
...💖💖💖...
Haikal membatin, sialll kenapa jadi Nona yang bertanya pada ku?
"Kenapa diam, bang? Aku kan sedang bertanya dengan mu!" Oceh Naira.
"Maaf Nona, biar Tuan saja yang menjawabnya. Saya tidak berani berkata mendahului Tuan." Ucap Haikal.
Naira berseru dengan suara manjanya, "Ka Pram!"
"Nanti kau akan tahu, sayang!" Pram mengecup pucuk kepala Naira. Merekatkan tangannya di tubuh Naira dengan erat.
"Mulai ya sekarang nih! Maen rahasia rahasiaan!" Naira mengarahkan tatapannya pada jalan, "Kita mau ke kedei?" Tebak Naira dengan wajah berbinar pada Pram.
"Yaaah gagal dong, aku untuk memberikan kejutan pada mu!" Pram mengerucut kan bibirnya, berpura pura sedih di depan Naira.
"Eh kenapa bisa begitu?"
"Bisa saja, kan aku yang punya rencana untuk mu!" Ucap Pram dengan memalingkan wajahnya dari Naira.
"Ya ampun, ada apa dengan bos mu ini bang Haikal?" Tanya Naira pada Haikal, yang merasa ada sikap yang aneh dengan Pram.
"Maaf Nona, Nona bisa tanyakan sendiri pada Tuan." Tanpa menjawab pertanyaan Naira, Haikal malah membuat bingung Naira.
"Ka!" Kini gantian Pram yang tidak menghiraukan seruan dari Naira.
Mobil berhenti tepat di depan parkiran kedei. Haikal ke luar membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
Naira dan Pram ke luar dari mobil, di ikuti Haikal yang berjalan di belakangnya.
"Sore, Nai!" Sapa Mega yang berada di belakang mesin kasir.
Pram mendudukan dirinya di salah satu sofa doubel. Sedangkan Naira langsung menghampiri Mega, Haikal mendaratkan tubuhnya di kursi yang dekat dengan pintu masuk kedei.
Haikal tersenyum, mana kala gadis yang menjadi tambatan hatinya, ke luar dari dapur dengan wajah senang.
Novi melambaikan tangannya, saat melihat Haikal sedang menatap ke arahnya.
"Lo cantik banget, Nai!" Sanjungan ke luar begitu saja dari bibir Mega, saat Naira mendudukan dirinya di samping Mega.
"Ah lo bisa aja deh, Mega!" Tatapan Naira mengarah pada 2 gadis remaja, yang tengah mencatat orderan pengunjung di meja yang berbeda.
Mega yang melihatnya pun langsung memberi tahu Naira, "Itu karyawan baru, lagi di training." Mega menjelaskan sebelum Naira bertanya.
"Bawaan lo, Mega?" Tanya Naira.
"Bukan, bawaannya Rion sama Ayu." Terang Mega.
"Owh." Naira hanya ber oh ria.
"Kalo lo gak setuju, itu anak gak bakal di terima ko." Ujar Mega.
"Itu mah kalian atur aja, kalian yang lebih tau lapangan ko." Naira beranjak dari duduknya.
"Lo mau ke mana, Nai?" Tanya Mega.
"Biasa, dapur!" Ucap Naira.
"Aji gila... cantik banget lo, Nai!" Seru Novi yang berdiri di depan jendela dapur.
"Hahaha, makasih. Lo gak mau nyamperin, bang Haikal? Rugi lo! Di anggurin!" Ledek Naira yang melangkah masuk ke dapur, menghilang saat pintu tertutup.
"Ka, ini!" Lusi menyerahkan kertas order pada Mega, dan berlalu ke arah jendela dapur.
Saat menyerahkan orderan pada Angga, tatapan matanya beradu pada Naira yang tersenyum padanya, siapa itu cewe? Cantik banget.
"Ka, itu yang baru dateng gak di layanin? 2 orang itu loh, malah cakep cakep lagi ka! Boleh juga itu ka, kalo di deketin mah, hehehe." Tanya Lusi pada Novi, dengan tatapan matanya yang mengarah pada Pram dan Haikal.
