Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Nona, pengaruh mu sangat besar


__ADS_3

...💖💖💖...


"Aku pikir apa!" Seru Pram dengan santainya dengan tangannya yang kini menyapu air mata Naira di pipi chabinya.


Bugh bugh bugh.


"Kaka curang!"


Naira memukulll mukulll dada bidang Pram dengan mendengus kesal.


Bugh.


Pram menjatuhkan tubuh Naira dan mengukungnya di bawah tubuhnya yang kekar.


"Mau apa lagi? Mau membuat bawah ku berkeduttt karena ingin merasakan milik kaka yang perkasaaa itu?" Naira membekappp mulutnya sendiri karena sudah ke lepasan bicara, begooo kan gw, otak gw malah jadi trafeling jauh kemana mana.


Pram menyeringai dengan menempelkan kening dan hidung nya pada kening dan hidung mancung Naira.


"Jadi kau mengakui milik ku yang perkasaaa? Membuat goa mu berkeduttt ingin merasakannya kembali?" Ledek Pram dengan senyumnya yang menggoda wajah Naira yang kini merona.


"A- aku ---"


Tok tok tok tok.


Pintu kamar di ketuk dari luar.


"Maaf Tuan Muda, makan malam sudah di siapkan!" Seruan seorang pria terdengar setelahnya.


"Hufh." Naira membuang nafas lega.


Pram beranjak dari atas tubuh Naira dan membantu Naira berdiri dengan ke dua tangannya.


Ke dua mata Naira menatap map biru yang ada di tepian kasur.


"Nanti kita urus map biru itu, sekarang kita makan dulu. Isi perut mu dengan makanan yang bergizi!" Pram merangkul bahu Naira dan membawanya ke luar dari kamar.


"Ka Pram jahat sekali pada ku!" Gerutu Naira yang kini hidungnya merah karena sudah menangis.


"Aku tidak jahat, kau saja yang terlalu di bawa perasaan."


Ceklek.


Pram membuka hendle pintu kamar dengan tangannya, nampak seorang pengawal berdiri di depan kamar menunggu Tuannya ke luar.


"Aku sudah mendengarnya, pergi lah kau dari hadapan ku! Urus pekerjaan mu yang lain!"


Pengawal itu pergi setelah mendapat perintah dari Tuan-nya. Sedangkan Pram dan Naira berjalan ke arah di mana lift berada.


"Apa ka Pram selama ini tidak pernah menggunakan tangga? Selalu menggunakan lift, si kotak besi?" Tanya Naira saat dirinya dan Pram kini sudah berada di dalam kotak besi alias lift.


"Tidak juga, naik lift hanya lebih efisien dalam menghemat waktu." Ujar Pram dengan suaranya yang datar namun lembut di telinga Naira.


"Owhhh." Naira beroh ria.


Ting.

__ADS_1


Pintu lift terbuka.


Nampak pak Dedi yang selalu sedia berjaga di depan lift seakan tahu Tuan dan Nona Muda-nya akan turun dengan menggunakan lift.


Naira lebih dulu mrnyapa pak Dedi dengan senyum yang mengembang, "Malam pak!"


"Eh iya, malam Nona! Selamat malam Tuan." Ujar pak Dedi dengan membungkuk hormat dan membiarkan Tuan dan Nona Muda-nya ke luar dari lift, mereka berjalan ke arah meja makan dengan di ikuti oleh pak Dedi yang berjalan di belakangnya.


Pak Dedi membatin dengan perasaan yang lega, akhirnya Nona kembali seperti biasanya, Nona Muda yang selalu ramah dan riang.


"Siapa dulu, aku suaminya. Yang akan membuat istri ku selalu merasakan bahagia." Ujar Pram tanpa menoleh ke arah Dedi atau pun menyerukan nama kepala pelayannya itu.


Naira mengerutkan keningnya, mendongak ke arah Pram, "Ka Pram sedang bicara dengan siapa? Aku dari tadi diam loh!" Ucap Naira dengan tatapan yang bingung.


Pram mengabaikan pertanyaan Naira dan berseru pada pak Dedi saat kepala pelayan itu akan menarikkk satu kursi untuk di duduki Naira.


"Biar saya saja pak!" Ucao Pram dengan suaranya yang tegas.


Ting dong, ting dong, ting dong.


Pram menarik kursi untuk di duduki Naira, dan Pram mendudukan dirinya di kursi lain, tempat di mana biasa ia duduki.


Pak Dedi si kepala pelayan langsung berjalan meninggalkan ke dua Tuan-nya di meja makan.


Tanpa di perintah atau di beri arahan, pak Dedi langsung menuju pintu untuk melihat siapa orang yang datang bertamu malam malam begini.


Pak Dedi melihat di balik lubang kecil yang terhubung dengan suasana di luar, nampak seorang wanita cantik tengah berdiri di depan pintu utama.


Pak Dedi meminta persetujuan lebih dulu dari Pram, untuk memperbolehkan atau tidak ia membukakan pintu untuk tamunya ini.


Pram berkata dengan dingin, menyiratkan ke marahan dari sorot matanya, mau apa lagi wanita itu datang ke sini!


"Tidak perlu, usir saja!" Seru Pram yang tidak mau berhubungan lagi dengan dokter wanita itu.


