
...💖💖💖...
Buat kalian yang udah baca, ayo dong komen. Itung itung kasih masukan buat author gabut ðŸ¤ðŸ¤ biar gak mentog ide 😉😉
.
Cus lanjut lagi ke Naira dan Pram.
...Happy reading...
Naira bangun lebih dulu dari Pram. Tangannya menepuk nepuk pipi Pram dengan pelan.
Plak plak plak.
"Ka, bangun ka. Udah subuh ini!" Naira menjeda perkataannya saat Pram mulai mengerjapkan ke dua matanya.
"Ka Pram, ayo bangun! Kaka sholat subuh gih!" Seru Naira lagi saat Pram memejamkan ke dua matanya lagi.
Sholat? Apa aku masih pantas untuk sholat? Apa sholat ku akan di terimanya? Tidak sedikit perbuatan dosa yang sudah aku lakukan selama ini. Apa aku akan ke hilangan mu Nai, jika kau tahu apa yang sudah aku lakukan hingga aku bisa menikah dengan mu? Apa kau masih menerima ku saat tahu dosa dosa yang sudah aku lakukan selama ini?
Naira melihat ke dua mata Pram yang berkedut, "Ka Pram, aku tahu loh kalo kaka ini sudah bangun! Kaka juga bisa mendengar ku kan? Ayo bangun ka! Kaka sholat yuk!"
Naira membujuk Pram dengan tangannya yang bergerak usil membentuk senyum dengan menarik ke dua sudut bibir Pram dengan jari tangannya.
Hap.
Pram memeluk tubuh Naira yang berada di atas tubuhnya hingga tidak lagi berjarak.
"Ka, ayo bangun!" Seru Naira lagi.
Pram membuka ke dua matanya menatap bola mata indah Naira yang bulat.
"Kau saja! Aku masih ngantuk!" Pram menolak secara halus ajakan Naira.
"Ihs ka, ayo kaka awali hari dengan sholat subuh, setelah itu kaka mandi, aku kan lagi libur sholatnya ka... gimana kalo aku buat kan sarapan untuk ka Pram ya!" Seru Naira dengan wajah imutnya.
"Apa sholat ku akan di terimanya?" Tanya Pram.
"Tentu saja, jika kaka melakukan dengan sungguh sungguh dan tidak melakukan ke salahan yang sama dengan di sengaja. Dia itu maha pemberi maaf atas dosa yang sudah di lakukan umatnya." Terang Naira yang beranjak dari tubuh Pram.
"Aku buatkan sarapan dulu buat kaka!" Naira berjalan ke arah pintu.
"Tidak perlu, biar kan koki yang membuatkan sarapan untuk kita!" Seru Pram yang melarang Naira untuk membuatkan sarapan untuknya.
Naira yang sudah berada di depan pintu dengan tangan menggenggam hendle pintu menoleh ke arah Pram dengan wajah yang kesal, "Kalo aku bilang aku ya aku ka!"
Brak.
Naira menutup pintu dengan keras.
Pria yang berdiri di depan kamar pun berjingkat kaget di buatnya, saking aja Nona Muda, jika bukan sudah ku habisiii!
Naira mengerut kan keningnya melihat seorang pria dengan tubuh tegap dan masih muda berdiri di depan kamarnya.
"Apa yang sedang abang lakukan di sini?" Tanya Naira.
"Hanya berjaga, Nona." Jawab pemuda itu dengan sekilas menatap Naira lalu menundukkan kepalanya menatap lantai.
__ADS_1
"Owh berjaga, aku sedang bicara loh... ada gitu orang lagi ngomong tapi malah yang di lietin lantai, emang situ lagi nutur duit?" Cerocos Naira mengerucutkan bibirnya.
"Maaf Nona, saya tidak berani menatap Nona lebih dari 1 menit." Ujarnya lagi dengan datar.
"Ihs mana bisa gitu?" Naira bertulak pinggang dengan wajah yang sebal.
"Bisa Nona, ini sudah menjadi perintah Tuan Muda, perkataan Tuan Muda adalah perintah yang harus di jalani, Nona!"
Naira membola dengan kening yang mengkerut, "Peraturan? Ka Pram yang buat peraturan itu?"
"Iya Nona."
"Ihs, ka Pram ini! Apa apaan coba? Gak mutu gitu peraturannya, malah peraturan yang ka Pram buat itu terkesan aneh." Sungut Naira yang memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju dapur dengan lift.
Ting.
Pintu lift terbuka, Naira langsung mendapat sambutan dan tatapan bingung dari pak Dedi.
Tumben Nona jam segini sudah turun dari kamar tanpa Tuan.
"Selamat pagi Nona, apa ada yamg Nona butuhkan?" Tanya pak Dedi saat Naira melangkah ke luar dari lift.
Dengan riang Naira menjawab, "Ada lah, pak. Tapi aku mau buat sendiri aja, sarapan spesial buat ka Pram!" Naira melangkah menuju dapur dengan di ikuti pak Dedi yang berjalan di belakangnya.
Pak Dedi mengerutkan keningnya, "Apa maksud Nona, Nona akan masak sendiri? Untuk Tuan Pram?"
"Iya lah pak, atau pak Dedi juga mau aku buatkan nasi goreng? Soal rasa di jamin gak akan bikin sakit perut deh pak!" Ucap Naira asal.
Pak Dedi bergidik ngeri dengan susah menelan salivanya, astaga Nona yang benar saja apa jangan jangan Nona tidak bisa masak?
Dengan wajah datar Naira berkata dengan tegas, "Aku akan masak sendiri, aku sudah bilang pak sama ka Pram!" Ihs pak Dedi nih pasti mau larang, enak aja... gak bisa.
