Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Menyembunyikan status


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram melangkah menghampiri Zang, Toda dan Takeshi dengan tangan yang mengepal.


"Ka Pram! Jangan cari masalah! Ini rumah sakit ka! Ka!" sungut Naira.


Pram berdiri di depan ke tiganya, "Heh kalian bertiga! Apa perlu aku yang menengahi perdebatan kalian?" tanya Pram, dengan menggulung lengan kemeja yang ia kenakan sampai sebatas siku.


Takeshi langsung beranjak dengan menatap canggung Pram, "A- aku baru ingat, aku harus urus Nona Harumi dan membuat janji." Takeshi langsung memasukkan sisa burger, yang ada di tangannya ke dalam mulutnya. Takeshi langsung mencari aman dengan meninggalkan ruang rawat dengan tatapan tajam Pram yang mengikuti arah pergerakannya.


Blam.


Pintu ruang rawat tertutup.


Ceklek.


Takeshi menyembulkan kepalanya ke dalam ruang rawat, "Cepat lah pulih kaka ipar!" lalu Takeshi menghilang kembali di balik pintu yang langsung ia tutup.


Blam.


"Apa kalian berdua... masih tetap ingin melanjutkan perdebatan kalian berdua di sini?" tanya Pram dengan tatapan yang tajam.


"A- anu ka, a- aku baru ingat, harus mengurus bar... ada pengusaha yang meminta ku untuk di carikan wanita penghibur." oceh Toda.


Membuat Pram mengerutkan keningnya, sialll... kenapa bocah ini pake membahas masalah bar dan wanita penghibur di depan Naira!


"Kau yakin itu?" tanya Pram dengan maju satu langkah.


"Iya benar!" Toda melirikkan matanya pada Naira, "Besok aku kembali lagi kaka ipar!" Toda langsung berlari ke arah pintu, setelah berpamitan pada Naira dan mengabaikan Pram.


Pram menatap Zang yang masih duduk di sofa, dengan burger dan minuman soda yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Kau masih ingin tetap berada di sini?" tanya Pram dengan tatapan yang tajam dengan suaranya yang datar.


"Pasti lah ka, aku tidak akan berdebat. Karena sudah tidak ada, yang bisa aku ajak untuk berdebat! Sudah sana anggap saja hanya ada kau dan kaka ipar!" ucap Zang dengan acuh, menikmati makan siangnya dengan tenang dan santai. Bahkan ia menaikkan ke dua kakinya ke atas sofa.


"Cihh kau ini!" Pram mengambil bingkisan yang ada di sofa dan mengeluarkan sebungkus burger, serta segelas minuman soda dari dalam bingkisan.


"Awas kau, jika berani mengusik ketenangan ku dan Naira!" ancam Pram, dengan jari telunjuk kanan nya yang mengarah pada Zang.


"Bawel!" sungut Zang tanpa menatap Pram.


Pram membalikkan tubuhnya, kembali menghampiri Naira.


"Huh!" Zang membuang nafasnya dengan kasar, menatap punggung Pram yang menjauh darinya, ka Pram kalo lagi marah, gak pernah berubah. Matanya melolot udah kaya singa mau makan ikan.


Tidak jauh berbeda dengan Zang, Naira juga membuang nafasnya dengan lega, tidak terjadi apa apa, pada ke 4 pria yang tadi sempat membuatnya tegang dengan di landa rasa cemas.


Pram berkata tanpa menoleh ke belakang untuk menatap Zang, "Aku bukan singa yang akan memakan ikan, aku Pramana Sudiro yang akan menghabisiii mu, jika kau bertingkah Zang!"


"Ka Pram! Dasarrr rubah pemarah! Zang dari tadi hanya diam." cicit Naira.


"Kau memang tidak bisa mendengar apa yang Zang katakan. Karena Zang menggerutu dalam hatinya." cicit Pram.


Zang yang memang sudah tahu keadaan Pram, yang bisa mendengar batin seseorang. Tanpa ragu memberikan Pram pujian.


