Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Pake daster


__ADS_3

...💖💖💖...


"U- untuk apa? A- aku tidak butuh waktu berdua dengan mu! E- enak saja!" Atmaja menjawabnya dengan gugup.


Pram menyeringai, rasanya aku perlu menggerakkannya.


Pram menghentikan laju mobilnya saat sudah memasuki pekarangan rumah orang tua Naira.


"Apa kau tidak ingin masuk dulu, sayang?" tanya Heni paa Naira dengan mengelusss punggung putrinya.


Naira menatap Pram, "Bagai mana ka? Apa kaka ingin masuk dulu sebentar?" tanya Naira.


"Sudah lah mah, jangan paksa putri kita ini, dia pasti ingin cepat kembali ke rumah barunya yang mewah, biarkan saja mereka pergi! Anak kita sudah lupa dengan rumah, tempat ia dulu di besarkan!" gerutu Atmaja dengan ketus, sambil terus berjalan memasuki rumahnya.


Pram mengerutkan keningnya, ada baiknya juga aku menginjakkan kaki di rumah tempat istri ku di besarkan. Aku jadi penasaran bagai mana dengan isi kamarnya.


"Aku tidak ke beratan jika kita mampir sejenak di rumah orang tua mu, sayang!" ucap Pram dengan tatapan teduh pada Naira.


Naira melingkarkan tangannya pada perut Pram yang sispeck itu, "Ini jawaban yang aku tunggu dari mu, ka!" seru Naira dengan mata yang berbinar.


Sementara Atmaja langsung mendaratkan bobot tubuhnya di sofa, dengan punggung menyandar pada sandaran sofa, ke dua tangan terbentang.


Atmaja bersungut, menatap langit langit rumahnya, "Aku yakin putri ku pasti akan menuruti apa kata pria tua itu, langsung pergi meninggal kan rumah ini! Bahkan Naira tidak masuk... tidak pamit pada ku sebelum kembali ke rumah mereka! Harta dan cinta sudah menggelap kan ke dua mata putri ku!"

__ADS_1


Heni dan Naira yang sudah berada di ambang pintu, hanya bisa geleng geleng kepala melihat Atmaja menggerutu.


"Jangan menilai buruk seseorang dari luarnya napa, pah! Buktinya sekarang aku ada di rumah ini! Tempat aku di besarkan! Tempat yang aku sangat rindukan." sungut Naira, yang melangkah masuk ke dalam rumah dengan Heni.


Sementara Dito yang mengekor ke dua wanita yang beda generasi, namun sangat di sayanginya, sesekali menoleh ke belakang, ada rasa takut jika Pram mendengar apa yang di ucapkan Atmaja.


"Au nih papah, untung aja ka Pram harus terima telpon dulu... coba kalo gak, aiiiihss bisa kacau urusannya!" ujar Dito.


Atmaja langsung mengerutkan keningnya, menatap tidak percaya, jika Naira ternyata masuk ke dalam rumah itu, tidak melupakan tempat ia di besarkan.


"Sudah pah, lebih baik berdamai dengan ke adaan!" Heni mendarat kan bobot tubuhnya di samping suaminya. Mengelusss lengan suaminya.


"Berdamai bagai mana, mah? Mama tidak tahu saja, bagai mana dulu Pramana Sudiro itu memperlakukan papa...saat papa di culik mereka! Mereka tidak memperlakukan papa dengan baik. Lalu bagai mana bisa papa percaya begitu saja? Dulu papa tidak bisa bersikap, karena papa takut Pramana menyakiti Naira, tapi ternyata apa? Pramana malah menikahkan Naira secara sirih! Hanya untuk melepaskan papa! Naira yang harus berkorban, menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan pria kejammm itu!"


Naira mendaratkan bobot tubuhnya di sofa, sementara Dito langsung masuk ke dapur meminta pada art untuk membuatkan minuman.


"Kamu itu Nai, pria itu pasti sudah mengancammm mu kan, untuk mengatakan itu semua di depan mama dan papa?" tuduh Atmaja seenak jidatnya.


Heni mendarat kan telapak tangan nya pada kening Atmaja, saking gemasnya mendengar mulut pedas sang suami, yang terus mengeluar kan kata kata yang menjelek kan Pramana Sudiro.


Plok.


"Awwwhhh, mamah! Apa apaan sih?" sungut Atmaja.

__ADS_1


"Papa itu pria, tapi ko mulutnya sekarang kaya cewek ya? Bawelnya melebihi ibu ibu yang sedang bergosip? Pake daster aja pah mendingan, gantiin mama gitu!" kelakar Heni.


"Hahahha, mama kalo ngomong suka bener, hihihi! Maaf ya pah! Gak maksud Nai buat ngeledekin papa ko! Tapi yang mama omongin ada benernya juga gitu!" Naira menutup mulutnya, menahan tawa sembari membayangkan Atmaja yang mengenakan daster.


"Wah sepertinya ada yang saya lewatkan, apa itu hem? Sampai membuat istri ku bisa tertawa seperti ini?" tanya Pram, yang melangkah masuk ke dalam rumah orang tua Naira.


"Ah ini emmmm aku lagi bayangin papa pake daster ka! Lucu kan!" seru Naira yang meminta Pram untuk duduk di sebelahnya, dengan menepukkan tangannya pada sofa yang ada di sebelahnya.


Pram menyeringai, menatap bergantian perut Naira yang masih datar, dengan Atmaja yang menatap Pram dengan malas.


Sepertinya aku bisa mengerjainya, anggap saja ini suatu hiburan untuk ku, setelah seharian pria tua ini membuat ku geram.


Pram mendaratkan bobot tubuhnya di samping Naira, menyandarkan kepala Naira pada dadanya, tangannya memgelus kepala Naira.


"Ehem ehem, apa papa mertua akan tega... hanya membiarkan putri mu ini hanya bisa membayangkan, papa mengena kan daster?" Pram mengelusss perut Naira.


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊


__ADS_2