__ADS_1
Sedangkan Pram dan Haikal, sama sama menyilangkan ke dua tangannya di depan dada. Entah apa yang di perhatikan Pram, di balik kaca mata hitamnya yang menutupi mata elangnya.
"Hush... jangan aneh aneh deh. Udah ada yang punya itu kaya gitu juga." Sungut Novi.
"Siapa yang punya ka? Ka Novi tau?" Tanya Lusi lagi.
"Kalian lagi ngomongin apa si? Kepo dong kepo." Oceh Okta yang kini bergabung pada ke duanya.
"Kasih dulu itu orderan ke bang Angga! Tar di marahin lo!" Novi mengingatkan juniornya.
"Oh iya, lupa. Gara gara ada cowo keren sih! Jadi mengalihkan perhatian ku, hahaha." Okta tergelak dengan perkataannya, sesekali melirik ke arah Pram dan Haikal duduk.
Novi geleng geleng kepala, makin lama paman ayang sama pak Pram di sini, bakal makin kacau ini kerja bocah berdua.
"Bang, orderan baru." Ucap Okta, dengan menarik sudut bibirnya, pada wanita yang mengambil orderan yang ia berikan pada Angga.
"Ada karyawan baru ya, Novi?" Tanya Okta.
"Karyawan baru? Lo berdua yang karyawan baru. Emang ada lagi?" Novi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu yang di dalam!" Tebak Okta.
Lewat jendela penghubung dapur dengan depan kedei, Naira mendorong dua gelas minuman yang berbeda ke depan.
"Ice lemon, hot coffee." Ucap Naira yang membuat Lusi dan Okta menoleh ke arah jendela dapur.
Ke duanya pun, lantas mengantarkan minuman itu, ke meja yang tadi mereka order.
"Pokonya nanti abang atur aja, enaknya gimana. Nai ke depan dulu ya, nemenin ayang beb." Ucap Naira dengan mendorong ke depan apa yang akan ia bawa ke mejanya.
"Ok, makasih ya Nai. Naira udah percaya sama abang." Ucap Angga.
"Iya bang."
"Nai, oleh oleh jangan lupa ya Nai. Kalo jadi pergi perpisahan sekolah." Oceh Rion.
"Ini di antar ke meja lo kan, Nai?" Tanya Novi dengan tangannya yang membawa nampan berisikan hot red velvet latte, ice cappucino, hot americano.
"Betul banget." Oceh Naira, "Biar gw aja Nov yang bawa." Ujarnya lagi.
Novi berucap sambil tergelak, "Udah biar gw aja, udah lo sana jalan duluan. Gw kan pengen sekalain ngobrol dikit sama paman ayang hahaha."
"Bisa aja, lo!" Naira berjalan lebih dulu, dengan di ikuti Novi yang berjalan di belakangnya membawa nampan.
Di saat Naira akan mendaratkan bobot tubuhnya, di sofa yang ada di depan Pram, Pram memberi perintah dengan menepukkan tangannya pada sofa yang ia dudukinya.
Naira mendengus, "Ihss sama aja juga?" Naira mengurungkan niatnya dan memilih duduk di samping Pram, tempat yang di inginkan Pram.
Pram melepas kaca mata hitamnya, dan menyelipkan nya di saku kemejanya yang tertutup jas.
"Ini pak, minuman favoritnya." Novi menaruh cangkir minuman Pram dan minuman Naira di atas meja.
"Hem." Gumam Pram.
"Pak, betah kaga pak... nanti bakal di tinggal 3 hari lo pak sama Naira ke puncak hahaha." Novi meledek Pram dengan melangkah ke belakang, menaruh secangkir minuman untuk sang pacar, Haikal.
"Karyawan mu itu sudah berani ya, sekarang meledek ku!" Sungut Pram dengan merekatkan tangannya di pinggang Naira.
"Ihs kaka, kaya baru tau Novi aja sih!" Naira mengambilkan minuman untuk Pram dari atas meja, lalu memberikannya pada Pram.