"Wah ka Pram, satu ke mampuan mu yang tidak di miliki Takeshi, Toda dan aku. Bisa mengetahui jika ada orang sedang berniat buruk. Tapi jika orang itu berkata jujur lewat batinnya." ucap Zang.


"Jadi kalian juga mengetahui ke mampuan ka Pram? Bisa mendengar suara hati seseorang?" tebak Naira dengan mulut yang mengunyah burger.


"Jadi kaka ipar juga sudah tahu?" tanya Zang dengan menatap ke arah Naira.


Naira menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang di ucap kan Zang.

__ADS_1


"Tadi maksud Toda, apa ka? Mengurus bar, ada pengusaha yang meminta wanita penghibur. Sebenarnya apa yang kalian kerja kan? Apa pekerjaan mereka bertiga?" cecar Naira dengan tatapan yang menyelidik.


Pram membuang nafasnya dengan kasar, "Kau tidak perlu tahu apa pekerjaan mereka, yang pasti mereka punya pekerjaan, mereka bukan pengangguran yang tidak menghasilkan uang." ujar Pram tanpa berniat untuk mengatakan pekerjaan, dan apa yang di lakukan ke tiganya pada Naira. Dengan kata lain, Pram ingin menyembunyikan status ke tiganya dari Naira.


Naira menatap malas Pram, "Aku merasa... ada yang sedang kaka sembunyikan dari ku!" Pram menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.


"Jangan bilang kaka ipar sedang merajuk?" ledek Zang, sebenarnya apa alasan ka Pram ingin menyembunyikan status kami bertiga dari kaka ipar? Jika kaka ipar sendiri saja... sudah bisa menerima kejammm nya ka Pram seperti apa. Mustahil jika kaka ipar tidak bisa menerima status kami bertiga yang seorang mafia. Mafia sama kejammm nya dengan ka Pram.


Pram menatap tajam Zang, "Kau ke luar lah! Telinga ku terganggu dengan gerutuan mu itu!" sungut Pram.


"Aku tidak akan menggerutu! Perut ku sudah kenyang! Rasanya lebih baik aku tidur. Memimpikan di temani wanita cantik nan sexiii, yang mencumbuuu ku!" Zang merebahkan tubuhnya di atas sofa, dengan lengan sofa yang di jadikan bantal untuk kepalanya.


"Ayo... di minum obat mu!" seru Pram dengan mengarahkan obat ke hadapan Naira.


"Bisa tidak, yang ini tidak usah, ka! Ini besar sekali ka! Pahit lagi!" cicit Naira, dengan jari telunjuk kanan nya yang mengarah pada sebutir obat, dengan ukuran jauh lebih besar dari yang lainnya.


"Tidak bisa, kau harus menghabis kan semua obat ini! Ini akan membantu mu dalam pemulihan luka mu." terang Pram.


"Ihs... ka Pram udah kaya dokter aja. Aku bosen ka, kapan aku bisa ke kuar dari rumah sakit?"


"Aku, dokter cinta mu! Setelah kau sudah di izinkan dokter untuk meninggalkan rumah sakit, pasti kau akan menghirup bebas udara luar. Tidak menghirup aroma obat lagi." cicit Pram.


"Kita akan melanjutkan bulan madu kita kan ka? Kaka akan membawa ku ke beberapa tempat lagi yang ada di jepan kan ka? Omong omong, belanjaan yang sudah aku beli, masih kaka simpan kan?" cecar Naira dengan.


"Kita lanjutkan bulan madu di Indonesia, aku sudah meminta Dedi dan Samuel untuk menyiap kan segala sesuatunya untuk mu." ujar Pram.


"Yah ka! Cepat sekali. Aku masih ingin berada di Jepang ka. Masa liburan ku menghabiskan waktu di rumah sakit. Kan gak lucu ka, udah bulan madu jauh jauh. Ujung ujung nya aku cuma menghabiskan waktu di rumah sakit! Apa kata karyawan ku nantinya ka?" Naira mengerucutkan bibirnya.


"Bisa saja sih kita lebih lama di Jepang. Tapi ada syaratnya." ucap Pram dengan menyeringai, serta menatap Naira dengan nakal.


......................

__ADS_1


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2