Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Berkepala hitam


__ADS_3

...💖💖💖...


Pram memejamkan mata dan bibirnya menempel dengan bibir Naira, semakin ia benamkan bibirnya pada bibir ranum istri kecilnya.


Benerkan dugaan ku, maaf ya ka!


Cep.


Ceklek.


Jari telunjuk dan jempol ku mencapit bokongggg ka Pram dengan kencang, biar sekalian ku empos, enak kaga hahahhaha. Hati ku bersorak gembira.


Ka Pram melepassss pagutannyaa ia jejingkrakan dengan tangan kanan dan tangan kiri yang mengusappp usappp bokongnyaaa.


"Naira! Kau itu ---"


Ka Pram tidak melanjutkan kata katanya saat pintu di buka oleh Amrata dari luar.


Aku sih pura pura gak tau aja ka Pram kenapa sambil mata ku memperhatikan langit langit, "Aku baru tahu loh ternyata langit langit ruang rawat ku ini warna abu terang, kenapa gak di tambahin gambar bintang aja ka?" Tanya ku acuh pada ka Pram, sukurin hihihi pasti sakit banget itu emposan ku.


Amarta masuk ke dalam ruang rawat dengan mata aneh pada ka Pram, Tuan Pram kenapa ya? Apa ada yang salah dengan celananya? Atau ada yang aneh pada tubuhnya?


Pram memerintahkan Amarta untuk mengganti gips yang ada pada kaki kiri Naira.


"Cepat ganti gipsnya!" Ka Pram langsung masuk ke dalam kamar mandi yang memang tersedia di dalam ruang rawat ku ini.


"Upppss." Aku menahan tawa melihat ka Pram.


Amarta menyiapkan perlengkapan untuk gips pada kaki kiri ku dan siap mengganti gips ku dengan yang baru, "Ada apa dengan Tuan, Nona?"


"Habis di gigit semut rang rang dia ka!" Ku jawab dengan asal.


"Masak sih, rumah yang sebersih ini ada semut rang rang?" Ka Amarta melepas gips yang ada di kaki ku dengan sesekali menatap ku, bukan menatap tapi memperhatikan apa yang ada pada leher ku.


Amarta menarik sudut bibirnya ke atas, tidak ku sangka ternyata Tuan Pram nafsuuunya pada Nona Naira besar juga ya! Tanda kiss mark yang di tinggalkan Tuan Pram pada leher Nona saja jumlahnya tidak terhitung, belum lagi pada bagian tubuh Nona Naira lainnya, hehehe tidak bisa aku bayangkan.


"Ya ada lah ka, semut rang rang berkepala hitem, hahahaha!" Tawa ku pecah melihat ka Amarta yang masih berfikir jika ka Pram memang di gigit semut rang rang kepala hitam.

__ADS_1


Ka Amarta membola dengan kening yang mengkerut, "Apa? Semut rang rang berkepala hitam? Saya baru tahu Nona jika ada semut rang rang berkepala hitam, biasanya kan semut rang rang itu berwarna merah, semut hitam ya semut bakot!" Seru Amarta.


Mau ka Amarta mencari semut rang rang berkepala hitam sampe kepala botak juga gak bakal ketemu ka! Orang semutnya ada di depan kaka sendiri, aku ka yang jadi semut rang rang berkepala hitam hihihi.


🍂 Di dalam bathroom 🍂


Pram membasuh wajahnya dengan air hangat yang meluncur dari keran wastafel, menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


Sepertinya ada benarnya juga sekarang ini, julukan yang bocah nakal itu berikan pada ku, rubah tua, aku memang sudah tua, tapi gak tua tua amat lah ya! 25 tahun itu bisa di bilang hanya usia setengah matang lah ya! Rubah mesumm, setelah aku berhasil mengambil mahkotanya, berhasil menerobosss goaaa rapat yang selama ini dia jaga, memang benar, otak ku seakan tidak bisa jauh dari kata mesummm... aku selalu ingin menerkamnya, melahapnya, membawannya untuk mengarungi surga duniaaa, apa lagi saat ku pandangi bibirnya yang ranum, sangat menggoda.