Sedangkan Novi menatap lekat wajah tampan Haikal, yang menyeruput minumannya dengan perlahan.
"Cowok gw makin keren aja da'ah. Paman ayang, nanti bakal kangen gak kalo eneng Novi ini, emm perpisahan di puncak." Ujar Novi.
Haikal mengerutkan keningnya, "Kangen? Untuk apa aku kangen? Pekerjaan ku juga banyak di sini!" Kilah Haikal.
"Enak ka?" Tanya Naira setelah menyerukut minumannya.
__ADS_1
"Selalu enak, ini pasti buatan mu!" Tebak Pram.
Naira mengerutkan keningnya, "Ko tahu?"
"Karena ada cinta di minuman ku." Ujar Pram.
"Astaga ka Pram, mau ngerayu? Lidah kaka kaku banget." Ledek Naira dengan menahan tawa, membuat pipinya langsung bersemu.
Pram menatap tajam Naira, bicaranya berubah menjadi tegas dan serius, "Apa yang tadi kau bicarakan di dapur?"
Naira terperangah dengan perubahan Pram, "Ha?"
"Jawab aku, sayang! Apa yang kau bicarakan pada karyawan mu di dapur?"
"Aku hanya membahas kedei, ka. Meminta bang Angga dan Rion, untuk saling bekerja sama buat ini kedei. Kan nanti mau aku tinggal perpisahan di puncak." Terang Naira.
"Tidak ada yang lain? Di dapur, kau bersama dengan siapa saja?" Tanya Pram dengan sorot mata yang menyelidik.
"Ada aku, Rion, bang Angga dan Mita." Ucap Naira.
Pram beranjak dengan membawa serta Naira, menggenggammm pergelangan tangannya, mana mungkin ada Mita, siapa itu Mita? Setahu ku, hanya ada laki laki di dapur yang selama ini bekerja di sana.
"Apa yang kaka lakukan? Ka!" Naira bertanya pada Pram.
Novi menatap Haikal, "Ada apa dengan bos mu, paman ayang?"
"Kau diam saja dan jangan ikut campur!" Ucap Haikal dingin, apa Tuan sedang cemburu ya?
Mega, Lusi, Okta, Juni yang melihat nya di buat ternganga dan heran.
Ceklek.
Pram membuka pintu dapur, mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang di sebutkan Naira.
"Hai pak! Baru aja saya akan menghampiri meja bapak." Ucap Angga dengan tangannya yang sedang menyajikan roti kukus di piring.
Sedangkan Rion tengah menggoreng singkong dan kentang.
Pram menatap tajam Naira, "Apa kau sedang membohongi ku, sayang!" Seru Pram dingin.
"Bohong apa?" Tanya Naira yang masih bingung dengan Pram.
Suara wanita dari dalam gudang terdengar, "Bang Angga, roti buat burger di ambil satu pack aja ya!"
"Boleh, Mit!" Seru Angga.
Pram semakin mengerutkan keningnya.
Mita ke luar dari gudang, dengan membawa roti burger 1 pack. Matanya langsung tertuju pada Naira dan pria berjas hitam.
"Waah, ini pasti suaminya bu Naira ya? Ya ampun gateng banget." Oceh Mita dengan membuka bungkusan plastik roti burger, dan siap memanggangnya.
"Mit, sekalian ya... saya juga mau, doubel chess ya!" Ucap Naira.
"Beres bu Nai, kalo bapak... apa mau sekalian saya buatin juga?" Mita bertanya pada pria yang bersama dengan Naira.
"Tidak, buatkan untuk istri saya saja!" Ucap Pram dingin, "Angga, saya mau bihun goreng pedas!" Ujarnya lagi, yang lantas membawa Naira kembali ke luar dari dapur, tangannya semakin erat menggenggammm tangan Naira.
"Apa kaka sedang tidak percaya pada ku?" Tanya Naira, saat ke duanya sudah ke luar dari dapur.
...💮💮💮💮💮...
......................
...💖 Bersambung 💖...
Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