
...πππ...
"Dan sekarang kamu ingin berhubungan dengan bocah itu? Di mana otak mu, Aji?"
Prang, brak.
Widia menghempaskan apa saja yang ada di meja kerja suaminya.
Mata Widia menatap tajam pada benda pipih yang masih berada dalam genggaman tangan Aji.
Lewat hape itu, pria tua ini menghubungi orang suruhannya. Widia merebut hape Aji dari tangannya.
"Widia! Mau kau apakan hape ku?" Aji berteriak menyerukan nama istri ke duanya itu.
"Kamu terlalu fokus dengan bocah itu, kau tau apa akibatnya sekarang? Perusahaan hampir bangkrut mas! Dan sekarang kau mau membuang uang ku untuk membawa bocah itu ke sini? Untuk apa? Tidak ada gunanya mas!" Widia hendak membanting hape itu ke lantai.
Hap.
Aji lebih dulu mengganggam tangan Widia dan membawanya dalam dekapannya.
"Maaf kan aku sayang, tapi kali ini aku akan berhasil membuat perekonomian keluarga kita kembali stabil bahkan lebih dari sebelumnya." Aji mengusapkan punggung Widia dengan tangannya, memberikan rasa ketenangan untuk wanita yang sudah menemaninya setelah kematian Prita.
Widia mengendurkan pelukan Aji, "Apa maksud mu?" Tanya Widia.
"Aku ingin kepastian bahwa wanita yang di sembunyikan Pram adalah istri nya atau bukan!" Seru Aji.
"Lalu apa untungnya dengan mu?" Tanya Widia lagi.
"Ayo lah sayang, Pram menikahi gadis di bawah umur, ini tidak akan baik untuk reputasinya." Terang Aji.
"Jadi kau mau menghancurkan nama baik Pram?"
"Tentu saja tidak, jika dia mau menyuntikkan dananya pada perusahaan kita, sayang!" Aji mengecup pipi Widia dan tangannya berhasil merebut hape miliknya yang ada dalam genggaman Widia.
Widia mengerutkan keningnya, "Apa cara ini akan berhasil?"
"Kita kan belum mencobanya." Ujar Aji.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak serahkan semua itu pada Daren?" Tanya Widia lagi.
Aji membuang nafasnya dengan kasar, "Sampai sekarang saja yang Daren tahu gadis itu hanya lah kekasih Pram... aku yakin ada hubungan yang spesial antara gadis itu dengan Pram, berdasarkan bukti yang ada tapi jika hanya dengan bukti foto saja itu kurang meyakinkan, setidaknya aku harus mendapatkan bukti jika mereka sudah menikah atau apa pun itu." Aji mengepalkan tangannya, jika saja orang ku berhasil membawa gadis itu ke hadapan ku, akan sangat mudah untuk ku membuat Pram bertekuk lutut. Jika saja Prita masih hidup, pasti tidak akan sesulit ini.
"Ayo lah mas, kau tau kan... Pram itu dekat dengan beberapa model, kau bisa gunakan mereka untuk mendapatkan informasi apa pun yang kau perlukan." Ujar Widia dengan santainya.
"Kau tidak mengenel Pram rupanya, sayang!"
Widia menatap sebel Aji, tidak sudi aku mengenal anak itu, percuma dulu aku menyingkirkan Prita jika akhirnya tidak ada gunanya pria tua ini benar benar menyebalkan.
Widia pergi meninggalkan ruang kerja Aji dengan menutup pintu secara kasar.
Brakk.
πDi tempat lainπ
Haikal mengemudikan mobil yang akan mengantarkan Naira ke sekolah setelah itu mengantar Pram ke markas.
"Ah kaka kenapa gak langsung ke kantor aja sih di antar bang Haikal? Gak perlu tuh yang namanya nganter aku segala, ribet tau!" Gerutu Naira yang tengah duduk di pangkuan Pram dengan menyandarkan punggungnya pada dada bidang Pram.
"Aku hanya ingin mengantar mu!" Seru Pram dengan santai memainkan anak rambut Naira sedangakan tangan satunya memeluk pinggang Naira dengan posesif.