Pram menarik nafasnya dalam dalam lalu membuangnya perlahan.


"Anak itu mencubit ku sakit sekali!" Gerutu Pram saat mengusappp usapp bagian bokongnyaaa yang di empos Naira.


Pram ke luar dari bathroom dan melihat gips di kaki Naira sudah berganti dengan yang baru.


Ku lihat wajah ka Pram yang basah dengan sisa sisa air yang menetes dari wajahnya, sakit ya ka? Hahaha pasti mau lagi itu, ngerasain enaknya emposan ku.


Sedangkan aku hanya duduk di atas ranjang rawat dengan ke dua kaki yang di luruskan, bagian kepala yang di tinggikan jadi lah saat ini aku bersandar.


Pram berdiri di samping Naira dan menbelai rambutnya, "Kapan kakinya akan pulih?" Tanya Pram dingin pada Amarta.


"Lama sekali!" Pram mendengus kesal.


"Namanya juga patah, ya pasti lama lah!" Gumam ku.


"Enyah kau dari sini!" Pram mengusir Amarta dari ruang rawat lalu ia mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang rawat Naira.


Amarta membungkukkan badannya, "Kalo begitu, saya permisi, Tuan!" Amarta ke luar dari ruang rawat.


"Apa ada yang kau inginkan?" Tanya ka Pram yang menatap ku dengan intens.


"Apa ya?" Aku berfikir sejenak.


Tulalit tulalit tulalit tulalit.


🎶 🎶 🎶 🎶

__ADS_1


Dering ponsel ka Pram menjerit jerit dari dalam saku celananya.


Pram mengeluarkan hapenya dari dalam saku celananya, melihat sekilas siapa yang melakukan panggilan.


Ku tatap ka Pram dengan mata yang tajam, hemmm siapa yang telpon ka Pram, udah tau ini hari minggu... libur woy!


Ka Pram mengabaikan hapenya yang menjerit minta di jawab panggilan telponnya.


"Ayo katakan apa yang kau inginkan?" Ka Pram mengulang lagi pertanyannya.


Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya pada ka Pram, penasaran juga dan entah kenapa hati ku jadi kepo ingin tahu siapa yang menelponnya.


"Kenapa gak di angkat ka? Dari salah satu wanita simpanan kaka ya?" Tanpa basa basi, aku langsung to the poin menebaknya dan mengatakannya dengan ketus dan tangan melipat di depan dada.


Ka Pram mengerutkan keningnya, dari mana bocah ini bisa tahu?


Ka Pram mencondongkan tubuhnya ke arah ku, "Apa itu penting untuk mu?"


Ku tatap malas wajah ka Pram, ini ka Pram makin kesiniin makin nyeselin dah, jelas penting lah buat gw tahu, gw kan bini sah lu ka! Biar kata secara agama sih! Tapi tetep aja, gw ini bini lu.. Yang udah lu ambil mahkota gw ka. Bibir ku mengerucut.


Bocah nakal ini menggoda ku dengan bibirnya! "Kenapa diam? Katakan saja dengan jujur, apa penting untuk mu mengetahui siapa yang menghubungi ku?" Ayo katakan penting Nai!


Penting sih, tapi kalo gw bilang penting yang ada ka Pram mikir gw demen lagi sama ka Pram, kan gak etis... gw itu pengennya ka Pram yang bilang cinta, cinta ku Naira, sayang ku Naira, heeem selama ini halu ku semata.


Pram membatin, kali ini aku harus lebih pintar darinya, Ka Pram menarik dagu ku dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam ke dua tangan ku.


Sorot mata Pram mendamba saat melihat bibir ranum Naira, membayangkan betapa manisnya bibirr ranum Naira yang mengalahkan manisnya gula.


Ku mundurkan kepala ku, aku tahu nih arah ka Pram mau kemana kalo udah kaya gini!


Pram menempelkan keningnya pada kening Naira, di saat akan melabuhkan bibirnya pada bibir ranum Naira.


Tok tok tok tok


Bersambung....


...💖💖💖💖💖...

__ADS_1


Salam manis author gabut


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁,


__ADS_2