
...💖💖💖...
Pram melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Dengan Naira yang tampak diam sejak ke luar dari restoran.
"Pak Pram, ngomong ngomong. Sekarang ini paman Haikal lagi di mana ya? Ko dari kemarin saya gak liet ya!" Tanya Novi dengan melihat Pram lewat kaca spion.
"Saya tidak tahu." Pram menoleh ke arah Naira, ada apa dengan anak ini. Sejak tadi diam saja, apa ada yang sakit pada dirinya.
"Ihs lo nanya nya sama pak Pram, kan lo pacarnya masa gak tau pacar lo ke mana." Ledek Serli.
"Kalo gw tau gw gak bakal nanya pak Pram. Kan secara pak Pram itu bosnya, kali aja gitu paman Haikal lagi ngerjain tugas dari pak Pram." Terang Novi.
Naira melirikkan ujung matanya pada Pram dengan bibirnya yang mengerucut, dasarrr rubahhh gak peka. Enak ya udah di towelll towelll ama itu cewek montokkk, awas lo ka, tidur di luar baru tau rasa. Gw kunciin pintu kamar nanti malam pokonya.
Pram berkata dengan lembut, "Itu bukan ingin ku, sayang!" Tangan Pram terulur mengelusss kepala Naira.
Serli mengerutkan keningnya, perasaan yang ngajakin ngomong pak Pram itu Novi, kenapa jadi pak ngoceh gak jelas ke Nai?
Sedangkan Novi yang lagi mode eror malah menimpali ocehan Pram, "Astaga pak, gw yang nanya ke mana... ngapa jadi jawabannya ke mana ya? Pak Pram gak nyambung nih!"
Plak.
Serli menggeprak lengan Novi, "Lo ege, yang kaga nyambung." Serli menaikan suaranya 1 oktaf.
"Udah ih, berisik kalian!" Omel Naira.
Serli dan Novi saling pandang.
Novi bertanya pada Serli dengan gerakan bibirnya yang tanpa suara, 'Kenapa itu anak? Lagi sensiii ya?'
Serli mengerdikkan bahunya, 'Kesel kali sama yang tadi ke jadian di resto! Tau sendiri Nai lagi posesif bener ama pak Pram!'
Novi mengangguk anggukkan kepalanya mengerti, "Oooooooh."
Setelah mengantar ke duanya, kini hanya tinggal Naira dan Pram di dalam mobil.
"Sudah jangan diami aku seperti itu, Nai!" Pram memecah ke heningan.
"Suka suka aku! Masalah buat situ!" Naira mengalihka pandangan nya pada luar jendela kaca mobil.
"Naira putri! Apa yang kau inginkan! Bisa kan kau katakan pada ku?"
__ADS_1
Naira tampak berfikir, emmm apa ya. Ah tar cuma ngerjain doang, di kabulinnya mah kaga!
"Tergantung dari ke inginan mu, kalo aku bisa... pasti akan aku kabulkan, apa pun itu!" Pram meyakinkan Naira.
Naira menguji Pram, dengan terus bicara dalam hatinya.
Emmm makan es krim kayanya enak nih, es krim yang ada di pinggir jalan.
"Hanya itu saja?" Tanya Pram dengan menyeringai.
Naira menatap Pram, wajah lelah yang sejak pulang sekolah Naira, selalu menemaninya, "Emang ka Pram tahu, aku ingin apa? Aku ingin jalan jalan!" Kini Naira yang menyeringai.
Pram menepikan mobilnya di bahu jalan yang di depan nya terdapat kedei es krim.
"Aku rasa bukan itu yang menjadi ke inginan mu!" Pram ke luar dari dalam mobil, membukakan pintu mobil untuk Naira.
Dengan angkuhnya Naira bertanya pada Pram, "Emang apa yang menjadi ke inginan ku?"
Pram membukakan sabuk pengamannn yang membelit pinggang Naira, tangan Pram meraih jaket yang terdapat di sandaran kursi dan mengenakan nya pada tubuh Naira.
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan." Tangan Pram menggenggammm jemari Naira dan menariknya ke luar dari dalam mobil.
"Lebay deh, ka!" Dengan malas Naira mengikuti langkah Pram yang belum menyadari jika ada kedei es krim.