Kening Naira mengkerut, "Kalo ada tamu udah jauh jauh datang, ya jangan di usur gitu aja lah ka. Kali aja ada urusan yang mendesak jadi dateng deh ke sini." Ujar Naira dengan tangannya yang asik menyuap kan makanan ke dalam mulutnya.


Pram menyeringai, benar juga... dengan aku membiarkan Embun masuk dan bergabung makan malam bersama, aku dapat melihat sejauh mana perasaan Naira pada ku, sejauh mana ia bisa mengendalikan keadaan. Boleh juga idenya itu.


"Suruh masuk tamunya, biar kan ia ikut bergabung untuk makan malam bersama dengan kami." Ujar Pram dengan senyum yang sedikit.


Pak Dedi mengerut kan keningnya, Tuan langsung merubah ke putusannya saat Nona berkata, aiiih Nona, pengaruh mu sangat besar untuk Tuan Pram.


"Tunggu apa lagi, Dedi!" Seru Pram dengan tatapan yang tajam mengarah pada Dedi.


"I- iya Tuan, saya akan mempersilahkan tamunya masuk dan mengantarkannya segera ke sini." Dengan langkah kaki yang tergesa gesa pak Dedi meninggalkan meja makan.


Naira mengarahkan sendok yang berisi makanannya ke depan mulut Pram.


Tanpa bertanya Pram langsung melahapnya dengan mulutnya, "Enak!" Serunya yang membuat Naira tersenyum.


"Memang tamunya siapa ka?" Tanya Naira dengan melihat sepintas pada Pram dan tangannya sibuk kembali pada piring yang ada di hadapannya, ia memakannya dengan lahap.


"Nanti kau juga akan tahu!" Seru Pram dengan lembut, tangannya terulur menyapu sebutir nasi yang ada di sudut bibir Naira dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Ihs kaka jorokkk, kenapa di makan sih? Kenapa gak di buang?" Gerutu Naira dengan menatap sebal pada Pram.

__ADS_1


"Tidak ada kata jorokkk jika itu menyangkut diri mu!" Pram menarik sudut bibirnya ke atas dan gantian menyuapkan makanan ke dalam mulut Naira.


Pram menyeringai saat telinganya mendengar batin Embun yang sedang berjalan menuju meja makan dengan di antar pak Dedi.


Aku yakin, ucapan Pram di kantor itu hanya lah gertakan, buktinya ia masih mau menerima ku di kediamannya ini.


"Mari Nona, silahkan." Ujar pak Dedi yang berada di ujung pintu ruang makan membiarkan tamu Tuan-nya masuk ke dalam ruang makan.


Dengan suara yang riang dokter Embun berseru, "Pram, aku ----"


Dokter Embun membola dan tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Pram tengah makan dari suapan tangan Naira, istri kecil Pram.


"Masuk lah dan bergabung! Kau pasti belum makan kan!" Pram berkata dengan suara yang datar tanpa ekspresi di wajahnya.


Naira berkata dengan riang menatap Pram dan dokter Embun yang mematung di tempatnya, "Wah ka Pram tau ya kalo dokter belum makan malam?"


"Tahu dong sayang, kau tidak lihat dia membawakan kita makanan juga!" Pram menatap tajam pada paper bag yang di bawa dokter Embun di tangannya.


Pak Dedi menarik kursi untuk di duduki dokter Embun.


"Terima kasih, pak!" Seru dokter Embun dengan tersenyum getir, aku tidak boleh kalah dengan bocah ini, bocah ini hanya istri pengganti, aku yang akan menjadi istri sesungguhnya untuk Pram.


Pram menatap malas pada dokter Embun, hanya bualan mu! Sampai kapan pun kau hanya lah orang asing, hanya sebatas masa lalu!


"Ayo dokter, silahkan di makan! Jangan hanya di lihat saja makanannya!" Seru Naira dengan senyum yang tulus.


"Oh iya, terima kasih karena kalian sudah mau mengajak ku bergabung untuk makan malam bersama dengan kalian." Dokter Embun berkata dengan nada merendah.


"Jangan sungkan!" Seru Naira.


Dokter Embun makan dengan anggun sedangkan Naira makan ala dirinya yang bukan wanita pandai dalam menjaga sikap saat di meja makan.


"Apa kau mau ini, Pram?" Dengan lembut dokter Embun menawarkan makanan lain pada Pram.


"Tidak dokter, ka Pram tidak memakan itu." Ujar Naira mencegah dokter Embun yang akan menyendokkan udang pada piring Pram.


Kening dokter Embun mengkerut, "Kenapa? Pram suka dengan ini!" Seru Embun yang menahan marahnya, kurang ajarrr bocah ini.


"Ka Pram tidak memakan itu! Ka Pram hanya makan apa yang aku makan!" Naira menyungging kan senyumnya yang lebar pada dokter Embun.


"Tidak masuk akal!" Gerutu dokter Embun.


Dokter Embun meraih segelas air putih dan meminumnya dengan tatapan mata yang tajam pada Naira, dasarrr bocah sialan.


Pram menajamkan matanya menatap dokter Embun, apa lagi yang akan wanita ini lakukan?


......................


...💖 Bersambung 💖...


...💖💖💖💖💖...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😉😉

__ADS_1


__ADS_2