"Selamat pagi, Nona Muda." Sapa seorang koki yang sudah stand by di dapur dengan beberapa asistennya.
"Pagi pak koki." Jawab Naira dengan senyum mengembang, ini kali pertama Naira melangkahkan kakinya di dapur untuk memasak sarapan untuk Pram.
Naira celingukan saat berada di dapur dengan alat alat masak yang tersusun rapih dapur yang cukup luas.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?" Tanya pak koki yang memperhatikan Nona Muda-nya yang tampak bingung.
"Aku ingin buatkan ka Pram sarapan nasi goreng, apa kalian bisa menyiapkan bahan bahannya? Biar aku nanti yang membuatnya sendiri." Ujar Naira memberi tahu maksud ke datangannya di dapur.
Pak koki bertanya pada kepala pelayanan pak Dedi dengan gerakan kepalanya, seolah dia berkata.
'Bagai mana ini pak Dedi? Apa aku harus membiarkan Nona Muda turun tangan sendiri untuk membuatkan Tuan Muda sarapan?'
"Lakukan saja apa yang di katakan Nona, perkataannya adalah perintah yang harus kalian patuhi." Terang pak Dedi yang akhirnya menyerah dengan ke inginan Nona Muda-nya.
Pak koki dan asistennya membantu Naira menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng yang akan Naira masak sendiri dengan tangannya.
Setelah semua bahan dan alat masak siap, Naira mulai membuat nasi goreng dengan memanfaatkan bahan yang ada.
Pak koki tampak takjub dengan Nona Muda-nya, ia mau berhadapan langsung dengan penggorengan dan bahan masakan dengan terampil pula ia memasak.
Jika saja yang menjadi Nona Muda-nya adalah salah satu model cantik yang di gosipkan dekat dengan Pram. Maka sudah dapat di bayangkan koki dan pekerja lain akan di repot kan olehnya.
"Sudah selesai." Naira menata sedemikian rupa 2 porsi nasi goreng di hadapannya dan sisanya ia biarkan di penggorengan.
__ADS_1
"Wah pasti rasanya sangat enak Nona!" Seru pak Dedi yang sedari tadi ikut memperhatikan cara Naira memasak.
"Pasti dong pak, aku sengaja memasak lebih untuk yang lainnya juga. Biar kalian bisa rasakan enaknya makan nasi goreng buatan ku hehehe." Naira tergelak membanggakan masakannya sendiri.
"Terima kasih Nona, maaf jadi merepotkan." Ucap pak koki.
"Ada juga aku yang sudah merepotkan kalian, hehehe. Maaf ya!" Seru Naira yang sudah membuat dapur menjadi kapal pecah dengan aksi masaknya tidak ada lagi kata dapur bersih yang ada dapur berantakan.
"Maaf Nona, ini mau sarapan di ruang makan atau mau di antar ke kamar?" Tanya pak Dedi.
"Biar di ruang makan aja, pak... kalo gitu aku balik kamar deh mau siap siap dulu!" Naira melangkah pergi meninggalkan dapur tanpa rasa bersalahnya.
Asisten koki hanya geleng geleng kepala melihat suasana dapur, saking aja Nona Muda, kalo bukan udah gw pites lo bocah.
Pak Dedi yang melihat sang asisten koki pun langsung berseru, "Kau tunggu apa lagi? Cepat bereskan dapurnya!"
Naira kembali ke kamarnya berniat untuk mandi dan bersiap.
"Abang penjaga gak sarapan dulu?" Tanya Naira saat akan membuka pintu kamarnya.
"Saya sudah sarapan Nona." Jawabnya dengan datar.
"Ooowh." Naira langsung masuk ke dalam kamar mencari cari ke beradaan Pram.
"Di kamar mandi tidak ada, di walk in closed juga tidak ada, ka Pram pergi ke mana ya? Balkon juga gak ada. Aku mandi kilat aja dulu deh."
Setelah beberapa menit Naira sudah rapih dengan seragam sekolahnya namun Pram belum kembali juga ke kamar.
"Apa kau lihat ka Pram pergi ke mana?" Tanya Naira pada penjaga yang ada di luar kamarnya.
"Tuan Muda, ada di ruang kerjanya Nona."
Naira langsung menuju ruang kerja Pram untuk mengajaknya sarapan setelah sebelumnya mengatakan terima kasih pada penjaga.
Naira membuka pintu ruang kerja Pram tanpa mengetuk sebelumnya, di lihatnya Pram tengah duduk di kursi kerjanya dengan memunggungi pintu tangannya yang menempelkan hape di telinganya.
"Setelah pria itu mengaku, kau habisi saja langsung! Jangan ada ampun untuk orang yang sudah dengan sengaja ingin mencelakai ku?" Ucap Pram pada seseorang di telpon.
Naira memicingkan matanya dan menajamkan indra pendengaran nya, apa yang akan ka Pram lakukan? Siapa yang akan di habisiii?
Pram mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari hati Naira, ia pun langsung memutar kursinya hingga dirinya dapat melihat Naira yang tengah berdiri tidak jauh dari meja kerjanya, sejak kapan Naira ada di ruang kerja ku? Apa dia mendengar semua pembicaraan ku di telpon?
Sepertinya aku masuk di waktu yang tidak tepat, "Ka Pram a- apa a- aku mengganggu mu?" Tanya Naira dengan sorot mata yang takut, ia melangkah mundur dengan perlahan.
Pram beranjak dari duduknya, melangkah maju saat melihat Naira yang melangkah mundur, apa dia takut pada ku?
Bugh.
......................
...💖 Bersambung 💖...
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉
__ADS_1