Novi, Serli dan Elsa berada di mobil yang lain bersama dengan Dega yang menjadi supir. Sedangkan Naira yang ingin ikut satu mobil dengan sahabatnya di larang keras oleh Pram, Pram berfikir jika Naira lebih lama lagi berada dekat dengan sahabatnya akan semakin hancur tingkahnya terhadap Pram.
Pada hal mah emang dasarrrnya Naira yang kadang lagi eror suka jahilin Pram yang sok tegas, sok galak, sok kejamm padanya.
"Sejak kapan kaki mu pulih?" Tanya Pram mengalihkan perhatian Naira.
"Sejak kemarin." Naira menegakkan duduknya, "Oh iya bang Haikal... orang yang kemaren menyerang, bang Haikal apakan?" Tanya Naira.
"Belum kami apa apakan, Nona."
"Memang biasanya di apakan, bang?"
"Antara masuk rumah sakit atau kuburan."
"A- apa? Yang bener aja, kuburan? Itu sama aja dengan menyabuttt nyawa, bang Haikal gak boleh kaya gitu, orang itu berhak lo buat hidup." Oceh Naira yang berfikir perkataan Haikal keterlaluan jika orang yang menyerangnya kemarin sampai harus masuk kuburan sama saja dengan matiii.
__ADS_1
Pram menggelengkan kepalanya, ternyata istri kecil ku lebih tertarik dengan orang yang menyerangnya, ketimbang berbicara dengan ku!
Haikal melirik Pram lewat kaca spion mobil, tapi Pram tidak memperdulikan tatapan Haikal, Pram lebih memilih untuk memperhatikan Naira yang tengah penasaran dengan apa yang akan terjadi pada orang orang yang sudah menyerangnya kemarin.
"Maaf kalo itu saya tidak bisa menjawab, Nona." Ah sialll, kenapa bos Pram dari tadi hanya diam mendengarkan, bukannya menjawab pertanyaan Nona.
"Kenapa mereka menyerang kita kemaren, bang?" Tanya Naira dengan penasaran.
"Mereka orang suruhan Tuan besar Aji, Nona." Terang Haikal.
"Tuan besar Aji? Siapa itu?" Naira menatap Haikal dari kaca spion mobil.
"Biar Tuan yang menjawab pertanyaan Nona Muda." Ujar Haikal yang tidak berani menjawab pertanyaan Naira.
Naira menoleh ke arah Pram, "Kaka mengenal orang itu? Aji, kaya gak asing ka!" Tanya Naira dengan wajah yang berfikir.
Pram menarik pinggang Naira hingga tubuh Naira kini merapat lagi pada dada bidang Pram, bibir Pram mendekat di telinga Naira, "Apa yang aku dapat jika ku jawab pertanyaan mu?"
Naira mengerdikkan geli saat hembusan nafas Pram menyeruak di telinganya.
"Ka, geli ih!" Naira mencubit perut Pram.
Tangan Pram menggenggam tangan Naira yang tadi di gunakan untuk mencubit perutnya yang sispeck.
"Cubit aku dengan cinta mu!" Gumam Pram, yang kemudian mencium jemari Naira.
"Ihs, gombal... ka Pram jawab pertanyaan ku... Aji itu siapa? Orang yang kemaren menyerang jangan sampai ke hilangan nyawa, biar gimana pun mereka pasti punya keluarga yang menanti kepulangan mereka di rumah." Terang Naira panjang lebar.
"Aji itu ayah ku, ayah yang sudah membuang ku, orang yang sudah ku anggap mati." Terang Pram dengan mata yang tajam menunjukkan kemarahan dan kebencian yang sudah lama terpendam.
Tangan Naira terulur menyentuh dada bidang Pram, "Sebenci apa pun ka Pram sama ayah Aji, dia tetap lah ayah kandung mu ka, tanpa ayah... tidak akan ada yang namanya Pramana Sudiro, tanpa ayah pula ka Pram tidak akan jadi seperti ini kan?" Ujar Naira dengan tatapan teduh menatap Pram, mencoba menyelami hati Pram yang luka.
Pram membuang wajahnya dari Naira, "Dia bukan lagi ayah ku! Tau apa kau soal ayah?" Jika saja ayah percaya pada ku, mendiang ibu pasti tidak akan seperti ini, wanita ular itu tidak akan mungkin bisa menggantikan posisi mendiang ibu.
...πππππ...
Salam manis author gabut
__ADS_1
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen π