Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Terkurung dalam risort


__ADS_3

...💖💖💖...


"Kali ini tamat lah riwat mu, Nona Harumi!" seringai Takeshi saat melihat api membubul dari bawah jurang dan suara ledakan pun terdengar.


Duor duor.


Setelah beberapa saat hanya memantau dari dalam mobil dengan alat teropong, akhirnya Takeshi mengeluarkan kamera pengintai, memastikan jika buruan nya benar benar lenyap.



Alat pengintai yang dapat di andal kan, berupa capung yang sudah terpasang kamera. Mulai terbang ke bawah jurang, tempat di mana ke dua mobil polisi hangus terbakar si jago merah.


Dreeet dreeet dreeet.


Hape Takeshi yang ada di dalam saku celananya bergetar.


Takeshi mengerutkan keningnya, "Apa sudah ada hasilnya?" tanya Takeshi dengan datar.


[ "Sudah bos, wanita malam yang bisa di kencani pria berdompet tebal." ] ucap suara pria yang bicara lewat sambungan teleponnya.


"Aku menginginkan nya! Kau bisa mengurusnya kan?"


[ "Untuk bos, akan kami urus." ]


Takeshi langsung memutuskan sambungan teleponnya, dengan menyeringai


Zang yang sejak tadi duduk diam di dalam mobil, kini membuka pintu mobil dan melihat apa yang di lakukan Takeshi.


"Kenapa kau senyum senyum sendiri? Seperti orang gila yang kurang akal sehat!" ucap Zang dengan sinis.


"Bukan urusan mu!" seru Takeshi dengan datar.


Takeshi menyambungkan kembali, kamera yang terpasang pada capung pengintai yang ia kirim terbang ke bawah jurang.


"Bagai mana? Apa sudah aman ka?" tanya Zang.


"Sudah, kemungkinan mereka selamat sudah tidak ada, mobilnya sudah terlalap habis si jago merah." ucap Takeshi mengatakan apa yang ia lihat dari pantauannya.


"Kalo begitu kita tunggu apa lagi di sini? Apa kau tidak ingin kembali, ka? Mau terus meratapi nasib cinta mu yang kandas, dengan lenyap nya Nona Harumi?" ledek Zang.


"Cihhh kandas kepala mu? Aku tidak mencintai wanita penghianat seperti dia!" sungut Takeshi yang beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Takeshi masuk ke dalam mobil di ikuti Zang. Ke duanya kembali ke markas.


Pram kembali ke risort di malam hari, rumah tampak gelap gulita dengan lampu luar yang masih padam.


Pram turun dari dalam mobil di ikuti Toda yang ikut turun dari mobil. Toda mengikuti langkah kaki Pram, untuk masuk ke dalam risort yang megah itu.


"Untuk apa kau mengikuti ku, Toda?" tanya Pram dengan datar.


"Ya tentu saja ingin masuk ke dalam risort, aku lelah ka... setelah melawan 4 polisi itu. Biarkan lah aku istirahat sebentar ka, di dalam risort mu yang nyaman itu!" rengek Toda dengan wajah memelas.


"Cihhh risort ku bukan tempat mu untuk menumpang tidur!" ucap Pram dengan datar.


Pram mengaktifkan tombol pintu tersembunyi, dengan seketika pintu tersembunyi yang menghalangi pandangan, kini menghilang tenggelam ke celah dinding.


Pram membuka pintu rumah dengan kunci yang ia bawa.


Ceklek.


Pram membuka pintu rumah.


Brak.


Pram menutup pintu dengan cepat dan menguncinya dari dalam.


Bugh.


"Awwwhhhh anjiiir pelit banget si ka! Woy numpang tidur napa!" sungut Toda, dengan mengelusss keningnya yang terbentur daun pintu.


Cetek.


Baru saja Pram melangkah masuk, lampu ruang depan langsung menyala terang.


"Aku pikir kaka lupa, jika di risort ini masih ada penghuninya!" ucap Naira dengan ketus, berdiri di ujung anak tangga paling bawah, menatap Pram dengan tajam, dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dada.


Pram membuka sarung tangannya, menghempaskan nya begitu saja. Melangkah maju dengan sorot mata hangat pada Naira.


"Apa kau sedang marah pada ku? Atau kau sedang menyambut ke pulangan ku hem?" tanya Pram dengan santainya.


Naira memutar bola matanya malas, "Yang benar saja itu! Bukan pertanyaan yang aku ingin dengar dari mulut mu ka!" sungut Naira dengan bibir yang mengerucut.


Pram berkata dengan percaya diri nya, "Ayo lah sayang, sambut aku dengan pelukan hangat mu! Senyum manis mu! Aku merindu kan mu sayang, ku! Kau juga sangat merindukan aku bukan?" Pram merentangkan ke dua tangannya.

__ADS_1


Pasti Nai akan lari untuk memeluk ku! Menghujani ke dengan kecupan bibirnya yang memabukkan! Pram mengerlingkan matanya.


Namun sayangnya, apa yang ada di dalam batin Pram, tidak sejalan dengan apa yang akan Naira lakukan.


"Dasar rubahhh menyebalkan!" Naira membalikkan tubuhnya, melangkah menaiki anak tangga.


Pram menggaruk kepalanya dengan frustasi, apa? Naira mengabaikan ku? Ia mengacuhkan ku? Shitttt! Untung saja aku mengusir mentah mentah Toda dari risort ini! Jika tidak, mau di taruh di mana wajah ku yang di abaikan Naira! Pasti bocah itu akan meledek dan mentertawakan ku dengan puas, karena di abaikan oleh istri ku sendiri!


Bugh.


Naira menutup pintu kamar dengan membantingnya dengan cukup keras.


Membuat Pram berjingkat kaget, saat indra pendengaran nya mendengarnya.


"Dasar rubahhh, bukannya minta maaf karena sudah mengurung ku di rumah ini! Malah berkata seolah oleh kaka tidak melakukan ke salahan pada ku! Suami macam apa itu! Bisa pergi dengan tenang, meninggalkan istrinya di risort seorang diri! Mana pintu tidak bisa di buka dari dalam! Jadi lah aku bak terkurung dalam risort megah nan mewah ini seorang diri!"


Pram mengetok pintu kamarnya, karena mengira jika Naira mengunci pintu kamar dari dalam.


Tok tok tok tok.


"Sayang! Buka pintunya dong! Biarkan aku masuk! Aku minta maaf sayang!" seru Pram dengan manja.


Naira menatap ke arah pintu dengan kening yang mengkerut, "Dasar ka Pram aneh, buka tinggal buka juga! Siapa juga yang mengunci pintu."


"Sayang! Plise open the door. Kau tidak akan tega kan, membiarkan aku tidur di luar kamar... dengan di temani nyamuk yang akan menghisap darah ku?" ujar Pram berkata ngaur.


Naira berdecih dari dalam kamar, "Ciiihhh ka Pram, makin gila." Ka Pram makin koslet nih, abis ke pentok apa kali itu kepalanya! Sejak kapan aku mengunci pintu kamar?


Pram mengerutkan keningnya, menatap pintu yang ada di depan matanya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa? Jadi Naira tidak mengunci pintu ini? Dasar bodoh, lalu untuk apa aku merayunya, membujuknya untuk membuka pintu! Jika pintu nya saja tidak di kunci! Dasar kau bodoh Pram!" Pram merutuki ke bodohannya sendiri.


Ceklek.


Pram membuka pintu kamar, mendapati Naira yang tengah bermain hape di atas tempat tidur, dengan menyadar pada kepala ranjang.


Dengan canggung Pram melangkah masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi, hatinya begitu malu karena ke bodohannya.


Pram melirikkan ujung matanya saat melewati Naira, kenapa Nai tidak mengatakan apa apa pada ku? Harusnya ia akan bilang merindukan ku kan?


......................

__ADS_1


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


__ADS_2