Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Menolak kenyataan


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


"Bu mau es teller nya 5 porsi ya!" Ujar Naira sedangkan yang lain langsung menghampiri Haikal.


"Dor!"


"Uhuk uhuk uhuk."


Novi yang kadar jahilnya sedang meningkat mengagetkan Haikal dengan menepukkan satu tangannya ke punggung Haikal dengan keras.


"Maaf maaf paman, kirain paman gak bakalan kaget! Maaf ya paman ganteng!" Novi menepuk nepukkan tangannya pada punggung Haikal dengan pelan dan penuh perasaan.


Haikal beranjak dari duduknya sedangkan yang lain dengan wajah tegang melihat wajah Haikal yang tampak marah dengah wajahnya yang memerah.


Haikal menatap tajam Novi dengan tangan yang mengepal, bocah plangton ini lagi, benar benar minta di beri pelajaran ini bocah!


Novi mengerutkan keningnya saat Haikal diam tidak bergeming, matanya menatap celana Haikal yang basahhh terkena semburan air dari tersedaknya Haikal.


Wah celana paman basahhh ini, alamat kedinginan ama es, "Tisu Ser, tisu!" Seru Novi meminta Serli mengoper tisu yang ada di depannya.


Serli menyodorkan tisu pada Novi.


Dengan beraninya Novi mengelap celana bagian senjatanyaaa Haikal yang basahhh karena es teller yang membasahinya tadi.


Mata Haikal membola menatap apa yang di sentuh Novi, sialannnn bocah plangton bangunin senjataaa gw! Haikal mengerang.


"Ko bukannya pada duduk?" Tanya Naira yang baru saja ikut bergabung dengan yang lain.


Naira mengikuti arah pandangan Haikal, "Lo ngapain, Nov? Itu areaaa terlaranggg lo!" Celetuk Naira.


"Haaaa? Apaan, Nai?" Tanya Serli dengan polosnya.


Haikal geleng geleng kepala, bisa gila gw, "Saya ke toilet dulu, Nona!" Haikal berlalu dengan langkah yang cepat menarik serta pergelangan tangan Novi.


Seperti kucing anggora, Novi mengikuti langkah kaki Haikal yang menarik tangannya tanpa permisi.


Aiiiih gw berasa lagi di bawa terbang ama malaikat, gumam Novi saat semua mata menatap padanya dan Haikal.


"Wuuuuuu!" Sorakan di layangkan pada Novi saat Haikal dan Novi melewati kerumunan siswa.


"Di mana toiletnya?" Tanya Haikal tanpa menoleh pada Novi.

__ADS_1


"Di depan, belok kanan paman." Ujar Novi yang memberi tahu arah toilet sekolah.


Haikal menghentikan langkahnya dan membaca papan bacaan, "Toilet putri? Yang benar saja, masa gw harus masuk ke dalam! Maksud lo apa bocah plangton?" Haikal menatap tajam pada Novi.


"Lah kan paman sendiri yang tanya toilet, lah ya itu toiletnya paman." Jari telunjuk Novi menunjukkan ke arah toilet yang ada di depannya.


Haikal menggaruk kepalanya dengan frustasi, "Maksd gw toilet putra, di mana toilet putra?" Tanya Haikal dengan tegas.


"Oh kirain toliet putri, hehehe masih ada di depan paman, jalan terus nanti di pertigaan belok kiri." Terang Novi, paman Haikal kalo lagi marah makin gemes deh.


Haikal langsung pergi meninggalkan Novi, Novi yang seperti terhipnotis malah mengikuti langkah kaki Haikal dan menunggu Haikal di depan toilet putra.


Haikal membersihkan celanaya di bilik toilet putra, dia pikir Novi akan kembali ke kantin bersama dengan Nona Muda-nya Naira.


Ceklek.


"Apa yang kau lakukan bocah plangton?" Haikal memundurkan langkahnya saat Novi terus maju di depannya hingga jarak mereka semakin dekat.


Bruk.


🍁 Sementara di kanting.


Mereka menikmati es teller yang di pesan Naira.


Naira mengerdikkan bahunya, "Mana gw tau."


"Lo sama bang Haikal bakal ke kedei gak, Nai?" Tanya Elsa.


"Kayanya gak deh, secara dikit lagi ka Pram pasti pulang kantor. Gw harus lebih dulu nyampe di rumah sebelum ka Pram." Terang Naira yang belum tahu jika Pram ada di depan gerbang sekolah menunggunya pulang.


"Udah lo biar ke kedei bareng gw aja, Sa." Ujar Juni yang tengah makan bakso di meja sebelah.


"Oke lah kalo gitu... terus Novi gimana?" Tanya Elsa lagi.


"Ah dia mah gampang, ada gw... tar sekalian gw minta pak Mamat buat nganterin Novi dulu ke kedei, baru deh gw balik." Terang Serli.


"Btw ko gw tadi gak liet Daren sama Ratna ya buat pendalaman materi!" Seru Naira.


"Ihs kalo Daren udah balik dari sebelum bel istirahat berakhir, kalo Ratna paling cabut ke mall." Ujar Sopur.


"Ngapain ke mall, nongki?" Ceketuk Juni.

__ADS_1


"Yah biasa kali, ada job." Terang Sopur.


"Job? Ratna kerja di mall? Jadi apaan? Ko gw baru tau sih!" Serli menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Hehehe, ada deh pokonya kerjaannya Ratna... nanti kalian juga kalo lagi pas ketemu bakal tau dia ngapain di mall." Sopur terkekeh kikuk, job nemenin om om berperut buncit yang kantongnya tebel, biar kalian tahu sendiri aja lah.


Naira menatap curiga pada Sopur, dengan tangannya menyuapkan es teller ke dalam mulutnya, apa yang waktu itu gw liet beneran Ratna ya? Ah mungkin itu sodaranya kali tapi ko mesra, iiih mikir apa sih gw.


Naira tidak ambil pusing dengan asumsinya pada Ratna yang pernah di temuinya di mall tengah bersama dengan pria tua berjalan dengan mesra dengan sesekali pria itu mengecup bibir Ratna, jelas bukan hubungan biasa.


Di dalam mobil, Pram terus saja memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Kenapa Haikal belum kembali juga? Ini hampir setengah lima." Gumam Pram yang sudah mulai gusar.


πŸ‚Di rumah sakitπŸ‚


Tap tap tap


Brak.


Daren membuka pintu ruang IGD dengan kasar.


Daren berdiri dengan ngos ngosan di depan pintu IGD tempat di mana Widia berada.


"Apa yang terjadi pada mama?" Tanya Daren dengan melangkah ragu melihat sosok yang terbaring di ranjang rawat dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh pasien.


Aji yang berdiri di dekat ranjang rawat dengan satu tangan yang melingkar di perut pasien berkata dengan suara yang bergetar, "Mama mu, sudah --"


Daren menggelengkan kepalanya dengan bulir bening yang merembas membasahi pipinya, "Gak mungkin, itu bukan mama." Terang Daren.


Aji menegakkan berdirinya dan mengulurkan tangannya pada Daren, "Lihat lah untuk yang terakhir kali wajah mama mu, nak!" Terang Aji.


Aji menyingkap selimut yang menutupi wajah pucat Widia saat Daren sudah berdiri di samping ranjang rawat.


"Ini bukan mama!" Seru Daren menolak kenyataan yang berada di depannya bukan lah Widia, wanita yang sudah membesarkannya dan sudah memberikannya kasih sayang layaknya seorang ibu pada putranya.


Daren memeluk tubuh Widia yang tidak lagi bernyawa, Daren menangis menumpahkan rasa sedihnya dengan sesekali berkata, "Maafin Daren mah, bangun mah... ini Daren mah, mama udah janji untuk terus berada di samping Daren, bangun mah!" Bangun mah, Daren ingin mama terus ada bersama dengan Daren.


Di depan Daren, Aji bersikap tegar menghapus air matanya sendiri, "Sudah lah, mama mu tidak akan kembali bersama dengan kita, kau itu anak yang kuat... kau harus membantu ku untuk menjatuhkan Pram, kita akan menguasai hartanya bersama, kau akan ku angkat menjadi direktur di perusahaannya kelak." Terang Aji.


Daren mengepalkan tangannya, menatap tajam pada Aji, "Mama ku belum kau kubur, kau sudah kenatakan soal harta? Harta, tahta, apa lagi yang kau cari di dunia ini, ayah? Apa nyawa mama ku tidak berarti di mata mu?"


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...

__ADS_1


Salam manis author gabut


Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen


__ADS_2