Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Makin keren


__ADS_3

...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...


"Cari dan bawa orang itu, hidup atau pun matiii!" Titah Pram yang tidak bisa lagi terbantahkan.


Bugh.


Momo yang berjingkat kaget, akhirnya malah membuat pintu ruang kerja Pram terbuka dengan ulahnya hingga tidak bisa lagi menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.


Mata Pram dan Dega teralihkan ke arah pintu yang terbuka, dengan sosok Momo yang bak pencuriii yang sedang tertangkap tangan.


Momo berkata dengan canggung, "Hehehe maaf Pram, pintu ruang kerja mu sepertinya butuh di perbaiki." Ujar Momo dengan membenarkan posisi berdirinya.


"Ihsss dasarrr wanita pencari alasan!" Dengan tangannya yang membawa berkas, Dev melewati Momo begitu saja dengan wajah nya yang tidak bersahabat.


Momo mengepalkan ke dua tangan nya dengan gemas, dengan mata nya yang mengikuti ke mana Dev melangkah.


"Ihhsss sialannn kau, Dev!" Gerutu Momo, gara gara kau Dev. Aku jadi ke tahuan kan!


"Mau apa kau ke sini?" Tanya Pram dengan tegas menatap tajam Momo.


Momo berjalan dan mendudukan dirinya di sofa yang terdapat di ruang kerja Pram. Ia meletakkan tasnya yang branded di samping sofa yang ia duduki.


"Apa ada larangan untuk ku mendatangi ruang kerja mu, Pram?" Tanya Momo dengan angkuhnya.


Dev menyerahkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Pram, dengan meletakkan nya di depan meja kerja Pram.


"Berkas yang harus anda tanda tangani, Tuan." Ucap Dev.


Pram memberikan perintah pada Dega, untuk meninggalkan ruang kerjanya. Dengan gerakan kepalanya.


Dega pun beranjak dan menunduk hormat, sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang kerja Pram.


"Kau tunggu lah di sini, Dev!" Seru Pram yang justru menyuruh Dev untuk duduk di kursi yang terdapat di depannya, yang hanya terhalang meja.


Sesuai dengan perintah Pram, Dev pun menunggu Pram selesai dengan berkas yang ada di hadapannya kini.


Pram meraih berkas dan membaca nya dengan secepat kilat, lalu memberikannya tanda tangan nya


"Apa kau masih lama, Pram?" Tanya Momo yang memperhatikan wajah Pram yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Seperti yang sedang kau lihat. Pekerjaan ku tidak akan ada habisnya." Ujar Pram dingin tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang ada di depan mejanya.


"Katakan saja Nona, jika ada yang ingin di sampaikan. Toh saya juga tidak akan membiarkan Nona hanya berdua dengan Tuan Pram." Ucap Dev dengan sinis, hampir saja aku lupa dengan pesan dari Nona Muda, jangan biarkan Tuan Pram hanya berdua dengan seorang wanita.


Pram hanya tersenyum tipis pada Dev, kerja bagus Dev.

__ADS_1


"Ihs sialannn kau Dev! Dev, aku haus. Apa tidak bisa kau ambilkan aku minum?" Pinta Momo dengan suaranya yang manja.


"Kau kan punya tangan dan punya kaki, kenapa tidak kau gunakan saja Nona?" Ledek Dev yang enggan meninggalkan ruang kerja Pram.


Momo beranjak dari duduknya, mengeluarkan undangan dari dalam tasnya dan melemparkan nya di atas meja kerja Pram.


"Aku ingin, kau temani aku untuk menghadiri acara tersebut." Ujar Momo dengan melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Pram.


Dev mengerutkan keningnya, "Yakin Tuan, akan menghadiri acara tersebut untuk mendampingi Nona Momo?" Tanya Dev dengan tatapan matanya yang meremehkan.


"Kau lebih tau jawabannya, Dev!" Pram mendorong berkas yang sudah selesai ia tanda tangani ke arah Dev.


"Kau benar benar sudah bucin kan Tuan, pada Nona!" Seru Dev dengan meraih berkas yang ada di atas meja, beranjak dan membungkuk hormat pada Pram.


"Tidak usah sok tau kau, Dev!" Gerutu Pram.


Dev menggeleng gelengkan kepalanya meninggalkan ruang kerja Pram.


Pram menyibukkan dirinya kembali pada layar laptopnya, memeriksa kan laporan yang di kirimkan oleh orang orang ke percayaan nya dari beberapa hotel yang ia miliki.


Hingga tiba waktunya ia untuk menjemput Naira di sekolah.


๐Ÿ‚ Sekolah Naira๐Ÿ‚


Naira tampak memikirkan bagai mana nasib malang yang menimpa temannya itu.


"Lo yakin, Nai? Mau jenguk Ratna di rumah sakit?" Tanya Serli.


Naira berujar dengan memperhati kan lapangan yang mereka lewati, "Harus lah, biar gimana pun dia itu kan---"


"Iya tau, teman kita... teman satu kelas. Itu mulu jawaban lo, basi tau gak, ampe udah di luar kepala gw itu ucapan lo, Nai!" Ledek Novi.


"Ahahah lo, Nov. Sensi amat kalo udah berurusan sama yang namanya Ratna?" Ledek Serli.


"Gedek gw, beneran dah. Gak inget lo, gegara itu anak. Kita udah berapa kali kena hukum?" Ujar Novi yang masih menyimpan kesal pada ulah Ratna.


"Sejak kapan di sekolah kita da anak baru, gays?" Tanya Naira pada ke dua sahabatnya.


"Mana sih?" Serli melihat ke arah pandangan Naira.


Novi mengerutkan keningnya, "Mata lo woy, di jaga!" Ucap Novi dengan tangannya yang menutupi wajah ke dua sahabatnya itu.


"Kampretttt lo, noviiiii!" Seru Serli menyingkirkan tangan Novi dari wajahnya.


Begitu pun dengan Naira, "Tangan lo abis megang apa sih? Bau tau gak!" Ucap Naira.

__ADS_1


"Mau tau aja apa mau tau banget lo?" Ledek Novi dengan melangkah kan kakinya lebih dulu dari ke dua nya.


"Woy, jangan lari lo!" Oceh Serli dengan mengejar Novi di ikuti Naira.


Sampai di gerbang Novi menghentikan langkah nya saat mendapati Pram dengan kaca mata hitam yang berdiri di depan pintu mobil, dengan ke dua tangannya yang menyilang di depan dadanya.


"Gila Nai, makin keren aja sih do'i lo!" Ucap Novi.


"Maksud lo?" Tanya Naira.


Novi menunjuk ke arah di mana Pram berada.


"Ka Pram? Ko pake ke luar dari mobil segala sih? Seneng banget jadi pusat perhatian orang ih!" Naira menghentakkan kakinya dan melangkah ke arah Pram di ikuti Serli dan Novi.


Pram melambaikan tangannya pada Naira, seperti nya aku berhasil membuatnya ngambek lagi.


Naira mencium punggung tangan kanan Pram lalu menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Antar kami ke rumah sakit, sekarang juga!" Ucap Naira dengan tegas.


"Siapa yang sakit? Kau sakit? Apanya yang sakit?" Pram memutar tubuh Naira, memeriksa kan tubh Naira, takut ada yang luka.


"Ihs bukan aku yang sakit ka." Naira mengerucutkan bibirnya.


Serli dan Novi hanya terkekeh melihat tingkah ke duanya.


"Aiihhs sweeetnya kalian ini." Ledek Serli.


"Paman Haikal gak ikut, pak Pram lagi ya?" Tanya Novi yang tidak mendapati Haikal.


Pram mengabaikan Serli dan Novi, matanya hanya tertuju pada Naira seorang.


"Jika bukan diri mu yang sakit, untuk apa kita ke rumah sakit? Baru kemarin kan ku temani kau menjenguk Ayu!" Ujar Pram dengan membuka kan pintu mobil untuk Naira.


Serli dan Novi pun masuk ke dalam mobil tanpa menunggu di perintah.


"Ratna yang sakit, ka." Ujar Naira yang sudah duduk di samping kemudi.


Pram membelalakkan matanya saat dirinya sudah duduk di belakang kemudi, "Apa? Kau ingin menjenguknya?"


...๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ...


......................


...๐Ÿ’– Bersambung ๐Ÿ’–...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! ๐Ÿ˜Š


__ADS_2