike langsung hubungin pihak rumah sakit buat kirimin mobil ambulans ke sini."
"Sopur sama Ratna di panggil ke ruang kepala sekolah. Lo tau?" Tanya Novi lagi.
"Gak tau, cuma tadi Sopur sempet bilang sama pak Herman, Sopur liet Ratna megang sapu terus Lala udah terkapar gitu di lantai toilet putri."
"Gila Nai, lo hati hati sama Ratna, itu anak kayanya mau ngincer lo lagi."
"Begooo lo, ngapain dia ngicer gw. Emang gw udah ngapain coba sama itu anak, dendam kesumat amat sama gw!"
"Elah lo, kalo gw kasih taunya. Pokonya lo hati hati aja sama Ratna."
"Bawel lo, awas ada pak Asep... tar kena amuk lagi lo, hahahha."
Ke dua mata Naira menatap langit langit ruang UKS yang berwarna putih.
"Ka Pram lagi ngapain ya di tempat kerjanya, apa ka Pram beneran nekat mau habisinnn itu orang? Siapa yang mau di habisinnn sih?"
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