Pram menggendong tubuh Naira dengan ke dua tangannya. Tangan Naira melingkar di leher Pram.
"Gak malu gendong anak sekolah? Gak takut di kata jalan sama anaknya?" Ledel Naira.
"Aku tidak malu, awas saja jika kau yang malu jalan dengan ku! Akan ku buat kau tidak bisa jalan dalam waktu 3 hari!" Ancammm Pram dengan datar.
Semua mata yang melihatnya menatap iri, ada pula yang menatap jengah pada Naira dan Pram.
Setelah mengantri es krim, kini ke duanya duduk di kursi yang sudah di sediakan kedei es krim. Pram dan Naira memilih makan es krim mereka di bagian luar kedei, dengan pemandangan jalan yang di lalu mobil motor yang lalu lalang karena tidak jauh dari lokasi jalan raya.
"Apa kau senang sekarang?" Tanya Pram yang hanya memperhatikan Naira dengan menyuapkan es krim miliknya ke dalam mulut Naira.
Belum seneng lah, lagi sih coba ka Pram tadi ambil sikap, jangan mau gitu aja di sentuh ama cewek gatel. Udah tau lagi sama gw, huh jangan jangan kalo ga lagi sama gw.... kelakuan ka Pram lebih minus dari yang tadi!
Pram menjawil hidung Naira, "Jangan di simpan dalam hati! Katakan apa yang ingin kau katakan hem! Setelah menikah dengan mu, kelakuan ku tidak seburuk dengan apa yang kau fikirkan"
"Aku dari tadi tidak mengatakan apa apa ka!" Ucap Naira acuh.
__ADS_1
"Tapi hati mu yang bicara!" Jari telunjuk kanan Pram menyentuh hati Naira.
Naira menyeringai dengan tatapan matanya yang berbinar, wajahnya ia condongkon mendekat ke wajah Pram.
"Tuh kan bener dugaan ku, ka Pram ini bisa membaca pikiran ku, atau pikiran orang lain juga?" Naira memainkan alisnya naik turun, menuntut Pram untuk mengatakan nya, ayo katakan, kalo ingin aku hamil wahahaah, masa iya cuma berkata gitu aku bisa langsung dung.
Pram memelankan suaranya, "Benar begitu? Apa jika aku mengatakannya, kau tidak akan ke beratan jika diri mu mengandung? Kita lakukan program hamil?"
Naira mengatakannya dengan penuh penekanan, "Gak usah program hamil ka, kita jalanin aja prosesnya."
"Ayo cepat habiskan es krim mu!" Ucap Pram dengan bersemangat.
"Ihs dasarrr, rubahhh mesummm!" Ledek Naira.
☘️ Di dalam perjalanan menuju kediaman Pramana. ☘️
Setelah kepala Naira dingin dengan es krim, kini Naira dan Pram berbicara dari hati ke hati.
"Sejak kapan ka, bisa membaca isi hati orang lain?" Tanya Naira ingin tahu.
"Entah lah, aku sendiri tidak ingat sejak kapan aku bisa melakukan nya." Prom fokus dengan kemudi, matanya sesekali melihat wajah Naira yang tidak lagi kecut saat di pandang.
"Apa itu menjadi salah satu ke untungan untuk kaka, hingga bisa membuat kaka sesukses ini?"
"Orang sukses itu tidak mudah Nai, banyak yang sudah aku lalu. Dunia bisnis yang keras, penuh ke licikan dan ke curangan, bahkan untuk mengalami kerugian, tapi beruntungnya... saat aku tahu partner kerja sama ku ingin berbuat licik, bahkan jahat sekali pun, aku bisa bergerak lebih dulu untuk menghalaunya."
Naira mengingat luka yang ada di dada Pram yang bidang dan punggung Pram, serta beberapa luka di lengan.
"Bagai mana dengan luka di tubuh kaka itu, apa yang membuat ka Pram mendapat luka separah itu?"
"Seperti yang aku katakan tadi, jika lawan ku mengutarakan isi hati nya, aku bisa menghalau mereka. Tapi jika mereka bergerak tanpa mengutarakan isi hatinya, celaka pun tidak dapat aku hindari Nai."
"Apa sekarang ka Pram merasa partner bisnis kaka itu semuanya saat ini baik? Tulus? Tidak ada rencana jahat dari mereka?"
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